Wednesday, January 12, 2011

"Dah sampe mana hafalannya?"

Beberapa hari yang lalu, saat bersilaturrahim dengan teman-teman seperjuangan di sebuah acara, saya iseng bertanya dengan anak dari salah satu Mbak yang ikut dalam acara itu.

"Adek sekarang hafalannya dah sampe mana?", saya bertanya dengan santai sambil menikmati acara tersebut. 

Lalu, ia juga menjawab dengan santai sambil cuek menatap ke depan, "Al Qolam". 

*glekkk* Saya benar-benar tertohok, tertampar keras sekaligus malu. Betapa saya sungguh malu, mengingat hafalan saya yang masih cekak. Saya teringat bagaimana susah payahnya menghafalkan sepertiga jumlah surat dari Al Qur'an. Sedangkan anak ini, sudah jauh ke depan, Juz 29! Padahal ia baru kelas 3 SD!

Malu. Asli. Malu sekali. Betapa saya sering melonggarkan diri untuk tidak menghafal ayat-ayat suci. Betapa saya sering berharap pada ucapan `nanti'. "Nanti saja lah, kan masih ada waktu".

Dan saya semakin tertampar keras, saat melihat rekaman video para Hafizh dari Tajkistan. Adalah Muhammad Ayub, usianya baru 7 tahun. Ia adalah salah satu penghafal Al-Qur'an terkecil di dunia dari Badan Tahfizh Al-Qur'an Internasional. Mendengarkan ia sedang tasmi' dengan kualitas bacaan yang luar biasa, saya merinding. Ada beberapa anak lagi yang sempat saya dengarkan hafalannya, Mihrabuddin (7 tahun), Shalaahuddin (7 tahun), dan Najmuddin (6 tahun). Kesemua anak-anak itu adalah Hafizh, hafal seluruh Al-Qur'an. Subhanallah...



Ingin sekali saya membagi videonya disini, hanya saja belum sempat saya edit. Pokoknya mendengarkan anak-anak itu bersenandung Al-Qur'an, saya merinding, sekaligus iri.

Maka pertanyaan yang harus segera diajukan pada diri kita adalah, "Dah sampe mana hafalannya?"

(ninja) *dissapear*


Sumber gambar dari sini

Sunday, January 09, 2011

Dunia Pasti Berputar

Mengingat kord lagu ini cukup mudah bagi saya (kecuali F), maka patut dicoba. Here we go :

C           G    Am G
Dunia pasti berputar
F      Em      Dm      G
Ada saatnya semua harus berubah
C           G    Am   G
Ingat pasti bertukar
  F        Em      Dm    G
Kita harus siap hadapi semua
F               G
Ikhlaskan segalanya
  F                G         C
Jalani semua yang ada di dunia

Int: G Am G F Em Dm G

C           G    Am G
Dunia pasti berputar
F      Em      Dm      G
Ada saatnya semua harus berubah
F               G
Ikhlaskan segalanya
  F                G
Jalani semua yang ada…
C           G    Am G
Dunia pasti berputar
F      Em      Dm      G
Ada saatnya semua harus berubah
C           G    Am   G
Ingat pasti bertukar
  F        Em      Dm    G
Kita harus siap hadapi semua
F               G
Ikhlaskan segalanya
  F                G
Jalani semua yang ada.. ho ho ho hoho

Interlude: Am G C Dm E
           Am-G Am G C
           D Dm G

           C                 G
Ho ho ho Tuhan pasti berikan kita
    Am        Em
Segala yang indah
  F        C      Dm        G
Dengan segala anugerah tuk kita
  C                 G      Am       Em
Yakinkan kita pasti bisa jalani semua
  F                      G
Jagalah semua yang telah ada
    Dm     G
Tuk hidup kita
C           G    Am G
Dunia pasti berputar
F      Em      Dm      G
Ada saatnya semua harus berubah
C           G    Am   G
Ingat pasti bertukar
  F        Em      Dm    G
Kita harus siap hadapi semua
F               G
Ikhlaskan segalanya
  F                G         C G Am G
Jalani semua yang ada di dunia

Coda: F Em Dm G

***

Saya suka lagu ini, lirik yg meneduhkan jiwa ditambah dengan nada-nada yang pas di hati, menjadikan lagu ini enak didendangkan di waktu-waktu sela. Cuma jari saya belum terbiasa dengan kunci F, masih ancur! :D


