Terdiam dalam Kata

.:: Melesat tanpa berpijak - Takjub fana rasa ::.

Atas Nama Kesalahan

Memang tidak mudah, menyikapi kesalahan seseorang dengan cara yang benar. Yang ada hanyalah rasa ingin menghujaninya dengan kata-kata makian, menghujaninya dengan penghakiman. Merasa benar sendiri. Harusnya begini, harusnya begitu. Tanpa mau tahu, ada apa dibalik semua. Apa alasan sebenarnya. Bagaimana kondisi yang terjadi.

Memang sungguh mudah, meluncurkan sang lidah. Senjata yang paling tajam di dunia, yang telah terkenal kehebatannya itu. Namun berpikirkah, luka yang diakibatkannya. Lama menganga. Tak secepat mengucap kata penawar yang ringan; maaf.

Alibi yang paling diandalkan untuk mengghibah biasanya "curhat". Agar hati lega. Tapi tahukah? Malaikat selalu mencatat.

Pernahkah berpikir, apa yang paling kita inginkan, saat kita melakukan kesalahan? Dimaklumi bukan?

Bahwa setiap orang punya sisi lemah, sisi gelap, karena memang manusia diciptakan dengan kecenderungan fifty-fifty antara kebaikan dan keburukan.

Bahwa kita semua diciptakan jamak, agar berdekatan. Saling mengingatkan, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Alfa, lupa, lalai, kadang terlena. Itu semua manusiawi.

Maka terlepas besar atau kecil sebuah kesalahan yang dilakukan seseorang, sikapilah secara manusiawi, layaknya kita yang senantiasa memohon ampunan padaNya, atas dosa-dosa berulang yang tak terhitung angkanya.

Yuk! Temukan Pasien TB


Tidak semua orang yang tahu, bahwa penyakit TBC yang saat ini lebih populer disebut TB, masih merebak dan berkembang biak seiring dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia. Iklim dan musim di Indonesia yang relatif lembab, menjadikan bakteri Tuberculosis (TB) yang bersifat tahan asam ini sangat mudah membangun koloni-koloni. Gaya dan pola hidup masyarakat kurang peduli terhadap kesehatan, ditambah dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit TB secara benar membuat mayoritas masyarakat beranggapan bahwa penyakit TB ini adalah penyakit yang memalukan.

Hal itu membuat seringkali pasien TB tidak menghiraukan gejala-gejala awal sehingga terlambat dideteksi hingga menyebabkan kematian. Selain itu, lambatnya deteksi penyakit TB ini, juga membuat sang pasien berpotensi tinggi menularkan pada lingkungan sekitarnya.

Berikut tips "Temukan Pasien TB" versi saya sebagai mantan perawat :)

Kenali Gejalanya
Cermati tanda-tanda fisik di bawah ini:
  • Batuk berdahak (kadang tidak berdahak) lebih dari 2 minggu; batuk lebih intens saat di pagi dan malam hari.
  • Nafsu makan menurun
  • Sering merasa lesu
  • Berkeringat banyak di malam hari walau cuaca tidak panas dan sedang tidak beraktivitas
  • Berat badan menurun drastis
  • Batuk berdarah (hemaptoe), ini terjadi jika penyakit TB sudah menjangkit parah dalam paru-paru
Nah, dengan mengetahui gejala umum penyakit TB, kita dapat mengidentifikasi orang-orang di sekitar kita, apakah mereka berpotensi memiliki gejala TB atau tidak.

(Sumber : http://carapedia.com)

Deteksi Lebih Awal
Jika lebih cepat terdeteksi, cepat berobat, maka juga akan menghindari penularan secara langsung pada orang-orang di sekitar. Tidak usah malu untuk periksa dahak (cek BTA) atau pun Rontgen, deteksi dini justru membuat proses pengobatan menjadi lebih mudah.

