Sunday, November 01, 2009

  Bait Kelana Jiwaku (Bag. 1)

Teman, sebelum membaca tulisanku ini, ada baiknya kujelaskan sedikit. Sebenarnya, aku sungkan menceritakan kisah dan petualanganku, karena begitu banyak hal, peristiwa dan perjalanan yang bersifat pribadi. Tapi, karena *paksaan* dan motivasi dari teman-teman, insya Allah aku akan membaginya dengan kalian sebagai bahan sharing dan inspirasi. Tentunya, aku tidak bisa menceritakan semuanya secara detail karena ada hal-hal yang tak bisa kuceritakan di sini. At least, tulisan bersambung ini akan bisa menjadi ekspresi jiwaku yang sedang berkelana. Dan semoga, teman-teman sekalian dapat mengambil hikmah dan manfaat dari ceritaku, amiin. ;)

By the way, karena tulisan ini bersambung, mohon maaf dan harap bersabar ya... jika nanti kalian agak lama menunggu kelanjutannya. Maklum, saya menulis sesuai mood dan kehendak hati :D Selamat membaca ^_^

***


JAUH... DAN SEMAKIN JAUH

Pagar Alam, October 1st, 2009.

07.30 AM
Pagi ini aku pucat, sedih, pilu. Rasanya tidak mungkin aku akan meninggalkan Pagar Alam, sebuah tempat yang sangat kucintai, juga selalu kukagumi. Pagar Alam, tempat kelahiranku, tempat di mana aku dibesarkan, tempat di mana aku pernah merasakan pahit manisnya hidup, merasakan indahnya ukhuwah, merasakan semangat berorganisasi, merasakan indahnya hentakan irama hidupku, merasakan semuanya... Sungguh, ini adalah sebuah kenyataan yang pahit bagiku, karena sama sekali tak pernah terpikir olehku untuk pergi merantau ke pulau seberang, mencari diri... menemukan potongan-potongan mozaik hidupku yang mungkin telah tertambat di sana.

Dulu pernah tercetus dalam hatiku, "Ah, kenapa sih orang-orang pada suka merantau? Memangnya di kampung sendiri ga ada lahan rizki apa?" Tapi, sekarang aku seperti menjilat ludah sendiri, nyatanya aku pun merantau... Aku selalu berpikir, bahwa Pagar Alam adalah sebuah tempat yang begitu nyaman untuk ditinggali. Pagar Alam adalah sebuah kota kecil yang menakjubkan... Aku tidak melebih-lebihkan Pagar Alam karena ia adalah kota kelahiranku, bukan. Tapi, karena memang begitulah adanya. Pagar Alam adalah sebuah kota kecil yang terletak di bagian Selatan pulau Sumatera, berbatasan dengan Kab. Manna' Bengkulu Selatan, dengan atmosfer yang sangat bersahabat belum terjamah polutan, masyarakat pedesaan yang rata-rata mata pencahariannya petani dan pekebun, perkampungan penduduk yang dikelilingi bukit indah berlapis-lapis, Gunung Dempo yang tinggi indah menjulang dengan perkebunan tehnya yang menghampar seluas mata memandang, Sungai Lematang Indah yang sejuk dan jernih, puluhan air terjun yang menawarkan pesona keindahannya, udara yang bersih sejuk penuh oksigen, and so on...Ah, begitu menakjubkan...

Aku begitu gamang, bukan hanya karena akan meninggalkan Kota Pagar Alam. Tetapi, juga meninggalkan bisnis yang selama ini telah kurintis, kuliah dan organisasi kampus, amanah-amanah yang sebenarnya masih membutuhkan diriku, sahabat-sahabatku, keluargaku, orangtuaku, cita-citaku, semuanya...

Belum juga kaki ini melangkah ke luar rumah, rasa rindu itu telah mulai membuncah. Batinku menggumam, 'Ya Rabb... bantulah hamba mengatasi rasa rindu yang nantinya akan mendera diri ini'.