Chords source : from here

Saturday, January 08, 2011

About Music

Musik, aku mengenalnya sejak masih sangat mungil. Teringat dulu, ketika aku suka menghapal semua lagu yang kudengar, entah itu lagu anak-anak atau lagu orang dewasa. Teringat dulu, ketika aku sering meminta Papa untuk memainkan pianonya, lalu aku bernyanyi dengan riang. Tak ada pelajaran disana, entah itu tentang nada, tempo, apalagi genre musik. Tahukah apa yang dihasilkan dari musik? Sebuah perasaan yang tak tergambarkan, ada riang disana, ada ketenangan disana. Dengan musik, hati seolah bisa mengadu begitu saja. Mengadukan apapun. 

Saat dewasa, aku mengerti bahwa menciptakan harmonisasi sebuah karya seni musik tidaklah mudah. Teknik yang berbeda di setiap alat musik memberi warna yang sangat menakjubkan. Ingin rasanya diri ini menjadi bagian dari harmoni itu. Tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin bisa menghibur diriku sendiri, dengan harmoni. Namun, mengetahui tingkat kesulitan dari setiap alat musik adalah seperti menatap langit. Jauh, seolah tak terjangkau. Lalu kucoba mengurai dari yang paling sulit kujangkau, dan akhirnya kutemukan jawabnya.

Gitar. Ya, gitar. Sebuah alat musik yang mudah ditemui dimana saja. Di kampung paling pelosok sekalipun. Bahkan pengamen yang tak mampu membeli gitar paling murah pun bisa membuatnya sendiri. Lihat saja penampakan ini :

Maka bisa dibilang, gitar adalah alat musik yang `merakyat`. Sejak dulu, aku sudah jatuh cinta pada gitar. Ingin sekali rasanya memetik senar-senarnya, memainkan jemari mencari nada-nada indah. Namun, aku baru bisa mewujudkannya saat merantau, akhir 2009 lalu. Itupun tak ada yang bisa mengajari bagaimana teknik bergitar dengan benar. Otodidak saja, cari lagu jenis chordnya sedikit, lalu mencoba memainkannya satu demi satu. Maka bisa ditebak hasilnya, berantakan. Namun, walau cara bermain gitar masih payah, ada kesenangan tersendiri saat bisa menaklukkan sebuah kunci nada. 

Gitar, mudah dibawa kemana saja, bisa dimainkan dimana saja, namun harmonisasi yang dihasilkannya sungguh menakjubkan. Ada banyak gitaris yang bisa menginspirasi jiwa-jiwa musikal. Sebut saja salah seorang gitaris anak bangsa, Jubing Kristianto. Ia menciptakan sebuah karya musik yang fenomenal sekaligus menakjubkan.

 


Melihat dan mendengar aksi solo guitar tersebut, membuat saya terkagum-kagum. Betapa sebuah harmoni yang menakjubkan bisa diciptakan dengan teknik sedemikian rupa. It's awesome. 

Saya yakin, masih ada begitu banyak karya seni musik yang hebat di dunia ini. Ada begitu banyak pelaku seni musik dengan genre musik yang berbeda, dengan alat musik yang berbeda pula.

Musik, ada satu hal yang pasti kita temui di dalamnya; sebuah kekayaan tiada tara.

Thursday, January 06, 2011

Rintik

 
Rintik itu datang padaku
Aku membatu

Kelak gerimis kan meringis
Namun karangku takkan terkikis

Pun saat deras menderu
Aku membeku

Maka hujanilah
Entah rintik, gerimis, atau deru itu
Jika kau cukup keras

Sumber foto dari sini.

Saturday, January 01, 2011

2011; Tahun Baru, Semangat Baru!

Di tahun baru ini, tentunya kita semua bersemangat untuk menjalankan semua rencana yang telah kita desain saat akhir 2010 kemarin. Ada banyak harapan baru serta target-target baru yang akan mewarnai tahun baru kali ini. Semuanya tentu dalam rangka menjadikan segala sesuatunya lebih baik dari hari kemarin.

So, sebelum saya beranjak lebih jauh, saya ingin membuat sedikit review untuk tahun 2010. Here we go!