Komunikasikan Secara Personal
Kita adalah makhluk sosial. Tentu kita akan merasa berempati jika ada keluarga, teman, kerabat, atau tetangga yang menderita suatu penyakit. Maka sarankan mereka untuk memeriksakan diri ke dokter atau puskesmas terdekat untuk mendapatkan pengobatan. Jelaskan pula bahwa pengobatan OAT sangat mudah, gratis, dan pasti sembuh jika diminum sesuai aturan.

Jika telah melakukan komunikasi secara personal dan penuh empati, saya yakin bahwa si penderita akan luluh hatinya untuk mengikuti saran ini. Selain itu, beri informasi bahwa penyakit TB bukanlah wabah yang memalukan. Bahwa setiap orang berpotensi untuk tertular, tidak mengenal strata hidup dan tingkat ekonomi.

Well, dengan begitu, insya Allah kita sebagai masyarakat dapat ikut berpartisipasi secara aktif dalam pemberantasan penyakit TB di Indonesia. Amiin.

(Sumber : http://bloglog.com)


5 Hal yang Dikangenin Sejak Jadi Ibu Baru

Ada banyak rasa yang muncul ketika saya mengingat `rumah` ini. Sebuah tempat dimana saya bisa berbagi banyak hal. Tempat dimana saya bisa mengenal banyak orang, menjalin persahabatan di dunia maya. Semua dimulai dari sini. Maka saat saya melongok untuk ke sekian kalinya, merenungkan betapa menyedihkan kondisinya saat ini; suram, berdebu, sepi.

Waktu tentu tak pernah salah. Kita lah yang salah dalam cara memperlakukannya. Siang-malam. Pagi-petang. Hari-hari berlalu. Hingga tibalah saya disini; waktu luang dengan mood yang lapang.

Well, sebenarnya untuk warming up, saya ingin menulis yang ringan-ringan saja. Maka dari itu, saya ingin berbagi tentang hal yang paling dekat dengan aktivitas keseharian saya saat ini sebagai seorang ibu.

Tentunya, membesarkan seorang anak bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, keteguhan, serta ketangguhan. Sebagai seorang ibu baru (baru satu orang anak :D), saya ingin berbagi tentang hal-hal yang sudah tak bisa lagi saya lakukan sejak saya memiliki seorang bayi. Saya yakin ibu-ibu yang lain juga merasakan hal yang sama, bahwa ada beberapa hal yang kita rindu-rindukan atau kita kehilangan akan hal itu, sejak menjadi seorang ibu baru. Check it out! ;)


Main gitar

Gitar, dia adalah satu-satunya pelipur lara saat jadi anak kos dulu. Walaupun yang bisa saya mainkan hanya beberapa kunci mudah untuk lagu-lagu yang juga mudah, kangen rasanya bisa gitaran lagi. But it takes time. Mungkin beberapa orang berpikir bahwa saya bisa saja menyambar gitar lantas memainkan satu-dua lagu sementara anak saya tidur atau bermain. Tapi, bagi saya bercengkrama dengan gitar tak bisa sebentar. :D


Hunting Foto

Yeah! Bagi saya hunting foto adalah berarti 3 hal menyenangkan; petualangan, sudut pandang baru, dan menjadi vitamin bagi jiwa. Kebanyakan yang suka saya jepret adalah wajah langit (awan, matahari, bulan) dan manusia (dengan segala ekspresi dan aktivitasnya). Saat ini si Canon kesayangan saya lebih sering berada di lemari. Seringkali saya meyakinkan diri (lebih tepatnya menyabarkan diri) bahwa suatu saat nanti akan tiba kembali masanya untuk nge-date lagi sama si Canon. Pasti. ;)


Berlama-lama Saat Mandi


Saat penat melanda. Gerah. Suntuk. Ada satu hal yang bisa memberikan efek relaksasi menyegarkan, yakni mandi. Tapi, yang menyenangkan bagi wanita adalah saat berlama-lama. Nah, sejak punya bayi, saya lebih sering mandi kilat. :))


