Sunday, September 18, 2016

Kenangan

Angin malam mengajakku
Berpetualang menembus waktu
Jejak demi jejak itu
Berpendar dalam ingatku

Ada suatu masa
Yang ku ingin rengkuh
Namun kaki seolah lumpuh
Pada jarak tak tertempuh

Lalu suatu hari
Pada waktu yang terhenti
Aku hanya ingin berlari
Dulu kini tak hirau lagi

Tuesday, December 22, 2015

Puisi di Hari Ibu

Tataplah wajahnya
Kan kau temui senyuman
Senyum itu terkembang manis untukmu
Senyum yang 'kan selalu ada untukmu
Walau hatinya sedang sendu

Tampakkah olehmu?
Sepasang mata yang senantiasa mengikuti
Kemanakah engkau t'lah berlari
Sepasang mata yang senantiasa mengawasi
Apakah t'lah habis sepiring nasi

Mungkin saat ini,
Ia telah melemah sebab usia
Mulai sulit tidur karena insomnia
Sepiring nasi pun ia lupa

Oh hati, temuilah ia...
Dalam indahnya tutur kata
Dalam santunnya bakti kita
Semoga do'a dan ridhonya
Membelai kita hingga ke syurga

Saturday, December 19, 2015

Tahukah Engkau

Tahukah engkau tentang rasa sakit?
Ia bukanlah sekadar penguji
Bukan pula pemutus nikmat
Tapi ia penggugur dosa-dosa

Tahukah engkau apa itu sepi?
Saat tak ada yang membersamai
Itulah saat Tuhan mencemburui
Menanti hambaNya menghiba kasih
Dalam do'a-do'a khusyu'mu
Dalam sujud-sujud panjangmu

Pernahkah kau dengar kisah langit?
Saat hujan dan awan begitu kelabu
Tunggulah, sabarlah
Langit akan cerah
Pelangi akan merekah

Saturday, February 21, 2015

Menyapih Syifana dengan Cinta

Terinspirasi dari tulisan Mak Armita Fibriyanti di blognya, saya jadi kepingin berbagi juga tentang cerita suka duka menyapih Syifana kemarin. Well, terlepas dari fakta bahwa telah sekian lamanya saya hiatus :p dan tidak ada konferensi pers penjelasan or cerita mengapa dan kok bisa, lebih baik saya lanjutkan menulis mumpung mood saya sedang baik dan little princess Syifana sedang bobo siang.:D

Nah, sejak saya diketahui positif hamil yang kedua, banyak pihak yang menyarankan untuk segera menyapih Syifana. Saat itu usia Syifana tepat 18 bulan dan saya berusaha untuk kekeuh tetap terus memberikan ASI sampai ia berusia 2 tahun. Di usia kehamilan 9 minggu, walaupun sempat mengalami flek ringan, alhamdulillah ASI tetap saya berikan karena menurut seorang sahabat yang ahli medis, menyusui tidak akan membahayakan kehamilan.
Syifana in hijab style ;)
Kembali lagi soal menyapih. Sebenarnya sejak ia berusia 18 bulan, Syifana sudah jarang menyusu. Ia hanya menyusu di saat mau bobo siang dan di malam hari menjelang tidur. Setelah membaca soal WWL (Weaning with Love) dan juga hasil sharing dengan beberapa orang teman, akhirnya saya memulai strategi berikut ini.
  1. Berikan ia asupan makanan dan camilan yang cukup. Dengan begitu, perutnya tidak akan terusik sehingga lupa menyusu. 
  2. Jangan tawarkan untuk menyusu kecuali dia yang minta. Ini agar ia sedikit demi sedikit lupa akan menyusu.
  3. Berikan sugesti alam bawah sadar sesaat sebelum dia tidur atau terlelap. Misalnya, "Syifana nanti pas ulang tahun yang kedua, udahan ya Nen nya. Kan mau punya adek. Syifana pinter kan... bla bla bla". Sounding sesering mungkin agar lengket di alam bawah sadarnya. 
  4. Satu bulan sebelum hari ulang tahunnya, usahakan sebisa mungkin saat bobo siang tidak menyusuinya. Tapi jika ia rewel dan ngamuk minta menyusu, berikan. 
  5. H-7 soundingnya makin intens. Dan persiapkan mental agar tahan menghadapi responnya nanti saat disapih pertama kali. 
Dan hari H pun tiba. Saya sudah menyiapkan diri untuk berbagai respon "ngamuk" Syifana. Saya membayangkan akan menggendong ia sampai tertidur, tapi ternyata tidak. Kenyataannya, ia memang sempat menangis rewel dan memohon-mohon serta berusaha membuka baju saya untuk meminta haknya. Tapi ia tidak mau saya gendong, ia hanya ingin dipeluk dan mengelus-elus siku lengan saya. Mungkin dengan begitu ia merasa nyaman. Alhamdulillah, sekitar 15 menit kemudian ia tertidur. Saya pikir sounding yang selama ini saya lakukan berhasil. It works!