Bertemu dengan banyak blogger
Subhanallah, walhamdulillah... saya bisa hadir di beberapa agenda blogger di tahun 2010 ini. Bertemu langsung dengan para blogger yang hanya saya kenal dari layar monitor memang asyik. Amprokan Blogger yang diadakan di Bekasi, miladeBlogger, SOLO serta Pesta Blogger membuat saya cukup terperangah, bahwa ternyata ada begitu banyak blogger aktif di Indonesia yang begitu bersemangat dalam menulis. 

Kopdar! Ya... kopdar memang selalu menghadirkan sesuatu yang berbeda. Apalagi para blogger yang datang di event-event itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain bisa kopdar, acara semacam ini juga bisa dimanfaatkan untuk hunting foto dan jalan-jalan. :D Satu yang pasti, hal positif yang bisa kita dapatkan adalah semangat menulis (walau tahun 2010 ini postingan saya kebanyakan puisinya). :p


Lompatan Tak Terduga
Menjelang akhir 2010, saya mendapatkan sebuah peluang yang sama sekali tak terpikirkan dan tak terlintaskan di benak saya. Jurnalis. Ya, September lalu saya ditawari oleh seorang teman untuk mengambil job yang sebenarnya ditawarkan padanya. Awalnya saya ragu pada diri sendiri, 'Apakah saya mampu?' Namun, karena dorongan keinginan untuk mencoba hal yang baru, 'Why not?'

Satu hal yang saya sukai dari pekerjaan baru ini adalah freedom. Saya bebas bekerja kapan saja dan dimana saja tanpa terikat ruang dan waktu. Saya bisa mengerjakannya sambil jalan-jalan ataupun saat bersantai di rumah. Tapi, kendala terbesar yang sampai saat ini saya masih terus mencoba beradaptasi adalah gaya penulisan. Terjebak dalam diksi-diksi puisi selama nyaris setahun ini membuat saya agak sulit menemukan `feel` saat saya menulis artikel-artikel jurnalistik. But, I'm sure I can learn to be better.

Ada sesuatu yang menggelikan jika seseorang menanyakan tentang pekerjaan dan latar belakang pendidikan saya. Basic perawat, suka IT, tapi bekerja sebagai kontributor majalah. Saat saya bekerja sebagai IT Support, orang-orang akan bertanya, "Dulu lulusan mana? Ngambil spesialisasi IT apa?" Widih.... *saya bergidik sambil geli sendiri* Lantas saya jawab saja seadanya, "Saya basic-nya perawat kok, tapi suka IT." :p Begitu juga saat ini, ada yang bahkan bertanya, "Kamu anak Komunikasi ya?" :D Teman-teman lama yang baru tahu pekerjaan terakhir saya ini pun terheran-heran, "Lho! Bukannya kamu perawat? Kok bisa sampe ke majalah sih?" Dan saya hanya bisa nyengir-nyengir dan menjelaskan seadanya. :D Yang pasti, this is a great jump!

Sakit 
Ugh! Sakit memang bukan teman akrab bagi seorang Cici Silent. Namun di pertengahan September lalu, saya benar-benar KO! Dirawat di rumah sakit pulak! (doh) Saya kira, proses recovery kesehatan hanya akan berjalan satu minggu saja. Nyatanya lebih dari satu bulan temans! Parah. Namun, saya sadar bahwa kesemuanya itu disebabkan oleh ketidakpedulian terhadap diri. Mungkin saya telah begitu sering memaksakan diri sampai di titik terakhir stamina. Dan memang Allah menegur saya dengan sakit hingga saya benar-benar sadar bahwa ada hak tubuh untuk diistirahatkan, bahwa ada hak anggota tubuh untuk dipenuhi secara maksimal kebutuhannya. Benarlah kata-kata bijak yang sering kita dengar, "Ingatlah sehatmu, sebelum sakitmu".


Yogyakarta
Sejak saya menginjakkan kaki di kota ini 3 Oktober 2009 lalu, saya telah jatuh cinta padanya. Keramahan penduduknya, ketenangan kotanya, keindahan alamnya, kekayaan budayanya membuat saya benar-benar jatuh cinta. Di akhir 2010 lalu, saat menjadi relawan Dompet Dhuafa untuk korban Merapi, saya cukup lama berada di Jogja. Setiap hari berinteraksi dengan orang-orang Jawa dengan bahasa khasnya, mengunjungi tempat-tempat yang menakjubkan, menyaksikan budaya mereka yang begitu mengesankan membuat saya benar-benar selalu rindu akan Jogja. 