Nonton Bioskop Berdua Suami :p


Yup! Siapapun yang menjadi seorang ibu baru, pasti kangen hang out berduaan sama suami. Kalo saya, nonton di bioskop menjadi hal yang istimewa. Well, saya bersyukur, sebelum punya baby saya telah menghabiskan cukup banyak waktu buat nonton berdua suami. ^_^


Perawatan di Salon


Nah! Ini dia yang paliiing bikin saya mupeng. Menjadi salah satu pelanggan sebuah salon, bagi saya ibarat dilayani seperti putri raja. Yang paling saya kangenin adalah creambath di salah satu salon yang dulu sering saya sambangi. Paling nggak, nunggu Syifana lulus S3 ASI saat dia 2 tahun nanti. #sabaaar

***

Penasaran sama teman dan sahabat senasib sepenanggungan, saya bertanya pada mereka tentang 5 hal apa yang mereka rasa kehilangan sejak menjadi seorang ibu.






Ternyata jawabannya unik dan lucu-lucu :D Thanks buat teman-teman yang udah mau share di FB. ;)


Demimu



Demimu,
Aku masih mampu
Tetap dalam mimpiku
Berjalan di anganku

Demi senyum-tawamu,
Lemah kukuatkan
Terpuruk kubangkitkan
Tertunduk kutegarkan

Demi hidupmu,
Hidupku, hatiku, jiwa-ragaku
Untukmu

Samar


Kulipat hari
Bagai lembaran mimpi-mimpi
Menghilang diri
Samar namun hakiki


Cendawan yang kusimpan
Masihkah bertuan
Bagai air di hulu
Berakhir jua ke tepian

Entah muara yang mana
Entah di musim apa
Kuyakin ada
Suatu saat tiba

Yamaha : Motorku Andalanku!


Sejak saya mengenal motor, yang saya tahu paling happening adalah brand Yamaha. Ayah saya adalah user setia Yamaha sejak ia muda. Ia mengaku bahwa motor-motor Yamaha lebih awet dan mesinnya bagus. Saat itu tentu saya masih remaja dan belum mengerti benar bagaimana mengendarai motor dengan benar, belum paham bagaimana sistem dan kinerja sebuah motor.

Setelah saya mulai sering beraktivitas di luar, motor lah yang sering mendampingi dan memudahkan mobilitas. Saya termasuk orang yang mau memakai motor apa saja dan motor siapa saja untuk kepentingan saya saat itu. Entah itu motor tetangga, motor teman, motor kakak saya, semua saya coba. Alhasil, saya bisa membedakan kinerja motor-motor tersebut. Well, kesimpulannya saya lebih suka Yamaha dan jadi jatuh cinta dengan Yamaha.

Pun ketika suami saya gamang memilih motor pertama untuknya, saya sangat merekomendasikan Yamaha sebagai brand yang telah saya percayai sejak dulu keunggulannya. Saat itu sedang ada pameran di PRJ, setelah galau memilah-milih, akhirnya pilihannya jatuh pada Yamaha Lexam.

Tahukah kawan-kawan, ternyata si Lexam ini sungguh istimewa! Walaupun memang harganya di rata-rata, tapi memang benar pepatah yang mengatakan, "Ada rupa, ada harga". Yamaha Lexam ini memiliki body yang keren dan elegan. Selain itu, ia memiliki sistem pendingin sehingga walaupun kita ngider-ngider seharian nonstop, mesinnya tetap prima.

Walaupun Yamaha Lexam adalah motor matic, ada sensasi berbeda yang saya rasakan dibanding motor-motor matic lainnya. Gasnya lebih halus dan akselerasinya sempurna. Bodynya pun didesain sedemikian rupa sehingga gesit di jalanan. Yang saya rasakan adalah, saat mau berbelok dan bermanuver di jalanan yang macet, sungguh nyaman dan ringan saat mengendarainya. Joknya pun lebih empuk dan nyaman.