Hari-hari berikutnya juga tidak mudah. Kadang muncul perasaan nggak tega. Tapi saya membatin, `Bukankah ini adalah langkah agar ia mulai belajar kemandirian? Nggak mungkin kan selamanya anak kita lengket terus sama kita?`Alhamdulillah lama kelamaan Syifana mulai terbiasa dan mencari rasa nyamannya sendiri. Jika sebelumnya dia nyaman dengan menyusu, maka ia bisa tergantikan dengan hal lain sesuai dengan keinginan anak kita.

Saat ini setelah sebulan lebih saya berhasil menyapihnya, Syifana masih mencari-cari rasa nyamannya itu. Kalau dulu di awal menyapih ia minta saya peluk dan ia mengelus-elus lengan saya, kini ia malah nggak mau sama sekali. Kalau ia mulai mengantuk dan saya ajak ke kamar, ia mulai gelisah dan mencari alasan agar saya tidak mengajaknya tidur. Akhirnya yang saya lakukan adalah, mematikan lampu, mematikan TV, mengurangi aktivitas fisik, lalu saya biarkan saja ia mengantuk dan tertidur sendiri sesuai dengan nyamannya dia.

Belum sesuai dengan yang saya harapkan sih. Maunya saya, dia mau manut saya bacakan dongeng, cerita, atau aktivitas berdoa bareng sebelum tidur seperti yang ada di teori dan buku-buku. Tapi ya namanya juga anak-anak, mereka punya cara yang berbeda-beda. Kalau Syifana sedang saya bacakan do'a sebelum tidur, ia akan teriak dan protes menyuruh bundanya berhenti. Tapi kadang-kadang ia berdo'a sendiri (tentunya versi Syifana), ia mengangkat tangan "pssss... spbssss.... aamiiin....." :D Kadang ia ngoceh sendiri berhitung, "Wa, cu, ti, fo, fai, sis, segeh, eit, nai, ten! Yeeeeay!" :))

Yang pasti saya bersyukur, alhamdulillah saya bisa menyapihnya dengan cinta. Walaupun sempat stress menghadapi rengekannya dan menunggunya bermain lamaaaaa sekali sampai ia mau tertidur. Alhamdulillah saya tidak menuruti saran-saran seperti, getah brotowali, lipstik, obat merah, ataupun mengungsikan anak. Semoga cerita ini bermanfaat buat Mama or Bunda yang sedang dan akan menyapih anaknya. :)

Tuesday, July 01, 2014

Atas Nama Kesalahan

Memang tidak mudah, menyikapi kesalahan seseorang dengan cara yang benar. Yang ada hanyalah rasa ingin menghujaninya dengan kata-kata makian, menghujaninya dengan penghakiman. Merasa benar sendiri. Harusnya begini, harusnya begitu. Tanpa mau tahu, ada apa dibalik semua. Apa alasan sebenarnya. Bagaimana kondisi yang terjadi.