Maka sejatinya, Yogyakarta telah membuat khasanah petualangan saya semakin kaya.


Picture of the year

Senja yang indah, diapit dua buah atap yang saling bersisian. 
(Kos Puri Ayu, Jakarta Selatan, 27 Januari 2010)


Sebuah scene hijau menarik di Jababeka. 
(Bekasi, 06 Maret 2010)


Pernak-pernik lampu cantik di sebuah masjid yang begitu menarik perhatian saya. 
(Bogor, 20 Maret 2010)


Senja di Daarut Tauhid. 
(Bandung, 18 April 2010)


Menyeberangi Selat Sunda. 
(23 April 2010)


Liku jalan menuju perbatasan puncak Gunung Dempo. 
(Pagar Alam, 28 April 2010)


Simetris di Masjid Kubah Emas. 
(Depok, 29 Mei 2010)


Saat melakukan Aksi Layanan Sehat ke Muntilan. 
(Yogyakarta, 13 November 2010)


Salah satu pantai di Gunung Kidul yang cukup indah, Baron. 
(Yogyakarta, 20 November 2010)


Gunung Dempo saat senja. Diambil dari Alun-alun kota. 
(Pagar Alam, 28 Desember 2010)


Pemandangan yang jarang saya lewatkan kala berkunjung ke rumah nenek. 
(Pagar Alam, 31 Desember 2010)


Demikian. Semoga kita mengawali tahun baru juga dengan semangat baru. Chayooo!

Tuesday, December 28, 2010

Reflection

Tak terasa, waktu seolah pergi begitu saja tanpa sempat menyapa. Setahun sudah hari-hari dijalani. Entah dengan penuh semangat hati. Entah dengan langkah sepi. 

2010, sebuah tahun yang penuh dengan warna-warni. Ada begitu banyak hal yang kutemui di tahun ini. Sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak biasa. Ada banyak kejadian menggelikan, memilukan, bahkan mengejutkan.

Setelah mengalami berbagai macam lika-liku hidup, melewati sejumlah petualangan dan perjalanan yang bersahabat dengan tantangan, tertempah dengan karakter keras dan impresif, sepertinya tak membuat semesta membiarkanku jera. Ternyata ada berupa-rupa ujian yang tampak lembut dan ramah, namun tak ubahnya seperti bunga Rafflesia; begitu indah namun busuk adanya, siap menelanmu ke dalam kegelapan tanpa batas. 

Ada begitu banyak hal yang sebenarnya bisa lebih baik dari yang telah kulakukan. Selisih kualitas. Ya, mungkin sudah terlalu banyak yang tidak mendapat porsi perhatian yang penuh dariku. Aku terlalu sibuk dengan hal yang sama sekali tak pantas dan tak patut untuk mengambil alih porsi itu. Aku terlalu sibuk bermain-main dengan ekspektasi yang sejatinya hanya ada di dalam fiksi-fiksi. Dan aku terlalu sibuk bertaruh pada diriku sendiri, sejauh apa konsekuensi terburuk itu akan mencabik diri atau bahkan lebih dari itu; mematikan diri sendiri.

`Ah, namun Cici tetaplah Cici. Sejauh apapun rencananya, ia akan tetap pada intuisi dan idealismenya.`

Aku beruntung. Memiliki semacam kebiasaan rasa yang tak dapat kupanggil sewaktu-waktu, namun tak dapat kucegah dan kutampik bila ia datang. Aku juga beruntung. Memiliki insting detektif alami sekaligus watak impresif nan tersembunyi. Semua itu tentunya tak lepas dari skenario yang telah Allah desain.

Di akhir tahun ini, kucoba untuk berkaca. Seperti apakah gerangan, wajah yang tampak dalam cermin. Kucoba menembus batas-batas rupa. Kutemukan banyak sekali noktah disana. Satu demi satu bermunculan, meminta dan menuntut pertanggungjawaban. Namun apa dikata, waktu tak dapat kembali, ia telah sirna.