Maka wajarlah jika Yamaha memiliki brand "Keren, cepat, canggih, dan semakin tak tertandingi". Mau kemana pun, ingin cepat dan efisiensi waktu, jawabannya adalah motor Yamaha. Yamaha memang motor andalan bagi raja dan ratu jalanan. ;)


 

Tahun Kedua



Borobudur - Saat usia kehamilan 4 bulan :)


Dua tahun sudah kita bersama
Merajut cinta dalam naungan ridhoNya
Ada duka, ada bahagia
Pun cobaan singgah menyapa

Kini pun di tahun kedua
Allah wujudkan 'tuk keluarga kecil kita
Bidadari cantik bernama Syifana
Anugerah dan Amanah terindah dariNya

Pada semayam jiwa
Batin lirih menguntai do'a
Semoga Sang Maha cinta
Senantiasa membersamai kita

***

Setelah setahun lebih tak berpuisi

Blog Sulael

Setelah terendap dan terabaikan sedemikian lama, melewati suatu fase pergulatan diri yang membuat mood saya naik turun pada level yang cukup ekstrim, akhirnya saya bisa keluar dari zona itu dan mencoba menulis kembali dengan normal. Bukan tulisan untuk lomba atau pun pesanan sponsor.

Saya sebenarnya sudah rindu berpuisi. Rindu untuk menuangkan ide-ide yang sering menjejali kepala ini. Juga rindu untuk bercerita dan berbagi.

Sempat terpikir untuk migrasi ke [dot]Com, mengganti template, atau hal lain yang bisa me-refresh semangat saya untuk menulis. Beruntung sekali, salah seorang blogger di milis berbagi info tentang domain gratis dan suami saya pun langsung mengeksekusinya dengan nama domain Sulael[dot]Asia.



Kenapa Sulael? Ceritanya kami berdua telah sepakat untuk membuat nama keluarga (nama belakang) untuk calon baby nanti hehehe. Tentunya gampang ditebak, Sulael adalah gabungan nama kami : Iman Sulaiman - Elsi Santi.

Setelah berkutat dalam proses upload via ftp, cari-cari template yang cocok, edit-edit css sedikit, akhirnya jadilah blog baru tempat saya menuangkan cerita tentang proses kehamilan hingga kelahiran nanti, dan tentu saja proses tumbuh kembangnya kelak.

Tapi walaupun mungkin saya akan lebih rajin posting disana, saya akan tetap setia pada blog ini kok. Yeah, at least sampai saya sudah siap migrasi ke [dot]com.

Mampir-mampir ya temans...


Berkunjung ke Biofarma Itu Ternyata Seru!

Wow, it's July temans! Ga kerasa udah berhibernasi sedemikian lama. Hihihi. Well, ternyata 3 bulan sudah cukup membuat saya rindu menulis di sini. Yeah... walaupun kali ini saya akan bercerita soal di luar kehidupan pribadi saya. #ihik (Soal curhat-mencurhat biarlah nanti sesi lain saat mood menulis saya sudah muncul kembali :p)

Seminggu yang lalu, tepatnya hari Sabtu, 13 Juli, bersama teman-teman dari DeBlogger saya berkunjung ke Biofarma, Bandung, untuk mengikuti workshop tentang imunisasi. Jujur saja, sejak awal mendengar kata "Imunisasi" saya jadi antusias. Saya penasaran seperti apakah nantinya info-info yang diberikan. Apakah hanya info-info standar yang sudah saya ketahui (saya cukup tahu tentang imunisasi karena saya ex. nurse :p), ataukah pencerahan yang akan menambah wawasan saya, atau bahkan lebih jauh lagi akan mendobrak stigma yang ada di pikiran saya untuk tidak mengimunisasi anak saya kelak? Hmm... just let's see. Yang pasti sih saat itu saya hanya memikirkan satu hal, yang penting jalan-jalan! :D

Biofarma Itu...

Temans, di sini saya baru tau bahwa Biofarma itu bukanlah perusahaan obat! :D Ternyata Biofarma hanya memproduksi Vaksin dan AntiSera. Biofarma yang merupakan perusahaan BUMN terbaik 2011 ini ternyata adalah pengekspor 50% kebutuhan vaksin di dunia lho! Ada 117 negara yang telah menerima produk dari Biofarma, termasuk negara-negara Islam seperti Iran, Pakistan, dll. 