Memang sungguh mudah, meluncurkan sang lidah. Senjata yang paling tajam di dunia, yang telah terkenal kehebatannya itu. Namun berpikirkah, luka yang diakibatkannya. Lama menganga. Tak secepat mengucap kata penawar yang ringan; maaf.

Alibi yang paling diandalkan untuk mengghibah biasanya "curhat". Agar hati lega. Tapi tahukah? Malaikat selalu mencatat.

Pernahkah berpikir, apa yang paling kita inginkan, saat kita melakukan kesalahan? Dimaklumi bukan?

Bahwa setiap orang punya sisi lemah, sisi gelap, karena memang manusia diciptakan dengan kecenderungan fifty-fifty antara kebaikan dan keburukan.

Bahwa kita semua diciptakan jamak, agar berdekatan. Saling mengingatkan, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Alfa, lupa, lalai, kadang terlena. Itu semua manusiawi.

Maka terlepas besar atau kecil sebuah kesalahan yang dilakukan seseorang, sikapilah secara manusiawi, layaknya kita yang senantiasa memohon ampunan padaNya, atas dosa-dosa berulang yang tak terhitung angkanya.

Sunday, April 06, 2014

Yuk! Temukan Pasien TB


Tidak semua orang yang tahu, bahwa penyakit TBC yang saat ini lebih populer disebut TB, masih merebak dan berkembang biak seiring dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia. Iklim dan musim di Indonesia yang relatif lembab, menjadikan bakteri Tuberculosis (TB) yang bersifat tahan asam ini sangat mudah membangun koloni-koloni. Gaya dan pola hidup masyarakat kurang peduli terhadap kesehatan, ditambah dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit TB secara benar membuat mayoritas masyarakat beranggapan bahwa penyakit TB ini adalah penyakit yang memalukan.

Hal itu membuat seringkali pasien TB tidak menghiraukan gejala-gejala awal sehingga terlambat dideteksi hingga menyebabkan kematian. Selain itu, lambatnya deteksi penyakit TB ini, juga membuat sang pasien berpotensi tinggi menularkan pada lingkungan sekitarnya.

Berikut tips "Temukan Pasien TB" versi saya sebagai mantan perawat :)

Kenali Gejalanya
Cermati tanda-tanda fisik di bawah ini:
  • Batuk berdahak (kadang tidak berdahak) lebih dari 2 minggu; batuk lebih intens saat di pagi dan malam hari.
  • Nafsu makan menurun
  • Sering merasa lesu
  • Berkeringat banyak di malam hari walau cuaca tidak panas dan sedang tidak beraktivitas
  • Berat badan menurun drastis
  • Batuk berdarah (hemaptoe), ini terjadi jika penyakit TB sudah menjangkit parah dalam paru-paru
Nah, dengan mengetahui gejala umum penyakit TB, kita dapat mengidentifikasi orang-orang di sekitar kita, apakah mereka berpotensi memiliki gejala TB atau tidak.

(Sumber : http://carapedia.com)

Deteksi Lebih Awal
Jika lebih cepat terdeteksi, cepat berobat, maka juga akan menghindari penularan secara langsung pada orang-orang di sekitar. Tidak usah malu untuk periksa dahak (cek BTA) atau pun Rontgen, deteksi dini justru membuat proses pengobatan menjadi lebih mudah.

Komunikasikan Secara Personal
Kita adalah makhluk sosial. Tentu kita akan merasa berempati jika ada keluarga, teman, kerabat, atau tetangga yang menderita suatu penyakit. Maka sarankan mereka untuk memeriksakan diri ke dokter atau puskesmas terdekat untuk mendapatkan pengobatan. Jelaskan pula bahwa pengobatan OAT sangat mudah, gratis, dan pasti sembuh jika diminum sesuai aturan.