08.30 AM
Aku bersiap-siap. Ku coba menyingkirkan rasa-rasa yang membuat hatiku pedih. Ku coba menegakkan kepala, mengukir senyum, meneguhkan langkah. Setengah jam lagi adalah jadwal keberangkatanku, aku berharap... semoga semua yang kutinggalkan akan ikhlas menerima kepergianku ini.



09.00 AM
Petugas mulai mengecek barang-barang bawaan penumpang. Para penumpang dan keluarga yang mengantar saling berucap kata-kata perpisahan, tak lupa mengungkap kata-kata penyemangat dan doa. Sahabat yang mengantarku, ku lihat matanya mulai berkaca-kaca. Aku hanya terdiam, tersenyum dan membatin, 'Jangan kawan... jangan kau menangis di sini, nanti akan tumpah pula air mataku...' Ia menatapku lama dan dalam. Aku tahu ia sadar... bahwa aku pergi bukan untuk sebulan dua bulan. Aku pergi bukan pula untuk jalan-jalan, tapi menghadapi perjalanan dan petualangan yang penuh tantangan dan marahabahaya. Karena aku pergi sendirian, tak ada teman atau pun kerabat, hanya Allah SWT yang menemaniku. Walau gamang hatiku, aku yakin... Allah akan senantiasa melindungi dan menjaga hamba-hambaNya.

Perpisahan memang selalu menyisakan duka, walau hanya sementara, bukan berarti takkan bertemu lagi. Kami berpamitan, walau berat mengucap kata perpisahan. Lalu, ia menyodorkan sebuah amplop padaku. Aku sempat mengelak, namun aku tahu... dia pasti memaksaku untuk menerimanya, selain itu aku juga menyadari bahwa aku memang akan membutuhkannya di rantau nanti. Kuucapkan terima kasih, lalu kami berpelukan. Ia pun langsung pamit, karena ada urusan penting yang harus diselesaikan.

Beberapa saat kemudian, barang-barang penumpang mulai dinaikkan satu persatu ke bagasi bis, Bis Sinar Dempo yang akan menjadi rumahku di perjalanan selama dua hari dua malam menuju kota Yogyakarta. Para penumpang semakin memadati tempat parkir bis yang akan ditumpangi. Lalu penumpang mulai diabsen satu persatu sesuai dengan nomor kursi yang telah dipesan. Dan tibalah giliranku, sambil melangkah aku meneguh-neguhkan hati sambil menghela napas panjang, 'Ya Allah... kuatkan aku.'

Mentari pagi mulai meninggi, menghangatkan seluruh sudut kota Pagar Alam. Di tengah hiruk pikuk penumpang yang tengah sibuk mempersiapkan diri sebelum bis melaju, aku dilanda suatu sensasi yang sebelumnya tak pernah kurasakan. Aku dilanda sindrom seolah waktu berjalan begitu lambat. Sang supir mulai bersiap-siap, mesin bis mulai dinyalakan, dan aku begitu gamang... Pagar Alam akan segera kutinggalkan. Di luar bis ku lihat, para pengantar sedang berlambaian tangan sambil tersenyum kepada para kerabat dan keluarga mereka. Sekilas ada rasa sedih menyeruak... tapi lekas-lekas ku tepis, 'Tidak! Aku harus kuat! Allah will be by your side!' tegasku kepada diri sendiri.

Lalu bis pun mulai melaju, aku mengucap rangkaian do'a dan dzikir. Setiap tarikan nafas yang ku hirup terasa begitu berat, aku hanya bisa menikmati saat-saat terakhir melewati jalanan ini. Entah kapan aku akan kembali lagi ke sini. Semakin besar jarak memisahkanku dengan Pagar Alam, hatiku hampa. Aku hanya berusaha menikmati saat-saat terakhir hirupan udara segar Pagar Alam. Menatapi lekat-lekat pemandangan sawah hijau membentang yang kulewati, air terjun itu, bukit-bukit nan biru itu, jurang-jurang dan kelokan jalan yang indah itu, membuat hatiku semakin hampa. Sekonyong-konyong, tak terasa bumi Pagar Alam mulai hilang dari pandanganku, jauh... dan semakin jauh.

to be continued...