Biofarma awalnya dipelopori oleh ilmuwan Belanda di zaman baheula dulu, namanya L. Otten (1923). Awalnya ia dinamai Parc Vaccinogen, lalu berubah menjadi Landskoepok Inrichting. Pada masa kependudukan Belanda, ternyata telah ada program vaksinasi. Di tahun 1942 masa kependudukan Jepang, namanya berubah lagi menjadi Bandung Boeki Kenkyushoo. Setelah Indonesia merdeka, menjadi Perusahaan Negara Pasteur (1955) dan kini dikenal sebagai Biofarma. (Deuh, panjang juga ya perjalanannya, dan nama-namanya juga bikin pusing hihi!)

Suasana Worksop

Workshop ini juga dihadiri oleh Wakil Walikota Bandung lho!

Kesan Pertama

Saat pertama kali menginjakkan kaki di sini, yang pertama kali saya rasakan adalah sejuk. Lingkungannya asri dan alami banget. Cukup bersih. Banyak pepohonan dan ragam tanaman hijau lainnya. Walaupun bangunannya sudah tua dan bergaya Belanda, namun cukup nyaman lah berada di sini. 

Oh iya, satu lagi yang khas yang saya rasakan adalah, dua tanda peringatan. :D Di mana-mana saya selalu menemukan mereka. Pertama adalah "Pakailah air seperlunya saja." Kedua, "Matikan lampu jika tidak digunakan". Bahasa tepatnya saya lupa, tapi kurang lebih seperti itu. Well, itu menunjukkan bahwa Biofarma ini sangat concern menerapkan konsep "Green Office". Belakangan saya tahu ternyata Biofarma memang peraih banyak award, yakni Evironment Award,  Indonesia Green Office 2012 dan masih banyak penghargaan lainnya. Wah, keren ya!

Factory Tour

Kami sempat berkeliling ke museum dan tempat-tempat pembuatan vaksin. Yang seru adalah, setiap kami akan masuk ke dalam ruangan tempat di mana vaksin-vaksin itu dibuat, kami harus melakukan dua prosedur menggelikan (Ini bagi saya sih :p). Yakni mencuci tangan dan memakai jas warna putih yang gedeee banget ukurannya :)) Saya kira, nanti kami akan bersentuhan dengan benda-benda steril atau akan masuk ke ruangan produksi. Ealah, ternyata cuman ngeliat dari kaca koridor doank, hihihi. Well, itu semua karena saking protektif nya mereka terhadap kebersihan diri dan lingkungan.
At Museum, Mba Ratna menjelaskan tiap benda yang ada.
See? Jas dan topi putih menunggu Anda :))
Petugasnya ramah-ramah lho! :)
Etalase Vaksin Produksi Biofarma
Surprised

Setelah mendengar penjelasan dari para ahli dari Biofarma, saya kaget bahwa ternyata vaksin yang dipake sehari-hari oleh tenaga medis di Indonesia adalah buatan Biofarma sendiri. Wow! Keren ya. 

Dan dari kunjungan ke tempat pembuatan vaksin, trus dijelaskan prosesnya, tidak ada satu pun sel makhluk hidup yang mengandung huruf "B" :D Paling hanya sel ginjal monyet (untuk pembuatan vaksin polio) :p

Fakta-fakta Tentang Imunisasi

Di sini saya juga baru tahu fakta sebenarnya tentang imunisasi, dibalik isu-isu yang beredar. Terus terang, memang saya menganut paham "anti imunisasi" :D Mungkin memang doktrin itu yang telah tertanam di benak saya, bahwa imunisasi itu adalah cara kaum yahudi mengurangi populasi manusia di bumi ini. Dan memang, entah kenapa, saya tidak langsung mencari tandingan informasi yang berimbang. Ditambah teman-teman yang berceloteh, "Imunisasi itu gak diperlukan, ASI Eksklusif dan colustrum sudah cukup untuk imunitas anak seumur hidup". 