Jika telah melakukan komunikasi secara personal dan penuh empati, saya yakin bahwa si penderita akan luluh hatinya untuk mengikuti saran ini. Selain itu, beri informasi bahwa penyakit TB bukanlah wabah yang memalukan. Bahwa setiap orang berpotensi untuk tertular, tidak mengenal strata hidup dan tingkat ekonomi.

Well, dengan begitu, insya Allah kita sebagai masyarakat dapat ikut berpartisipasi secara aktif dalam pemberantasan penyakit TB di Indonesia. Amiin.

(Sumber : http://bloglog.com)


Wednesday, March 26, 2014

5 Hal yang Dikangenin Sejak Jadi Ibu Baru

Ada banyak rasa yang muncul ketika saya mengingat `rumah` ini. Sebuah tempat dimana saya bisa berbagi banyak hal. Tempat dimana saya bisa mengenal banyak orang, menjalin persahabatan di dunia maya. Semua dimulai dari sini. Maka saat saya melongok untuk ke sekian kalinya, merenungkan betapa menyedihkan kondisinya saat ini; suram, berdebu, sepi.

Waktu tentu tak pernah salah. Kita lah yang salah dalam cara memperlakukannya. Siang-malam. Pagi-petang. Hari-hari berlalu. Hingga tibalah saya disini; waktu luang dengan mood yang lapang.

Well, sebenarnya untuk warming up, saya ingin menulis yang ringan-ringan saja. Maka dari itu, saya ingin berbagi tentang hal yang paling dekat dengan aktivitas keseharian saya saat ini sebagai seorang ibu.

Tentunya, membesarkan seorang anak bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, keteguhan, serta ketangguhan. Sebagai seorang ibu baru (baru satu orang anak :D), saya ingin berbagi tentang hal-hal yang sudah tak bisa lagi saya lakukan sejak saya memiliki seorang bayi. Saya yakin ibu-ibu yang lain juga merasakan hal yang sama, bahwa ada beberapa hal yang kita rindu-rindukan atau kita kehilangan akan hal itu, sejak menjadi seorang ibu baru. Check it out! ;)


Main gitar

Gitar, dia adalah satu-satunya pelipur lara saat jadi anak kos dulu. Walaupun yang bisa saya mainkan hanya beberapa kunci mudah untuk lagu-lagu yang juga mudah, kangen rasanya bisa gitaran lagi. But it takes time. Mungkin beberapa orang berpikir bahwa saya bisa saja menyambar gitar lantas memainkan satu-dua lagu sementara anak saya tidur atau bermain. Tapi, bagi saya bercengkrama dengan gitar tak bisa sebentar. :D


Hunting Foto

Yeah! Bagi saya hunting foto adalah berarti 3 hal menyenangkan; petualangan, sudut pandang baru, dan menjadi vitamin bagi jiwa. Kebanyakan yang suka saya jepret adalah wajah langit (awan, matahari, bulan) dan manusia (dengan segala ekspresi dan aktivitasnya). Saat ini si Canon kesayangan saya lebih sering berada di lemari. Seringkali saya meyakinkan diri (lebih tepatnya menyabarkan diri) bahwa suatu saat nanti akan tiba kembali masanya untuk nge-date lagi sama si Canon. Pasti. ;)


Berlama-lama Saat Mandi


Saat penat melanda. Gerah. Suntuk. Ada satu hal yang bisa memberikan efek relaksasi menyegarkan, yakni mandi. Tapi, yang menyenangkan bagi wanita adalah saat berlama-lama. Nah, sejak punya bayi, saya lebih sering mandi kilat. :))


Nonton Bioskop Berdua Suami :p


Yup! Siapapun yang menjadi seorang ibu baru, pasti kangen hang out berduaan sama suami. Kalo saya, nonton di bioskop menjadi hal yang istimewa. Well, saya bersyukur, sebelum punya baby saya telah menghabiskan cukup banyak waktu buat nonton berdua suami. ^_^


Perawatan di Salon


Nah! Ini dia yang paliiing bikin saya mupeng. Menjadi salah satu pelanggan sebuah salon, bagi saya ibarat dilayani seperti putri raja. Yang paling saya kangenin adalah creambath di salah satu salon yang dulu sering saya sambangi. Paling nggak, nunggu Syifana lulus S3 ASI saat dia 2 tahun nanti. #sabaaar

***

Penasaran sama teman dan sahabat senasib sepenanggungan, saya bertanya pada mereka tentang 5 hal apa yang mereka rasa kehilangan sejak menjadi seorang ibu.






