Friday, November 03, 2006

T V

Pada suatu waktu, seorang anak SD baru pulang dari sekolah, terdengarlah olehnya lantunan merdu lagu grup band favoritnya yang sedang konser dan ditayangkan secara langsung oleh TV, "Kau hancurkan hatiku, kau hancurkan lagi …", serta merta ia langsung memelototi TV sambil bersenandung mengikuti lantunan lagu, tak lupa kepalanya diangguk-anggukkan, tak hirau dengan tas berat penuh buku yang masih tersandang di bahu belakang, tak peduli dengan kakinya yang masih hangat terbungkus sepatu. Tak peduli dengan bau keringat seragamnya. Anak negeri itu sangat menikmati alunan musik yang terdengar. Tapi, saat sedang asyik dengan lagu itu, suara ibunya terdengar keras, "Budi…! Ganti baju dulu!"

***

Di suatu malam, seorang aktivis dakwah sedang duduk santai menonton berita, 'Seorang aktivis kan harus mengetahui perkembangan dunia', begitu alasannya. Tapi entah sadar atau tidak, ia kemudian mengambil remote control, mengonta-ganti channel TV dan akhirnya ia melihat sebuah film yang menarik, film tentang penelitian luar angkasa. "Great !" Dia berucap. 'Ah, ga pa pa lah sekali-sekali aku menonton film Hollywood, lagian kan menambah ilmu pengetahuan juga', dalihnya. Begitu asyiknya ia menonton, ia begitu menikmati film itu sampai-sampai ia telah lupa aktivitas yang harus dikerjakannya. Otaknya berputar-putar, berpikir tentang jalan cerita film itu. Ia mulai hafal nama-nama pemain film sekaligus karakter-karakter mereka. Sesaat ia mengangguk-anggukkan kepala, sesaat kemudian ia tersenyum-senyum. Kalo dihitung berapa kali ia berkedip per menitnya, mungkin hanya sepuluh kali berkedip. Masya Allah, ia begitu fokus menatap TV di depannya. Begitu film selesai, diliriknya jam dinding, pukul 22.30 pm, "Astaghfirullah, aku belum sholat isya!"

***

TV … oh TV … Berjuta-juta, bahkan bermilyar, bertrilyun orang-orang di bumi ini selalu setia menatapmu. Begitu rela, membayar semahal apapun hargamu, membelikan lemari khusus yang indah untuk menjadi tempatmu. Berjuta-juta pula orang berduyun-duyun mengantri demi mengikuti audisi untuk tampil di layarmu. Begitu banyak orang bersusah payah membuat sebuah film, syuting berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan demi tampil perfect dan disukai penontonmu. Begitu banyak orang yang menjadi penggemarmu. Dari balita sampai manula. Dari anak TK sampai sarjana. Dari orang melarat sampai konglomerat.

Namun sayang, oh TVku malang, kebanyakan yang kau tayangkan hanyalah acara yang tak layak ditonton. Betapa banyak orang yang menghabiskan berjam-jam waktu berharga hanya demi menonton tayanganmu yang sarat dengan nafsu dunia. Betapa banyak orang-orang yang berbuat bathil hanya karena efek dari tayanganmu. Betapa banyak orang-orang yang pekerjaannya terbengkalai hanya karena terbius oleh acaramu. Betapa jarang engkau menayangkan acara yang memberi motivasi, betapa jarang engkau menampilkan acara yang mencerahkan. Apatah lagi mau menayangkan film islami yang mendidik dan penuh hikmah.

Semua sinetron yang penuh dengan ambisi dunia, kemarahan, kejahatan, persekongkolan busuk, kenakalan remaja, tak satu pun mendidik. Iklan-iklan tak berbobot. Kuis-kuis yang membuat semua orang terlena & terlelap dalam mimpi. Apalagi infotainment yang merusak, yang membuat kita memakan daging bangkai saudara sendiri. Berita pun tak ketinggalan, ada banyak berita yang dibelokkan arah kebenarannya. Belum lagi acara-acara lain yang sarat dengan kesia-siaan.

Ada apa dengan TV kita ? Tentunya tidak ada yang salah dengan TV. TV adalah hasil prestasi hebat dari seorang ilmuwan yang menciptanya. TV adalah salah satu sarana bagi manusia untuk menyampaikan informasi. Ya, awalnya TV memang sekedar sarana untuk menyampaikan informasi kepada publik. Tapi karena bosan dan jenuh, maka ditambah dengan acara-acara hiburan. Setelah berjalan lama, orang pun semakin banyak membuat film, kemudian disusul dengan sinetron, drama, dan banyak acara lain yang saling bermunculan sehingga menjadikan TV kehilangan misi utamanya. Tentu kita semua ingat, dulu selalu ada 'Berita Malam' dan 'Dunia Dalam Berita' dimana semua stasiun TV swasta bergabung dengan TVRI. Tapi, entah karena apa & entah oleh siapa, tiba-tiba acara itu dihapuskan. Dan sekarang TV bukan lagi menjadi sumber informasi dan sarana hiburan, tapi menjadi barang yang harus dengan sangat hati-hati dan proporsional menggunakannya karena bergitu banyak tayangan yang merusak.

Sungguh ironis masyarakat kita, hanya menerima tayangan yang ada. Nrimo wae lah. What you see is what you get. Gitu katanya. Padahal kita sebagai seorang manusia, kita punya kemampuan untuk memilih, the power to choose. Yah, memilih tayangan TV adalah PR kita yang cukup sulit. Mari hadapi TV dengan bijak dengan memilih tayangan-tayangan yang ada, apakah itu layak kita tonton atau tidak. Karena hakikat sebuah hiburan adalah juga mengingatkan kita pada Allah Sang Pencipta Seni. Kalo hiburan itu tidak membuat kita ingat pada Allah, bahkan membuat kita lalai, apa lagi ibadah yang merupakan kewajiban jadi terbengkalai, maka kita harus benar-benar menghindarinya. So, just say : "TV… muke lu jauh…" :D

***

Berhibur tiada salahnya
Karena hiburan itu indah
Hanya apabila salah memilihnya
Membuat kita jadi bersalah…
(Lirik Nasyid "Berhibur" by Raihan)
_______

By : cici (November 3rd, 2006. In the bright noon)