Ternyata tidak begitu temans, saat ini kuman, virus, dan bakteri sudah bermutasi sedemikian rupa sehingga kita tidak bisa begitu saja mengabaikan. Dari Paparan dokter Novi, saya menangkap bahwa jika ada satu orang anak yang tidak diimunisasi dalam suatu populasi, maka ia akan membawa virus/bakteri ke anak-anak yang lain, walaupun ia sendiri tidak terjangkit.

So, ternyata memang isu-isu cuman isapan jempol temans. :D

Soal Kontroversi Vaksin Meningitis

Nah, ini nih bagian yang paling menarik buat saya. Yakni tentang proses pembuatan vaksin Meningitis. Temans, ternyata ya, Vaksin Meningitis ini memang tidak diproduksi oleh Biofarma karena sifatnya musiman saja dan Meningitis bukanlah penyakit yang mewabah di Indonesia. Namun, hal ini menjadi kontroversi ketika musim haji tiba. Kenapa? Karena vaksin yang diimpor itu, dikabarkan berasal dari babi. Hiy! Mendengarnya saja kita bergidik.  

Tapi tunggu dulu, ternyata fakta yang ada, tidak sedemikian mengerikan. Dari penjelasan yang dipaparkan oleh Ratna Wingit, salah satu staf ahli di Biofarma, memang benar bahwa ada unsur dari babi yang digunakan dalam pembuatan vaksin Meningitis, yakni tripsin, sebuah enzim yang digunakan sebagai katalisator. 

Ratna menerangkan, bahwa saat ilmuwan membuat vaksin meningitis ini pertama kalinya, puluhan tahun yang lalu, diibaratkan sebuah proses pembuatan bonsai. Ada tahapan pembibitan, pemupukan, dan pemotongan ranting-rantingnya sehingga terbentuklah bonsai indah yang kita inginkan. Nah, bisa dianalogikan si tripsin ini tadi adalah sebagai alat pemotongnya. Jadi, sebenarnya tidak masuk ke dalam vaksin itu sendiri.

Well, saya benar-benar baru tahu fakta ini. Dan terheran-heran, betapa ekstrimnya media memberitakan sehingga tiap tahun menjelang musim haji hal ini selalu dibahas tak berkesudahan. #fyuuuh #elapkeringat 

Dan yang bodohnya lagi, mengapa mereka terus memperdebatkan soal unsur "babi" itu di dalam vaksin, sedangkan proses pembuatan "induk vaksin" yang memakai "tripsin" itu telah terjadi lebih dari 50 tahun yang lalu!

Well, silakan masing-masing dari kita menyimpulkan sendiri ;)

Produk Baru Biofarma

Oh iya, Biofarma saat ini memiliki produk baru yang keren lho! Yakni Flubio (Vaksin Influenza) HA dan Vaksin Hepatitis B Rekombinan. Kedua vaksin ini khusus untuk usia > 12 tahun. So, rata-rata karyawan Biofarma divaksin Flubio sehingga tidak ada alasan gak masuk kerja karena flu, hehehe. Namun, vaksin Flubio ini hanya bertahan satu tahun. So, setelah setahun harus diimunisasi lagi.

Selain itu, ternyata Flubio tidak bisa diterapkan untuk penderita alergi telur atau protein. Karena vaksin ini terbuat dari embrio telur.

Vaksin Hepatitis B Rekombinan dimaksudkan agar dapat memproteksi kita dari infeksi virus Hepatitis B. Hal ini wajar karena memang angka kejadian penderita Hepatitis B di Indonesia masih cukup tinggi, terutama di daerah-daerah terpencil yang belum sadar imunisasi.

InfoImunisasi[dot]Com

Pada saat yang bersamaan dengan workshop ini, Biofarma meluncurkan situs website terbarunya, yakni InfoImunisasi[dot]Com. Web ini berisi info-info tentang imunisasi, baik tentang sejarahnya, tips-tips imunisasi, bahkan daftar rumah sakit di Indonesia yang melayani imunisasi. 