Labels: ,


Read more!

Saturday, October 24, 2009

  Jakarta, Maafkan Aku

Jakarta,
Aku tahu...
Dirimu telah penuh sesak
Ribuan orang telah datang berduyun-duyun padamu
Demi mencari prestasi
Demi mencari gengsi
Demi mencari sesuap nasi


Jakarta,
Aku tahu...
Begitu besar tantangan untuk menghadapimu
Temanku bilang, engkau lebih kejam dari ibu tiri
Aku juga tahu...
Sungguh tidak mudah untuk menaklukkanmu
Butuh kerja keras dan semangat tinggi
Serta pantang menyerah!



Jakarta,
Maafkan aku telah datang padamu...
Bukan ku bermaksud menambah sesak pendudukmu
Bukan pula karena ku ingin mencari sensasi

Aku hanya ingin mencari...
Mencari potongan-potongan mozaik hidupku
Menemukan kembali senandung jiwaku
Yang mungkin telah miskin arti
Mencari...
Hakikat diri...

***

NB : Akhirnya... alhamdulillah saya mengakhiri masa *hiatus* :) Di postingan selanjutnya, insya Allah akan saya kisahkan petualangan saya, mulai dari beratnya meninggalkan kota Pagar Alam tercinta, berpetualang di Yogyakarta, dan akhirnya Allah menghantarkanku ke ibukota. Buat teman-teman yang senantiasa men-support dan mendoakanku, Amhey (Plurker), Yohang, Alifahmi, Pradna, Mbak Mei , Indahonly, Au', dan Dhodie... jazakumullah khairan katsir... Hanya Allah Yang dapat membalas kebaikan kalian.

Labels: ,


Read more!

Tuesday, October 13, 2009

  Hiatus

Sehubungan dengan hal-hal penting bin urgen yang sedang saya urus,
butuh fokus dan konsentrasi tinggi, maka untuk sementara ini,
saya beristirahat sejenak...
Doakan saya temans, semoga saya cepat kembali...




Labels:


Read more!

Friday, October 09, 2009

  Hijrah...

:) Cukup lama off dari dunia blogging, lama tak memberi kabar, setelah satu fase cobaan hidup saya lalui... akhirnya.... *pfuiiih* lega sekali rasanya saat ini jemari saya moodnya sudah kembali untuk menuliskan beberapa paragraf di sini, setelah sekian lama ia tak asyik menari di atas keyboard. *tepatnya sih mood menulis yang saya paksakan harus kembali* :p

Mungkin ada di antara kalian yang telah mengetahui, bahwa sekarang saya telah hijrah ke Jogja, sebuah kota kecil apik nan manis. *setidaknya itu kesan pertama saya* Dan mungkin banyak pula yang bertanya-tanya, 'Kenapa sih Cici pindah ke Jogja? Mendadak pula!' :D

Ya... saya hanya bisa menjawab, 'Inilah skenario Allah...' Tak ada yang tak mungkin jika Allah menghendaki. Sungguh, tak ada yang dapat mencegah kuasa Allah.

Tapi yang pasti, dengan cobaan yang saya hadapi, saya merasa hidup ini lebih hidup. Saya benar-benar merasakan saripati hidup... Bagaimana mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai, bagaimana meninggalkan sesuatu yang sangaaat kita sayangi. Dan bagaimana pula untuk tegas menentukan pilihan, serta tetap teguh dengan pilihan tersebut, apapun konsekuensinya.

Saya yakin, cobaan adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya, salah satu ajang kenaikan tingkat di hadapan Allah. Saya juga yakin... bahwa di setiap cobaan... banyak sekali karunia Allah yang tersembunyi di dalamnya. Bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan hambaNya yang bersabar.

Saya jadi teringat sabda Rasulullah SAW, "Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Semua keadaannya bernilai baik baginya dan hal seperti ini tidak akan terjadi kecuali pada diri orang mukmin. Jika ia menerima kebahagiaan ia bersyukur, maka itu jadi kebaikan baginya. Dan jika ia menerima musibah ia bersabar, maka itu pun jadi kebaikan baginya." (H.R. Muslim) Subhanallah...