Aku teringat dengan sebuah quote, "Hal-hal paling penting tidak pernah boleh berada di bawah hal-hal yang paling tidak penting". Mungkin sudah terlalu banyak prioritas yang terbolak-balik. Sudah terlalu banyak hal-hal yang paling tidak penting menjadi sebuah hal yang seolah-olah paling penting dalam hidup. Betapa di tahun 2010 ini aku menjadi begitu miskin prioritas. *astaghfirullah...*

Resolusi memang sebuah keniscayaan. Namun terkadang kesungguhan di dalamnya menjadi tantangan tersendiri. Ada begitu banyak resolusi yang kita sepakati sendiri, namun ironisnya juga kita khianati sendiri. Lagi-lagi takkan ada yang mampu mengurainya selain diri kita sendiri. Maka aku takkan menuliskan resolusi apapun disini, cukuplah ada di benak hati.

Di penghujung 2010 ini, izinkan aku untuk berterima kasih.
Terima kasih... pada siapapun yang telah melukai hatiku, karena engkau telah membuatku kuat.
Terima kasih... pada siapapun yang telah membohongiku, karena engkau membuat hidupku lebih bijak.
Terima kasih... pada siapapun yang membenciku, karena engkau mengasah ketegaranku.
Terima kasih... pada siapapun yang menzholimiku, karena engkaulah yang menyebabkan do'aku terkabulkan.

Segala puji bagi Allah... di akhir tahun ini semua pertanyaanku terjawab sudah. Sebuah jawaban do'a dari harap yang sederhana. Semesta memeluk takdirnya, bumi merunduk hatinya. Potongan-potongan sketsa itu menemukan mozaiknya.

"Hidup dan nasib, bisa nampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan." (Harun Yahya, from opening at Edensor)


(Gunung Dempo, taken from Tebat Gheban, Pagar Alam)

Bilakah saatnya
Kala kita berkaca
Yang nampak adalah indahnya
Indah dalam hati dan jiwa

Tuesday, December 14, 2010

Belajarlah Lupa

 
 
Telah begitu lama
Kau belajar untuk mengingat semua
Menghapal nama-nama dan peristiwa
Merekam bait-bait di kedalaman rasa
Meresapi makna pada relung jiwa

Namun tak maukah kau coba sekali saja
Belajarlah lupa

Sumber gambar dari sini

Sunday, November 07, 2010

Maukah Kau Tahu

Wahai bahasa, masih miskinkah rasa
Jatuh merapuh
Berdebam dalam lumpur asa

Duhai kata, masih dangkalkah makna
Hanyut terlerai, cerai
Berpencar ke segala arahnya


Aku tahu itu rasa
Aku tahu dalamnya makna
Tapi maukah kau tahu?

Gambar diambil dari sini

Wednesday, November 03, 2010

Tentang Sahabat

Teman, aku punya tiga kisah. Kisah tentang sahabatku yang semoga dapat kita ambil hikmahnya.




Cerita Pertama

Ia sahabatku, sahabat setiaku. Aku memahaminya, dan ia pun sangat memahamiku. Ia seorang yang sederhana, dari keluarga sederhana, dan memiliki impian sederhana. Pertemuanku dengannya sebetulnya bisa dibilang by accident. Namun atas izinNya, kami pun berteman, saling mengenal, bertukar cerita, berdiskusi, dan sebagainya. 

Waktu berlalu, dengan kesibukan masing-masing kami pun sudah jarang bertemu. Jika ada momen-momen yang memungkinkan kami berbincang, maka kami sempatkan waktu itu untuk memanfaatkannya menjadi sebuah pertemuan yang berkualitas. Namun jika tidak –dalam sebuah rapat organisasi misalnya- kami hanya bisa saling memandang, saling menerobos ruang hati lalu bergumam, “Apa kabarmu wahai sahabatku?” dan aku pun hanya mendapatkan jawaban dari senyuman dan tatapan matanya.

Terkadang jika aku sempat, kudatangi ia di rumahnya, kuberikan kejutan. Ia nampak begitu senang. Aku pun turut senang untuknya. Lalu kami memutar sebuah album nasyid, bernyanyi bersama, tertawa bersama. Ah, indah sekali mengenangnya.

Tiga tahun lalu, ia menikah. Aku begitu antusias membantunya menyiapkan pernikahan. Kulakukan apa yang mampu kulakukan untuknya. Aku sungguh ikut berbahagia dengan pernikahannya. Menemaninya di momen-momen penting dalam hidupnya. Walau aku sadar, ia akan memiliki kehidupan yang baru. Tanggung jawab dan kewajiban sebagai istri, juga sebagai seorang ibu kelak. Namun, aku yakin ada ikatan yang kokoh di antara kami. 