Selain itu, dari website ini kita dapat mendapatkan informasi sesuai dengan usia bayi. Jika telah mendaftar di situs ini, maka si ibu akan mendapatkan info melalui handphone. Praktis kan! ;) Selain itu, ada notifikasi atau reminder untuk jadwal imunisasi selanjutnya. 

Wuih, gak kerasa udah panjang banget nih postingan :))

Ah, perjalanan ke Bandung kemarin bener-bener gak sia-sia. Selain mendapat pengetahuan yang mencerahkan, saia juga sempat melahap mencicipi menu-menu sedap di Bancakan! #nyammm 

Well, sejak saat ini saya bertekad untuk mengimunisasi anak saya kelak. Demi kepunahan si virus dan bakteri beserta jajarannya. #elusperut

Dan semua tak ada artinya tanpa bernarsis-ria bukan? :D

Sotoji, Bukan Sekedar Makanan Cepat Saji

Teman-teman tentu tahu kan apa itu Soto. Ya, Soto adalah makanan khas Indonesia yang umumnya terbuat dari kaldu daging dan sayuran. Soto, sroto atau coto ini sangat akrab di lidah masyarakat Indonesia. Namun, yang ingin saya bahas kali ini bukan sekedar soto biasa. Sebuah inovasi produk makanan instan di Indonesia, Sotoji namanya. 

Sotoji atau Soto Jamur Instan adalah salah satu alternatif makanan yang sangat cocok untuk mengganjal rasa lapar. Gabungan antara sohun, jamur tiram, dan bumbunya sangat pas. Kemudahan membuatnya serta rasa yang sangat lengket di lidah membuat saya selalu tergoda untuk menjadikan Sotoji ini sebagai camilan keseharian saya. :D Apalagi kandungan jamur tiramnya sangat sehat dan bergizi. ;) (Informasi lengkap tentang jamur tiram bisa dilihat disini)

Saya mengenal Sotoji ini sejak Pak Rohmat Sugito memberi beberapa kemasan Sotoji untuk teman-teman deBlogger. Saat mencobanya di rumah, yang saya rasakan saat itu adalah aroma jamurnya yang begitu kuat sehingga saya hanya memakan sohunnya saja. 

Waktu berlalu, dan tibalah saat saya merasakan sensasi yang berbeda dengan jamur Sotoji ini. Waktu itu acara KADO #3 di MI Al Falah Depok, dan kebetulan Pak Rohmat sangat berbaik hati memberikan hidangan gratis Sotoji bagi semua peserta. Dan, betapa sumringahnya saya, ketika mencicipi jamur Sotoji yang bentuknya sudah lebih mungil-mungil dari yang di kemasan awal. Rasanya kayak daging ayam! Dan gak ada aroma-aroma aneh sama sekali. Keren! Kok bisa? Akhirnya saya tanya langsung ke Pak Rohmat, dan barulah saya tahu bahwa beliau ini memang tak kunjung berhenti untuk berinovasi menghasilkan produk terbaiknya.

Well, begitulah kisah saya berkenalan dengan Sotoji :D Sekarang mari kita kupas tuntas produknya ;)

Kemasan
Berbeda dengan bungkus produk instan lain, Sotoji dikemas dengan sangat elegan. Perpaduan antara gambar penyajian sotoji yang "eye catching" ditambah warna hijau yang menunjukkan "alami" nya produk ini, membuat kemasan Sotoji ini terlihat sangat siap untuk bersaing di pasaran. Packaging bumbunya juga cukup bagus, plastiknya tebal. Demikian juga dengan jamur tiram goreng yang dibungkus dengan kemasan yang safety sehingga tahan lama. 


