Wednesday, June 16, 2010

Analogi Kreasi

Saat kau menciptakan sesuatu, idemu bernyanyi, kreativitasmu menari, inovasimu memainkan melodi. Namun kemudian otakmu membelahnya, mencercanya, lalu bahkan mungkin menghancurkannya hanya demi sebuah tujuan bernama kesempurnaan. 

Seorang pelukis, mungkin saja akan menghapus seluruh lukisan yang telah begitu susah payah dibuatnya, lalu mengubah semuanya menjadi warna hitam, gelap. Sesaat kemudian, ia lalu mengukir kembali tanpa ragu, tanpa menyesali kekeliruan karya sebelumnya yang ia pikir tak sempurna. Namun, berminggu kemudian lukisan yang kelam dan gelap itu berubah menjadi sebuah karya indah penuh warna, megah.

Seorang pembuat mainan, tentu akan senang bila karyanya membuat orang lain puas dalam senyum dan tawa. Karena itu, ia tak lepas dari cara-cara briliannya untuk memenuhi setiap ekspektasi. Ia membuat desain, menciptakan sesuatu, lalu menghidupkannya. Namun, seringkali terlihat ia meratapi hasil ciptaannya. Tak puas. Belum sempurna. Serta-merta ia mengubah mainan itu. Ia merusak konsepnya, memotongnya, melepaskan aksesorisnya satu-persatu, bahkan menghancurkannya sama sekali, hanya untuk membuat satu perubahan; menjadi lebih baik, lebih sempurna.

Seorang ilmuwan, bisa saja sewaktu-waktu membanting keras mesin hasil percobaannya. Kesal, marah, semuanya tertumpah. Namun di hati kecilnya, tentu ia sadar sepenuhnya bahwa yang ia lakukan hanyalah disebabkan karena semua itu belum sempurna, belum menjadi seperti yang benar-benar ia inginkan. Di tengah kondisi psikis yang labil itu, ia tak kehilangan akal sehat. Seburuk dan sehancur apapun percobaannya yang gagal, ia akan ikhlas untuk memulai lagi, dengan konsep yang lebih baik, dengan teknik yang lebih sempurna. 

Begitu juga Tuhan, yang telah menciptakan kita dengan wujud yang sebaik-baiknya. Namun, secara bertahap kita akan merasa bahwa Ia mulai melukai, menyiksa, bahkan menghancurkan kita. Kita tak tahu, kita tak paham maksud dari semua itu. Kita sedih, kita tak nyaman, kita protes, bahkan mungkin kita akan menjadi apatis pada Yang menciptakan kita. 'Untuk apa saya diciptakan bila hanya untuk mengalami kepedihan dan siksaan?' Mungkin pertanyaan semacam itulah yang akan muncul di kegelapan benak kita.

Mungkin... pelukis punya jawabnya, pembuat mainan punya jawabnya, ilmuwan punya jawabnya, 'Itu semua agar dirimu menjadi lebih baik, lebih sempurna seperti yang kuharapkan. Biarlah kau kuhancurkan, biarlah dirimu terlihat seperti sampah, namun pada saatnya nanti... kau akan kubuat menjadi indah'.

Akan tiba suatu masa ketika kita teriris, hancur, dan tersiksa. Namun, ingatlah saja satu hal. Bahwa mungkin Ia Yang di atas sana sedang merancang indah dirimu, lebih dari yang sekadar pelukis, pembuat mainan, dan ilmuwan lakukan.

***

June 16th, 2010, 00.41 am.
*inspired by a flash thought in the middle storm of my mind*
Gambar diambil dari sini

Tuesday, June 15, 2010

Teropong

 
Ia jauh
Tapi mampu kau dekatkan

Ia tersembunyi
Tapi sanggup kau intip

Ia terhalang batas indera
Namun bisa kau terka

Ah, andai aku punya teropong...
 
Gambar diambil dari sini

Monday, June 14, 2010

Harap yang Sederhana

Tuhan...
Bolehkah aku memohon satu hal kecil padaMu?

Biarkanlah aku tetap berjalan dalam harapku
Harapku yang memang hanya sederhana

Sekeras apapun ombak itu menghantam karangku
Sedingin apapun salju itu menggigit kulitku
Takkan berguna karena ia t'lah membaja
Takkan berhasil karena ia t'lah membeku



Waktu memang akan membunuhku
Kejam, diam-diam

Senyum,
Anggap saja itu tak ada
Jika kau lihat ini raga
Jiwa itu telah sakit, lama

Tuhan...
Bila nanti tiba pada suatu masa
Masa dimana diriku t'lah tiada
Ukirkanlah padanya, senyum indah merona

Sumber gambar diambil dari sini.

Wednesday, June 02, 2010

Amprokan Blogger 2010 Bag 5 : The Fabulous Five! (Tamat)

The Fabulous Five!
(dari kiri : Pradna, Cici Silent, Quinie a.k.a Ratu, iLLa, Dhodie)

Sebelum menjabarkan kisah persahabatan ini, ada baiknya saya nyanyi dulu :D

Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah, berubah jadi indah...
Persahabatan bagai kepompong

Maklumi teman, hadapi perbedaan...