Satu tahun lebih setelah pernikahannya, ia dikaruniai seorang anak. Cantik namanya, secantik maknanya. Namun disinilah Allah menguji sahabatku. Anaknya menderita penyakit bawaan yang dapat membuatnya cacat mental (down syndrome). Bayi mungil nan cantik itu seringkali diserang kejang-kejang pada beberapa bagian tubuhnya dan mengakibatkan otaknya menciut. Sedih hatiku melihatnya, namun selalu kutampakkan wajah penuh optimisme pada ibunya, bahwa ia harus yakin… masih banyak yang bisa diusahakan, bahwa teknologi terkini akan mampu mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Bahwa jika pun nanti anaknya menderita epilepsi, semua masih bisa dikendalikan. Bahkan seorang Galileo, Newton dan banyak orang hebat lainnya adalah penderita epilepsi.

Di tengah cobaan yang menggiriskan itu, cobaan lain pun datang menghampiri sahabatku. Suami dan keluarganya menentang pengobatan medis, dan menyuruhnya berobat ke orang pintar. Ia bercerita padaku sambil terisak. Geram aku mendengarnya. Bagaimana mungkin suaminya yang seorang sarjana bisa lebih percaya pada dukun?! Komunikasi sudah cacat fungsi. Suaminya hanya bisa menuruti kata-kata ibunya. Sahabatku bingung setengah mati, memilih antara logika yang sehat dan loyalitas pada suami. Beruntung, hari itu hujan deras. Sang dukun pun tak jadi datang.

Berbulan berikutnya, aku singgah ke rumahnya. Ia masih mengajar di sebuah sekolah swasta, sambil mengasuh seorang anak yang istimewa. Alhamdulillah, kini suaminya telah mengerti dan mengupayakan pengobatan terbaik bagi anak mereka. 

Kabar terakhir kudengar, sahabatku itu telah hamil lagi. Namun aku yakin padanya, pada semangatnya yang sederhana namun mempesona, pada senyuman yang penuh ketegaran, pada pengabdian yang penuh keikhlasan.


Cerita Kedua

Ia sahabatku. Teman satu sekolah saat SMP dulu. Ia pintar namun sungguh pemalu. Aku ingat ketika dulu waktu pelajaran seni suara, ia bernyanyi dengan merdu namun matanya tak berani menatap seisi kelas, ia malu. Prestasinya sungguh membanggakan. Bayangkan saja, di antara ribuan siswa ia nomor satu. Ya, kecerdasannya tak perlu diragukan lagi.

Di sekolah menengah, aku tak tahu lagi kabarnya karena kami memang melanjutkan sekolah di kota yang berbeda. Kudengar ia masih berprestasi, seperti dulu.

Beberapa tahun kemudian, saat aku kembali ke kota kecil itu, aku berjumpa kembali dengannya. Namun siapa sangka, dunia seolah tak berpihak padanya. Wajahnya sendu, lebih tepatnya muram. Ia tengah berperang dengan para petinggi civitas akademika. Berperang batin antara nurani, keculasan dan logika. Ia ingin idealismenya tegap tertegak. Namun, dunia pendidikan yang ia temui sungguh otoriter, dimana kecerdasan tak lagi dicari, kreativitas dan inovasi tak lagi laku. Semuanya uang dan keangkuhan. 

Sahabatku tetap berjalan di jalan yang ia pilih. Walau ia pada akhirnya lulus kuliah dengan nilai yang tidak memuaskan. Namun, ia tetap tegar dan melanjutkan hidup. Bagiamanapun, penilaian manusia pada dasarnya semua relatif. Apalah artinya nilai A jika pemahaman kita hanya sebatas kata-kata tanpa mampu menyelami maknanya? 

Beberapa saat setelah lulus kuliah, ia mengajar sebagai tenaga honor di salah satu sekolah negeri. Realita yang menggiriskan pun kembali ia temui. Ia menerima gaji namun angka yang tertera di kertas, jauh di atas nominal yang ia terima. Dan ia dipaksa nasib untuk membubuhkan paraf di kertas yang penuh rekayasa itu. 

Aku benci mendengarnya. Benci meilhat sahabatku yang dizholimi dan dikebiri haknya. Benci dengan sistem dan segala tipu daya pengagung dunia. Benci.