Maka, saya harus senantiasa berusaha untuk menambah porsi kesabaran itu, lagi dan lagi! Dan saya harus memompa semangat tak kenal henti, karena tak ada yang membuat saya bertahan kecuali semangat.

Walaupun setiap saat tanda tanya besar di kepala saya senantiasa menggantung, "WHY JOGJA???" Tapi saya yakin, suatu hari nanti, saya akan mengerti... kenapa Allah membuat saya hijrah ke Jogja.

Teman, mungkin saat ini hanya beberapa baris kalimat ini saja yang dapat saya tuliskan. Mudah-mudahan di waktu yang akan datang, saya akan bercerita kembali... tentang perjalanan pertama saya ke Jogja, tentang hal-hal unik yang saya temui di sini, dan sebagainya.

Dunia tak abadi, dan hidup memang tak pernah bisa kita duga. Kita hanya berencana, pada akhirnya Allah lah penentu hidup kita. Teman-teman yang pernah membaca kisah "Sang Pemimpi" atau "Edensor" tentu ingat kata-kata ini, "Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis. Namun, setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik." Subhanallah...

Labels: ,


Read more!

Friday, September 25, 2009

  Cobaan

Ia datang begitu saja
Begitu tiba-tiba
Seperti badai angin yang menghapus apa saja
Seperti guntur yang menggelegak
Seperti Tsunami
Yang menyakitkan hati
Yang menimbulkan derita yang menyayat
Yang menimbulkan luka


Aku tak tahu ini apa
Hanya saja aku yakin
Ini adalah cara Allah untuk mendidikku
Ini adalah cara Allah untuk menunjukkan kasih sayangNya

Walau berat...
'Kan ku coba tegakkan kepala
'Kan ku coba menahan air mata
'Kan ku coba melewatinya walau kegelisahan mendera

Walau sungguh berat...
'Kan ku coba pahami
Cobaan ini... adalah salah satu hal
Yang patut ku syukuri
Di antara nikmat-nikmat
Yang ku dapat hari ini

Ya Allah... Ya Rahman... Ya Rahiim...
Kuatkan hamba
Hamba tau, takkan Engkau memberi cobaan
Jika hamba tak sanggup memikulnya

Ya Rabb...
Bantulah hamba melihat jalan keluar
Melihat titik terang dari cobaan ini
Jangan biarkan hamba dihantui perasaan negatif
Jangan biarkan hamba berprasangka

Ya Aziiz, Ya Ghaffar...
Tenangkanlah hati hamba Ya Rabb...
Dalam kegamangan ini, hanya Engkaulah
Penenang hati...

*Yaa muqollibal quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinika wa'alaa tho'aatika. Wa a'uudzubi kalimaatillahit taammaati minsyarri maa khalaq*

Labels: ,


Read more!

Sunday, September 20, 2009

  Selamat Idul Fitri 1430 H


Taqabbalallahu minna wa minkum
Shiyamana wa shiyamakum
Minal a'idin wal faidzin



Faith makes all things possible
Hope makes all things work
Love makes all things beautiful
Happy Aidil Fitri...

Labels:


Read more!

Saturday, September 19, 2009

  Hijrah ; Windows -> Ubuntu 9.04 -> Sabily 9.04


Setelah bertarung keras, akhirnya **jendela** kalah juga :D

Kisah ini berawal dari tawaran seorang teman untuk mencoba Ubuntu 9.04, saya pikir 'Ini apa sih? Ubuntu, nama yang aneh' Kalo "buntu" sih dalam bahasa daerah sini itu artinya bokek, hihihi. Hmm... ternyata Ubuntu ini salah satu distro Linux. Pertama sih heran, kok ada ya... yang gratisan kayak gini? Tapi asli! Masih sangat awam dengan yang namanya Linux dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Berhubung saya suka mencoba hal-hal baru, so I decided to try.


