Monday, October 30, 2006

Sebuah Teguran Dari Allah

Sebuah kejadian hikmah ini bermula ketika aku mencabut gigiku di Rumah Sakit tempatku bekerja. Aku memang mengalami gangguan kesehatan pada gigiku waktu itu. Gigiku berlubang, dan tidak bisa dipertahankan lagi sehingga harus dicabut. Dengan bermodal sedikit keberanian dan kepasrahan pada Allah, akhirnya aku memberanikan diri untuk mencabut gigi. Ya, karena memang aku tahu bahwa rasanya akan sakit sekali. Ya, mungkin para pembaca pada heran, kok perawat takut sama jarum suntik ? Yah, memang begitulah adanya, aku memang jarang berobat, jarang minum obat, apalagi disuntik ! Karena setahuku, kebanyakan efek obat itu hanya menghilangkan gejala, bukan rekonstruksi (membangun kembali anggota tubuh yang sakit), so, aku hanya mengandalkan kekuatan sugesti alias mental untuk melawan penyakit. ; )

Singkat cerita, aku memberitahukan kepada teman kerjaku di Poli Gigi tentang sakit gigiku itu, dan dia memang menyarankan untuk mencabut gigiku yang sudah berlubang. And then prosesi mencabut gigi pun dimulai. Semua persiapan telah selesai, jarum suntik, obat bius, kapas, berbagai instrument untuk mencabut gigi, lampu penerangan, dan air untuk berkumur.

Aku terus menguatkan mental dan berdo'a, semoga Allah memberiku kekuatan. Cukup menegangkan juga, karena dulunya, ketika aku masih kecil, aku memang pernah mencabut gigi, dan rasanya sakiiiit sekali. Ketika temanku mulai mempersiapkan jarum suntik untuk membiusku, aku bergidik. Namun, tekadku sudah bulat, aku harus tahan, aku harus kuat, aku harus keluar dari masalah 'sakit gigi' yang kerap kali menghambat aktifitas-aktifitas pentingku. Aku terus berdoa dan berzikir, serta meminta kemudahan pada Allah.

Bismillah … dan sang perawat pun menyuntikkan obat biusnya. Sesaat setelah jarum suntik dimasukkan ke gusiku, terasa agak sakit. Tapi, aku rada aneh, kok sakitnya gak terlalu terasa ya, alhamdulillah. Setelah dibius, aku disuruh menunggu dulu sampai obat biusnya bekerja. Setelah bibir, lidah, dan pipiku terasa menebal, gigiku pun dicabut. Rasanya tidak sakit karena memang sudah dibius. Finally, alhamdulillah prosesi 'mencabut gigi' pun berjalan dengan lancar. Aku diberi obat supaya mempercepat proses penyembuhan gusiku. Alhamdulillah Allah memberiku kemudahan, pun masalah keuangannya, karena aku bekerja di rumah sakit itu, maka semua pelayanan pada pegawai digratiskan. Alhamdulillah.

Pasca 'mencabut gigi', aku 'puasa' makan atau pun berbicara. Seharian aku merasa tidak enak karena tidak bisa makan, tidak bisa berbicara, gusiku pun masih terus mengeluarkan darah sehingga aku harus sering bolak-balik ke kamar mandi untuk berkumur. Ditambah lagi rasa sakit yang mulai terasa karena efek obat biusnya makin lama makin berkurang. Sorenya, darah yang mengalir mulai berkurang, aku pun mencoba melepaskan kapas yang menutupi dan mengganjal gusiku. Dan alhamdulillah darahnya sudah agak mengental sehingga tidak mengalir begitu banyak. Aku berwudhu dan menunaikan sholat ashar. Ya, walau dengan pelafalan yang kurang sempurna karena gusiku masih mengeluarkan darah, aku masih bisa sholat dengan khusyu'.

Aku mulai mencoba berbicara, walau terasa agak sakit. Karena memang pembiusannya tadi di dua area, yaitu area sekitar gusi gigi yang dicabut dan area gusi belakang dekat tenggorokan (karena gigi yang dicabut memang gigi geraham nomor dua dari pangkal tenggorokan). Namun, aku menangkap sesuatu yang aneh pada suaraku. Suaraku menjadi tidak normal ! Aku terkejut, tapi aku terus berprasangka baik, 'ah, mungkin ini disebabkan karena masih ada efek obat bius'. Namun, lama-kelamaan, aku mulai merasa sangat aneh pada suaraku, aku tidak bisa berbicara dengan jelas, aku tidak mampu berkata dengan normal ! Setiap kali aku mencoba berkata sesuatu, kata-kata yang keluar adalah suara yang sumbang. Aku tiba-tiba tidak bisa menyebutkan vokal yang mengandung huruf-huruf ng, k, g, dll. Masya Allah !!! Aku terkulai.