Aku hanya bisa menghibur sahabatku, bahwa rezeki Allah lah yang mengaturnya. Bahwa Allah Maha adil dan takkan meninggalkan hamba-hambaNya. Bahwa bersabar adalah obat segala-galanya.

Beberapa waktu lalu, aku mendengar kabar mengejutkan sekaligus menyenangkan. Sahabatku itu kini telah lulus PNS di salah satu kota Propinsi Sumatera Selatan. Murni. Tanpa sogokan yang dilakukan kebanyakan orang. Subhanallah… walhamdulillah… Semoga engkau senantiasa dalam lindunganNya, sahabatku…


Cerita Ketiga

Ia sahabatku, salah satu penggemar karya-karya anak Belitong yang nyentrik tapi menarik itu –Andrea Hirata- sama sepertiku. Pemikirannya biasa saja, namun kedewasaan dan kemauannya untuk terus belajar dari saiapapun tak mengenal usia, itulah yang menajdi daya tarik pribadinya.

Suatu saat, ia diuji oleh Allah. Di siang yang tenang, ia tengah membuat bakso, membantu bisnis mertuanya yang memang tengah berkembang. Entah kenapa, kali itu ia tak memakai sandal. Tak seperti biasanya. Beberapa saat kemudian setelah menggiling daging, tiba-tiba ia terpeleset. Mencegah jatuh, tangan kirinya reflek menggapai-gapai sekitar. Disinilah tragedi itu berawal, tangan kirinya yang tak terkendali itu masuk ke dalam mesin giling daging yang ternyata belum dimatikan.

Jari-jarinya mulai tertarik dan dilumat oleh besi-besi penggiling itu. Namun ia hanya bisa menjerit tanpa mampu mematikan mesinnya. Detik terus berjalan, mesin itu pun meremukkan jemarinya tanpa ampun. Orang yang melihat kejadian itu panik, hanya bisa ternganga, terdiam, tak kuasa menolongnya. Akhirnya, dengan menahankan rasa sakit, ia berusaha mematikan sendiri mesin itu. Dan bersaranglah keempat jari-jari tangan kirinya, terjepit di antara besi-besi. 

Semua orang akhirnya berkumpul membantunya, namun tak ada yang bisa dilakukan karena saat jemari itu ditarik, maka akan terasa perih yang sangat dahsyat. Tak ada jalan lain, mesin itu harus dibongkar. Perlu waktu 1 jam untuk mengeluarkan jemari itu. Dan setelah ditangani oleh dokter di rumah sakit tempatku dulu bekerja, butuh waktu 2 jam untuk menanganinya. Seperti yang diduga oleh rekan-rekan perawat yang mengerti tentang ini, akan ada kemungkinan-kemungkinan terburuk. Mengingat banyak sekali otot-otot kecil di jemari itu yang sudah berpindah satu sama lain, tak bisa disatukan lagi. Rangkanya pun telah remuk, seremuk hati sahabatku saat itu.

Saat menemuinya, hatiku ngilu. Namun ia masih tersenyum seperti biasanya. “Mungkin saya ini banyak dosa, dan Allah menjadikan ini sebagai jalan untuk mendapat ampunan dan hidayahNya”, ujarnya.

Ah, aku salut akan ketabahannya.

Sahabatku itu menjalani beberapa operasi. Dan kini, jemari tangan kirinya tinggal tiga, namun semangat hidupnya bertambah. Ia kini berbahagia dalam hidayah. Dua jarinya telah tiada namun kehilangan itu membuatnya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.

Sewaktu pulang kemarin, mendapat kabar dariku bahwa aku membawa karya Andrea Hirata terbaru, Padang Bulan, ia mampir. Aku senang melihatnya ceria, semangatnya masih seperti dulu. Ia seolah telah lupa tentang kehilangan. Subhanallah… hidupnya tercerahkan dengan ujian.

Gambar diambil dari sini

Saturday, October 23, 2010

Kertas Hati



Mungkin, kertas kosong itu t'lah lama menantiku
Dalam keletihan, panjangnya penantian
Terkadang aku heran, mengapakah ia tak membiarkan pena lain?
Bukankah warna mereka penuh pesona?

Lalu aku pun mendengar lirih jawabnya, "Aku tak mampu berganti hati. Aku hanya ingin setia".


Gambar diambil dari sini

*Mengakhiri masa hibernasi*