Kesan pertama liat tampilannya; tulisannya rada besar-besar, menu-menu dan aplikasinya asing banget! (wajar lah), tapi unik juga! ;) Setelah melihat, menimbang dan memperhatikan kebutuhan bisnis saya yang sudah sangat terbantu oleh Windows, beside saya tidak mau mengambil risiko berpusing-pusing ria, akhirnya waktu itu saya memutuskan untuk tidak menginstallnya.

Waktu berlalu, saya masih nyaman-nyaman saja dengan Windows XP Black. Tapi, gangguan dan masalah mulai muncul satu persatu. Dimulai dari virus-virus yang mulai merasuk (walaupun sudah pakai KIS 2010), sistem yang terganggu, sampai pada puncaknya... semua file foto dan video sejak bulan Maret 2008 semuanya lenyap! Hanya bersisa bulan Juli dan Agustus 2009 saja, hiks! :( Entah karena virus atau gangguan sistem atau penyebab lain, yang pasti... saya mulai gerah dengan Windows.

Berkat permasalahan di Windows dan sedikit provokasi dari sang promotor, akhirnya saya install Ubuntu 9.04 inside Windows. Berkat bantuan promotor dan beberapa referensi, alhamdulillah saya bisa mulai menjalankan aplikasi-aplikasinya, walau masih sangat standar. Mau tidak mau, saya harus mempelajari Ubuntu ini, walau masih rada kagok alhamdulillah lama-lama saya merasa nyaman juga. Banyak hal-hal tak terduga yang saya temui, contoh kecilnya, ternyata koneksi internet di Ubuntu lebih cepat dibanding di Windows. Waktu itu saya masih nyaman-nyaman saja, masih bolak-balik, kadang ke Ubuntu... kadang balik lagi ke *jendela*. Ada sih niat untuk hijrah beneran ke Ubuntu, tapi saya masih terikat dan merasa banyak terbantu dengan aplikasi-aplikasi di Windows.


Hari berganti, waktu berlalu... saya semakin jarang menengok *jendela*. Banyak hal-hal menarik dan unik yang saya jumpai di Ubuntu, walau kadang pusing karena gagal mengutak-atik software-nya, tetap saja saya terlanjur suka padanya.

Sampai pada suatu saat, tepatnya dua hari yang lalu, saya memutuskan untuk hijrah... Yah, sebuah keputusan yang cukup sulit, tapi melegakan hati.

Alhamdulillah, setelah proses pembelajaran yang lumayan membuat otak segar, akhirnya semua berjalan sesuai dengan harapan; tidak ada data yang hilang, semua aplikasi berjalan baik. That's all what I want. Ini juga berkat referensi dari sini dan berkat bantuan sang promotor, thanks a lot!

Then, tiba pula lah saatnya saya mencoba Sabily 9.04, tepatnya kemarin. Sengaja saya titip majalah Infolinux (yang bonusnya Sabily 9.04) sama teman yang akan pulang mudik dari Palembang. Dan... jreng! Subhanallah... indahnya Sabily... Green! So nice... Islamic software-nya juga...!!! Whuaaaa!!! Saya histeria... Alhamdulillah, sangat nyaman *berada* di dalamnya, segala puji bagiMu Ya Rabb...


I've been a linuxer now :D Who's next? :p

Labels: ,


Read more!

Thursday, September 10, 2009

  Kembalilah

Penggal kata itu menguap
Entah kemana...
Pergi semakin jauh
Seiring angin sejuk yang berhembus
Ke Selatan atau ke Utara















Pipit yang sedang riang menghinggapi padi pun...

Terbang riuh rendah
Seolah ingin menyampaikan petuahnya

Kembalilah...
Kau tak boleh menyerah pada waktu

Cahaya itu masih ada


Kembalilah...

Jangan kau menunggu terlalu lama

Atau kelak

Kau akan melaju terlalu jauh...
Hingga tak mungkin lagi
Untuk kembali


***

NB : Mendadak dapat ide kala menatap sebidang sawah dari kejauhan tadi sore, tapi entahlah puisi ini bercerita tentang apa... ^_^

Labels:


Read more!