Ternyata jawabannya unik dan lucu-lucu :D Thanks buat teman-teman yang udah mau share di FB. ;)


Wednesday, August 28, 2013

Demimu



Demimu,
Aku masih mampu
Tetap dalam mimpiku
Berjalan di anganku

Demi senyum-tawamu,
Lemah kukuatkan
Terpuruk kubangkitkan
Tertunduk kutegarkan

Demi hidupmu,
Hidupku, hatiku, jiwa-ragaku
Untukmu

Sunday, May 26, 2013

Samar


Kulipat hari
Bagai lembaran mimpi-mimpi
Menghilang diri
Samar namun hakiki


Cendawan yang kusimpan
Masihkah bertuan
Bagai air di hulu
Berakhir jua ke tepian

Entah muara yang mana
Entah di musim apa
Kuyakin ada
Suatu saat tiba

Sunday, March 24, 2013

Yamaha : Motorku Andalanku!


Sejak saya mengenal motor, yang saya tahu paling happening adalah brand Yamaha. Ayah saya adalah user setia Yamaha sejak ia muda. Ia mengaku bahwa motor-motor Yamaha lebih awet dan mesinnya bagus. Saat itu tentu saya masih remaja dan belum mengerti benar bagaimana mengendarai motor dengan benar, belum paham bagaimana sistem dan kinerja sebuah motor.

Setelah saya mulai sering beraktivitas di luar, motor lah yang sering mendampingi dan memudahkan mobilitas. Saya termasuk orang yang mau memakai motor apa saja dan motor siapa saja untuk kepentingan saya saat itu. Entah itu motor tetangga, motor teman, motor kakak saya, semua saya coba. Alhasil, saya bisa membedakan kinerja motor-motor tersebut. Well, kesimpulannya saya lebih suka Yamaha dan jadi jatuh cinta dengan Yamaha.

Pun ketika suami saya gamang memilih motor pertama untuknya, saya sangat merekomendasikan Yamaha sebagai brand yang telah saya percayai sejak dulu keunggulannya. Saat itu sedang ada pameran di PRJ, setelah galau memilah-milih, akhirnya pilihannya jatuh pada Yamaha Lexam.

Tahukah kawan-kawan, ternyata si Lexam ini sungguh istimewa! Walaupun memang harganya di rata-rata, tapi memang benar pepatah yang mengatakan, "Ada rupa, ada harga". Yamaha Lexam ini memiliki body yang keren dan elegan. Selain itu, ia memiliki sistem pendingin sehingga walaupun kita ngider-ngider seharian nonstop, mesinnya tetap prima.

Walaupun Yamaha Lexam adalah motor matic, ada sensasi berbeda yang saya rasakan dibanding motor-motor matic lainnya. Gasnya lebih halus dan akselerasinya sempurna. Bodynya pun didesain sedemikian rupa sehingga gesit di jalanan. Yang saya rasakan adalah, saat mau berbelok dan bermanuver di jalanan yang macet, sungguh nyaman dan ringan saat mengendarainya. Joknya pun lebih empuk dan nyaman.

Maka wajarlah jika Yamaha memiliki brand "Keren, cepat, canggih, dan semakin tak tertandingi". Mau kemana pun, ingin cepat dan efisiensi waktu, jawabannya adalah motor Yamaha. Yamaha memang motor andalan bagi raja dan ratu jalanan. ;)