Terdiam dalam Kata

.:: Melesat tanpa berpijak - Takjub fana rasa ::.

Ini Januari

Ini Januari
Tempatku merancang mimpi
Tak peduli malam, siang atau pagi
Benakku menari-nari

Ini Januari
Saat kasihku rayakan hari
T’lah buat wajah langitnya pucat pasi
Lalu merona indah bagai pelangi

Namun Januari
Jua beri ku pelajaran berarti
Bahwa kita hanyalah dititipi
MilikNyalah segala yang ada di langit dan di bumi

Selamat Hari Blogger, Kawan!


Sebenarnya, sebelum saya memutuskan untuk menuliskan ini, saya merasa tidak percaya diri karena betapa bobrok produktivitas saya sebagai seorang blogger. Saya sadar, tentu sepenuhnya sadar. Telah begitu lama digelayuti rasa enggan dan rasa malas untuk menulis sesuatu di blog. Dan tanpa saya sadari, rasa malas itu telah bermetamorfosis menjadi rasa apatis. Saya menjadi tidak peduli lagi pada blog walau sudah banyak sarang laba-laba di dalamnya. Hiii!

Bukan karena tidak ada topik. Ada banyak sekali ide yang mengalir dan menggema di kepala ini. Tapi ada saja yang membuat jemari ini tidak lantas menyamankan diri untuk menari di atas keyboard. Pernah saya mencoba memaksakan diri untuk menulis. Saya hidupkan laptop, buka blog, klik new post, dan terhamparlah di hadapan saya sebuah halaman putih yang siap untuk saya tulisi. 

Apa yang terjadi? Menit pertama, halaman "new post" masih putih. Belum ada ide. Namun baru di menit kedua, tanpa saya sadari saya mulai menggeser mouse ke tab sebelahnya, yakni Facebook. Menit ketiga, saya malah asyik berkomentar di status-status teman. Menit keempat, pindah tab lagi and berpikir ulang,`Mau nulis apa ya...?` #errr Menit kelima, secara otomatis jemari saya mengetikkan "ctrl-tab" dan membuka halaman Twitter. Lalu saya pun sibuk melihat tweets yang ada, dan menjadi lupa bahwa tadinya tujuan awal saya online adalah untuk posting sesuatu di blog. #tepokjidad

Ah, saya sadar. Terlalu banyak menunda. Terlalu banyak berpikir tanpa menuliskannya. Terlalu banyak malasnya. Terlalu asyik dengan social media lainnya. Akhirnya semangat blogging jadi mengering.

Setelah dipikir-pikir, sebenarnya kita gak perlu kebanyakan mikir sebelum menulis di blog. Mengalir saja. Seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Menulis dan menulis, tanpa memikirkan apakah tulisan saya bagus atau tidak, akan disukai atau tidak, dan kekhawatiran lainnya. Yeah, walaupun saya sudah lupa kapan terakhir saya nulis artikel. #hihihi Kebanyakan adalah puisi yang tidak perlu banyak mikir dan cepat jadinya (secara hanya terdiri dari beberapa bait saja). :p

Intinya menurut saya adalah `semangat sharing`-nya. Apapun yang kita tulis, jika diawali dengan semangat berbagi, maka mengalir saja. Enjoy tanpa beban. Right?

Di Hari Blogger Nasional ini, izinkan saya mengucapkan selamat, selamat kepada semua blogger Indonesia yang telah meramaikan dunia maya. Selamat kepada para blogger yang senantiasa konsisten dalam aktivitas menulisnya.

Well, pada akhirnya pertanyaannya adalah, "Apakah tulisan ini akan mengawali semangat saya untuk kembali menulis artikel secara berkala?" Kita lihat saja. :p

*** 

Sumber gambar dari sini

Ajari Aku

Hari ini aku belajar
Tentang hati yang rela
Tentang arti ikhlas sepenuhnya
Tentang tawakkal padaNya

Hari ini aku belajar
Memaknai cara-caraNya
Memaknai hidup yang tak selamanya ada
Memaknai kerapuhan anak manusia

Duhai, siapapun di sana
Ajari aku...
Sekali lagi

Baiklah

Baiklah
Jika memang tak mampu kau selami
Dalamnya samudera hati
Aku takkan memaksa
Biar angin yang membelainya saat hujan menyapa

Baiklah
Jika memang tak mampu kau baca
Siratan harap dalam sikap
Aku takkan memaksa
Biar langit yang memeluknya saat senja menjelma


Mungkin memang saat ini
Kau tak mendengar simfoni
Namun kelak kau 'kan sadari
Saat aku bernyanyi


Sumber gambar dari sini

Bilik Hati

Cobalah rasa
Bila kau tak kuasa mendengarnya

Cobalah hayati
Jika kau tak kunjung memahami


Bilik hati ini
Engkau yang punya kunci

***

Sumber gambar dari sini

Episode Hujan



Suatu waktu dalam hidupmu
Kala hujan dengan keras menerpamu
Di saat itulah kau akan belajar
Menikmati awan kelabu

Suatu hari dalam hidupmu
Kala hujan menyapamu dengan badainya
Di saat itulah kau akan belajar
Menikmati rasa sakitnya

Aku tahu pelangi kan datang
Menghangatkanku dengan indah bias sinarnya
Tapi masihkah aku di sini?

*** 

Gambar diambil dari sini 

Risau Rindu

Saat kutatap lekat langit jiwaku
Ingin aku singgah dan berlama-lama di sana
Menekuri riak-riak hati yang selalu haru
Mengeja bait demi bait rasa dalam nuansa biru

Saat kubaca dinding hatiku
Dirinya risau akan rindu
Namun lagu takkan berlalu
Kan s'lalu berdendang dalam nada syahdu

Mungkin nanti
Betapa jarak takkan berarti
Kau 'kan s'lalu ada di sini
Indah di hati ini

Saat Cinta



Saat semua berubah menjadi cinta
Tak ada yang perlu kurisaukan
Tak ada pula yang perlu kukeluhkan
Semua hanyalah keindahan

Keindahan dalam mengabdi
Keindahan dalam belajar menjadi seperti yang kau harapkan
Keindahan dalam ikhlas menerima semua yang ada
Keindahan dalam menyimak dan membaca dirimu, kasihku
Keindahan… dalam mencintaimu

Wahai Mentari, Duhai Pelangi

Mentari,
Maafkan daku lupa pada hangatmu
Sebab ia tlah begitu rupa
Menghangatkan hatiku

Pelangi,
Maafkan daku abaikan indahmu
Sebab ia tlah begitu rupa
Melukiskan keindahan di hatiku

Wahai mentari, duhai pelangi
Maklumilah...
Hatiku kini bermusim baru
Menyemai syahdu

Langit Pagi

Langit pagi ini
Siratkan warna hati
Membentang bagai lautan permadani
Membiru bagai indahnya mimpi-mimpi


Mungkin kini
Langit kata sedang memuai jiwa
Mengumpulkan bait-bait nan indah
Dalam kristal awannya

Mungkin nanti
Kala ia tlah berevaporasi
Kan kuhujani engkau dengan puisi
Kan kuindahkan engkau dengan pelangi diksi

Sumber gambar dari sini