Friday, September 04, 2009

  Belajar Bersyukur

Pernahkah kita berpikir sejenak, bertafakur, merenungkan diri kita sendiri. Wajah kita, panca indera kita, langkah kaki kita, tubuh kita, semuanya sempurna... tanpa abnormalitas apapun. Tanpa kita sadari, semua fungsi organ tubuh kita bekerja tanpa henti, tanpa gangguan berarti. Hidung menghirup udara dengan bebasnya, jantung berdetak, proses metabolisme berjalan, saraf-saraf di otak bekerja sesuai fungsinya, dan lain sebagainya.

Semua indera kita pun berfungsi dengan baik. Mata kita bisa melihat dengan jelas... warna-warni benda sekitar kita, tulisan yang kita baca, indahnya pemandangan alam, manisnya senyum, semuanya. Telinga dapat mendengarkan semuanya dengan normal, suara deruman keras kendaraan, pembicaraan orang-orang, musik dan lagu yang indah, keriuhan, bahkan karena telinga kita bisa menikmati keheningan. Hidung ini, bisa mencium berbagai jenis aroma... wanginya mawar, harumnya melati, sedapnya sate, nikmatnya ayam bakar, dan masih banyak lagi. Mulut dan lidah kita, dengannya lah kita dapat merasakan berbagai macam rasa, berbicara dengan jelas, merasakan nikmatnya mengunyah makanan, berteriak, tertawa, bernyanyi, menangis.


Begitu juga dengan fungsi motorik kita, kita dapat berjalan santai, berlari, senam aerobik, yoga, menendang bola, serta semua aktivitas lainnya.

Namun, pernahkah kita berpikir, bagaimanakah jika semua itu diambil satu saja dari diri kita? Bagaimana jika kita tak dapat melihat? Sungguh gelap rasanya dunia ini. Lalu bagaimana pula jika kita tidak dapat mendengar? Bagaimana jika kita tak dapat mengucapkan satu patah kata pun? Bagaimana jika indera perasa kita tak berfungsi? Bagaimana jika kita sulit bernafas? Dan bagaimana pula jika tubuh kita lumpuh, tak dapat melakukan apapun kecuali hanya berbaring?

Seringkali kita merasa tidak beruntung, hidup serba susah; makan seadanya, pendidikan rendah, cari pekerjaan sulit, harga barang serba mahal, rumah ngontrak, dan aneka kondisi serba susah lainnya. Mungkin sering juga kita berandai-andai, "Enak ya... kalo jadi orang kaya. Enak ya... kalo udah punya rumah sendiri. Enak ya... kalo punya pekerjaan dengan gaji gede. Enak ya... kalo punya motor baru. Enak ya... bisa kuliah di tempat bergengsi" dan semacamnya.

Teman, ternyata... kita belum pandai bersyukur. Tubuh kita yang sehat, panca indera kita yang berfungsi dengan baik, dan sebagainya, semua itu sungguh merupakan nikmat yang tak tergantikan dan patut kita syukuri. Saya jadi teringat sebuah syair nasyid, "Apa yang ada jarang disyukuri, apa yang tiada sering dirisaukan, nikmat yang dikecap baru kan terasa, bila hilang..."

Teman, ternyata... kita masih harus banyak belajar mensyukuri hidup ini. Sungguh pun itu hanya nikmat berjalan kaki sejauh 2 km dari rumah ke kantor karena gak ada ongkos (syukur kaki masih berfungsi dengan baik), atau hanya dapat melihat pemandangan gundukan sampah di belakang rumah setiap harinya (syukur masih bisa melihat), atau pun dapat mencium bau air selokan yang busuk (setidaknya hidung masih berfungsi), atau pula mendengar dengkuran keras salah satu kerabat atau keluarga kita (syukur masih bisa mendengar dengan jelas).

Jika kita mau menghitung-hitung nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT, maka takkan pernah selesai kita menghitungnya. Maka, mari belajar bersyukur walaupun bukan karena nikmat. Karena kata seorang bijak, "Kenikmatan itu bukan terletak pada nikmatnya, tapi pada kesyukurannya." Semoga di bulan Ramadhan ini, kita semua dapat berlatih menjadi ahli syukur.

"Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzzibaan" (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

NB : Terinspirasi dari pemikiran yang tiba-tiba saja menyeruak ke dalam hati.

Labels: ,


Read more!

Thursday, September 03, 2009

  Apakah Anda Terhormat? (Bag 2)

Well, alhamdulillah mood menulis saya sudah kembali lagi ^_^ Setelah sekian lama postingan yang masih menggantung itu saya biarkan, akhirnya malam ini tiba-tiba sekelebat pikiran tentang tema itu datang tanpa diundang :D So, let's start...


***


Semua orang memang pada dasarnya memiliki kehormatan dan harga diri. Namun, begitu banyak yang tanpa disadari telah mempeloroti kehormatan dan harga dirinya sendiri. Sungguh begitu mudah harga diri dan kehormatannya menguap. Semudah sumpah serapah yang terucap pada bawahan di saat emosi memuncak, semudah air pancuran yang jatuh karena gravitasi bumi.

Banyak orang yang menganggap bahwa kehormatan dan harga diri itu ada pada gelar . Yang merasa begitu nyaman ketika namanya disebut beserta rentetan gelarnya, dan merasa sangat tersinggung plus emosi ketika tidak sengaja terdapat kesalahan pada penulisan gelarnya tersebut (berkata kepada bawahannya : "Kamu pikir mudah nyari gelar itu hah!!!") *gubraks*

Ada juga yang menganggapnya ada pada pangkat dan jabatan. Merasa hebat karena memiliki kekuasaan dan otoritas tinggi, lalu merasa berhak melakukan apapun sekehendak hatinya. Orang-orang yang merasa terhormat karena pangkat dan jabatan, biasanya mantap. Mantap duduk di kursi kebesarannya, di balik meja kerja yang super lux, makanan dan minuman diantar, bermacam-macam surat kabar terbaru sudah siap di atas meja, fasilitas telepon dan internet yang siap dipakai kapan saja, begitu mantap.... (mantap di ruangan ga kemana-mana maksudnya hehe) sampai-sampai tidak pernah tahu ternyata bawahannya sedang bergosip ria, tanpa ia tahu ada konflik-konflik internal yang terjadi. Dia hanya menganggap bahwa, kehormatannya ada pada anggukan dan rasa sungkan dari para bawahannya ketika ia mendelegasikan suatu pekerjaan.

Lainnya, menganggap kehormatan dan harga diri ada pada gaya hidup mewah. Ia merasa terhormat ketika berbelanja di sebuah butik paling terkenal dan paling mahal. Ia merasa terhormat ketika memakai pakaian dan aksesoris impor. Petantang petenteng, memperlihatkan gaya dan aksesoris tersebut, bahkan terkadang dibumbui dengan aksi bergaya seperti model. Untuk apa itu semua ? Supaya terhormat.... *pfuiiih, benarkah?*

Jika kehormatan dan harga diri manusia ada pada itu semua.... maka itu tak lebih dari seonggok topeng busuk berwajah malaikat. Maka bagaimanakah kehormatan dan harga diri seorang manusia biasa tanpa gelar ? tanpa jabatan dan pangkat ? tanpa gaya hidup mewah ?

Pada hakikatnya, kehormatan dan harga diri seseorang ditentukan oleh sikap dan perilakunya. Seseorang yang benar-benar terhormat, pastilah menghargai dan menghormati orang lain siapapun ia, berapa pun usianya. Kehormatan dan harga diri ada pada kerendahan hati, keteguhan prinsip, kemandirian, suri tauladan, serta kualitas hidup. Kehormatan dan harga diri seseorang pun bukan untuk dideklarasikan, kehormatan itu hanya akan tampak dan terasa oleh orang-orang di sekelilingnya.

Apakah Anda terhormat? Tentu bukan Anda yang patut menjawabnya. ^_^


NB : Terinspirasi dari suatu kejadian di kampus.

Labels:


Read more!