Ya Allah benarkah ini terjadi ? Mungkinkah ini takdirMu Ya Rabb ? Mungkinkah ini teguran Allah ? Aku berpikir keras bagaimana jadinya jika aku tidak bisa berbicara seperti layaknya orang normal. Bagaimana jadinya jika memang benar-benar seperti itu adanya kelak ? Bagaimana aku bisa melatih tim nasyidku ? Padahal aku terkenal sebagai akhwat yang pandai bernasyid. Aku terus saja memikirkan kejadian-kejadian terburuk yang akan kuhadapi jika aku tak bisa berbicara secara normal. Tapi, kulawan diriku. Kuusahakan untuk tetap berprasangka baik pada Allah sambil berpikir kenapa Allah menjadikan hal ini padaku. Aku mulai merenung, Ya Allah, apakah karena selama ini aku jarang menyebut namaMu dengan lisan ini ? Ataukah karena aku tidak memaksimalkan nikmat lisan yang kau berikan untuk mengajak orang lain untuk menapak di jalanMu ? Atau mungkin karena selama ini aku tidak berani dalam menyuarakan kebenaran sehingga Engkau ambil nikmat lisan itu dariku ? Ataukah karena aku terlalu banyak berbicara yang sia-sia, berlebih-lebihan dalam bernasyid sehingga melupakan dzikir yang merupakan benteng keimanan … ? Astaghfirulllah … astaghfirullah … astaghfirullah … Ya Allah, ampuni aku. Ya Allah, betapa selama ini aku tidak pandai menyukuri nikmatMu.

Ya Rabb, tolong jangan ambil nikmat lisan itu dariku Ya Rabb … Aku terus saja menyesali diri, beristighfar, berdo'a. Lalu, kupaksakan untuk berbicara dengan jelas. Tapi, terasa sangat sakit, dan suaraku masih sumbang. Ya Allah, aku benar-benar merasa tidak berdaya. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Diriku memang tidak berdaya tanpa kekuatan dan pertolongan dariMu Ya Allah … Aku terus berusaha mengeluarkan suara secara normal. Kutahan tenggorokanku, kutahan bibirku yang masih terasa agak tebal, dan kukeluarkan suara. Alhamdulillah, suaraku yang asli terdengar, walaupun aku harus dengan susah payah dan merasa sakit di tenggorokan saat melafalkannya. Aku terus berkata, terus berucap kata-kata apa saja untuk memperlancar pelafalanku. Kucoba dan kucoba lagi, walaupun rasa sakit di tenggorokan amat mengganggu, aku tetap berusaha berkata dengan jelas.

Lama-kelamaan, alhamdulillah aku mulai bisa berkata dengan jelas, ya walaupun dengan rasa sakit yang masih mencekik di tenggorokan. Ya Rabb, segala puji bagiMu. Sungguh, nikmat itu memang akan sangat terasa ketika nikmat itu dicabut oleh Allah. Sebuah bait nasyid terngiang di telingaku, "Apa yang ada jarang disyukuri, apa yang tiada sering dirisaukan. Nikmat yang dikecap baru kan terasa, bila hilang…" Ya Rabb, terima kasih atas teguranMu.

Sungguh banyak sekali hikmah yang kudapat dari pengalamanku di atas. Bahwa setiap nikmat yang diberikan oleh Allah, ada hak-haknya yang harus ditunaikan. Ketika kita diberi nikmat lisan, maka kita harus memaksimalkan nikmat itu untuk menjadi manfaat, menjadi ladang amal kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Terkadang kita mengabaikan dan menyepelekan nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita. Kita menjadi sadar, hanya ketika kita sudah mendapat 'teguran' dari Allah. Alangkah nikmatnya jika kita sadar sebelum segala konsekuensi buruknya terjadi. Tetapi, untuk menyadari itu tidaklah mudah, tidak semudah mengatakannya ataupun menuliskannya, perlu menyelami lautan yang ada di dalam diri kita sendiri. Semoga kita mampu memaksimalkan potensi nikmat apapun yang Allah berikan pada kita. Wallahu'allam bishawab.

1 comment:

ardi susanto said...

Salam kenal mbak,memang yang dicabut tuh geraham yang lokasinya pas didepan geraham bungsu itu?kalau iya,pasti sakit sekali.btw kenapa dari dulu ga ditambal sih gi2nya?kalau gi2 yang lain gmn?apa ada yang lubang juga nih? wassalam