Rasa
Saya akui rasa Sotoji ini cukup nendang. Rasa sotonya dapet banget. Kuahnya enak. Namun memang untuk lebih mendapat taste yang lebih, kita harus menambahkan beberapa pelengkap sesuai selera masing-masing. Misalnya, ada yang suka kuahnya banyak, jadi harus menambahkan garam. Atau ada yang suka pedas, baiknya menambahkan saos sambel atau cabai. But, overall, Sotoji ini sangat cocok untuk mendampingi Anda di saat-saat rasa lapar tiba-tiba muncul. Kalau saya, yang istimewa adalah kuahnya. Maknyuss! Apalagi disajikan hangat-hangat di tengah gerimisnya hujan. :D

Saran Penyajian Versi Saya
Sotoji ini memang sangat sayang jika dihidangkan dengan cara biasa-biasa saja. Namun, untuk menjadikannya luar biasa, ternyata hanya membutuhkan bahan-bahan sederhana yang biasa kita pakai di rumah loh! ;)

Tampak Atas

Tampak Samping

Bahan Tambahan :
- Telur rebus, as we know, telur adalah sumber protein yang cukup tinggi.
- Cabai, tentunya akan membuat acara makan Sotoji menjadi tambah seru! :D
- Tomat, selain untuk mempercantik hidangan, ia juga mengandung banyak serat yang bagus buat kesehatan.

Sekelebat Ide
Mengingat Sotoji ini sangat sedap rasanya, sayang bila saya melewatkan kesempatan untuk bereksperimen. Terinspirasi dari ide teman yang ingin membuat bakso dari jamur, saya malah ngarang saja membuat bakwan dari Sotoji. Ternyata enak juga euy! :D

Bakwan Sotoji :D

Cara Membuat :
- Masak sohun dan jamur di dalam air mendidih hingga lembut, tiriskan.
- Masukkan bumbu ke dalamnya, aduk hingga rata, tambahkan air 1/4 gelas kecil atau kira-kira 50 ml.
- Lalu tambahkan 2 sdm tepung beras dan 5 sdm tepung terigu, aduk rata.
- Tambahkan gula secukupnya jika perlu.
- Goreng hingga kuning kecoklatan.
- Bakwan Sotoji siap disajikan.

Plus Minus
Keunggulan produk Sotoji ini bukan saja dalam rasa dan efisiennya waktu penyajian. Namun, Sotoji juga memiliki nilai gizi yang cukup tinggi. Jamur tiram di dalam Sotoji ini diproses sedemikian rupa hingga tidak menghilangkan nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Sehingga, kalau pun Sotoji disajikan begitu saja tanpa pelengkap apapun, sudah cukup memenuhi kebutuhan kalori, protein dan mineral bagi tubuh. But, tentunya kebutuhan kalori, protein, mineral dan zat gizi lainnya pada tiap orang berbeda-beda. Tergantung usia, aktivitas, dan metabolisme tubuh. :)

Sebuah produk baru tentunya tak terhindarkan dari sebuah kritik yang membangun. Saya yakin Sotoji nantinya bisa menjadi makanan instan alternatif yang sangat sehat, murah, dan mudah. Kekurangan yang saya rasakan hanyalah pada rasanya yang sebenarnya masih bisa dibuat lebih tajam, baik rasa asinnya, maupun rasa sotonya. Selain itu, kandungan MSG di dalamnya membuat rasa sotonya sedikit terlalu "kaya" di lidah. Tapi, beberapa waktu lalu saya mendengar akan ada produk baru Sotoji dengan bumbu tanpa MSG! Wow! It's awesome!

Tips
Pertama, untuk mendapat rasa jamur yang benar-benar nikmat dan nendang di lidah, ada baiknya untuk merebus jamurnya lebih lama. Kalau yang saya lakukan adalah, rebus sohun lebih dulu, setelah itu angkat, baru jamur tiramnya direbus selama 2-3 menit sambil di aduk sesekali. 

Kedua, Sajikan selagi masih hangat. Tentu rasanya lebih maknyuss! ;)

Ready! #mmm


Saya yakin, masih banyak ide-ide kreatif lainnya untuk mengembangkan produk Sotoji ini.  Satu yang pasti, Sotoji memang bukan sekedar makanan cepat saji. ;)