Di dunia maya(t) inilah kisah ini berawal. Semua terjadi begitu saja. Kami berlima berteman, berbagi cerita, suka-duka, tangis, canda, tawa... Alhamdulillah kami berlima akhirnya bisa kopdar di acara Amprokan Blogger Bekasi. Mengenang kisah persahabatan ini, membuat saya sesekali tersenyum geli. Terkenang kembali, bagaimana sejarah saya berkenalan dengan sahabat-sahabat unik ini. :D So, Mari kita ulas satu persatu.

Ehm, untuk mempersempit kemungkinan perdebatan yang diakibatkan oleh prioritas urutan (deuh, kalimatnya :D), maka dari itu... saya akan memulainya berdasarkan urutan abjad saja. ;)

Dhodie a.k.a Dodi Mulyana

Saya mulai mengenal beliau ini dari Plurk di masa-masa awal eksistensinya sebagai jejaring sosial di dunia maya kira-kira menjelang akhir tahun 2008. Ada insiden di Plurk waktu itu yang membuat Bapak Ketua deBlogger ini jadi naik setingkat darahnya. :D Tret saya tentang rokok yang songong dan kaku itu sontak saja jadi perhatian para plurkers, termasuklah Bapak yang satu ini. :D Tapi, walaupun ada insiden yang sempat membuat hati tidak enak itu, kami tetap berteman... dan masih saling menyapa via plurk. :D

Kira-kira pertengahan Oktober 2009, saat saya memutuskan untuk hijrah dari Jogja ke Depok, sahabat yang satu ini, berbaik hati membantu saya. Walaupun itu hanya sekadar informasi jadwal kereta, tapi sangat membantu saya. Karena pada saat itu saya benar-benar sendiri dan tak tau harus minta bantuan siapa, walau pada akhirnya saya tidak jadi ke Depok karena skenarioNya. Saat harus menggelandang ke Jakarta pun, saya sempat ditawari lowongan pekerjaan, walau pada akhirnya juga belum rejeki. :D Selama masa-masa sulit itu, sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk tetap bekerja di tempat yang sekarang... sobat satu ini sangat membantu, karena tidak ada hal yang paling berharga selain support, semangat, dan do'a dari seorang sahabat.

Belakangan saya tahu, ternyata saya memiliki banyak kesamaan dengan sosok melankolis tapi ga mau ngaku ini. Penggila hijau, suka fotografi, pengapresiasi puisi (kalo saya mah entah kenapa makin kerasukan suka bikin puisi), dan "keras kepala" dalam idealisme.

Bagi saya, bersahabat dengannya adalah sebuah potongan mozaik hidup. Betapa tidak, saya hanyalah orang udik... yang sama sekali tak pernah membayangkan bisa bersahabat baik dengan makhluk keren semacam ini. (terpaksa harus saya akui, haha) Ya... secara sebelumnya, saya adalah wong ndeso, yang miskin ilmu dan gagap geografi... lalu harus berkelana dan mengunjungi begitu banyak tempat dalam waktu yang relatif singkat.

Dhodie, saya mengenalnya sebagai seorang yang tidak banyak bicara, tapi kebaikan hatinya telah menceritakan banyak hal. Ia sering tak terlihat, tapi selalu muncul di saat yang tepat. Bagi saya, ia memiliki banyak stok kebaikan terpendam di dalam hatinya.

Dhodie : "Silent Kindness"


iLLa a.k.a Nurfadhilah Nurdin 
Saya benar-benar tak menyangka bisa bersahabat dengan gadis Makassar satu ini. Lagi-lagi berawal dari blog dan Plurk, waktu itu iLLa begitu penasaran dengan cerita perantauan saya. Memang skenario Allah yang mempertemukan kami, saat itu liburan Idul Adha, kebetulan iLLa sedang mengunjungi Kakaknya yang di Jakarta, lalu kita kopdar. 

Kesan pertama kali saya bertemu iLLa bisa dilihat di disini dan laporan kopdar versi iLLa bisa dilihat disana. Yang pasti... sobat yang satu ini selalu memberikan keceriaan tersendiri. Entah itu lewat kata-kata atau sikapnya. Awalnya saya merasa kurang nyaman, karena eh karena (merusakkan pikiran... *eh salah, itu lagu Rhoma yak* :p) Terutama karena si ibu ini suka menuliskan kata-kata tidak sebagaimana mestinya. (haha) Bisa dicek sendiri saat bertandang ke rumahnya atau lebih terasa lagi kalo sering chat. Saya selalu tergelak dan tertawa karena kata-kata yang tidak sebagaimana mestinya itu. Misalnya, 'ajegile', 'ngubrul', 'wedeww', 'gitcyuu', 'ebuseng', 'bubu', 'hyaelahh', 'huweehh', `beut` dan sebagainya. :D Saya yang waktu itu gatek dalam hal bahasa gaul begini, menjadi sering nyengir karenanya. But, lama-kelamaan... saya jadi ketularan juga style "Makassar"nya iLLa, xixixi. :p

iLLa adalah seorang sahabat yang peduli dan perhatian. Di balik kata-kata kocak dan ngebanyol-nya itu, ada hati yang begitu lembut... yang tulus ikhlas berbagi kasih dengan semua sahabat terdekatnya. Anak rantau Surabaya ini juga teliti ternyata, ya... walaupun saking telitinya sampai typo-typo orang di tret, comment, or postingan tak luput dari omelannya. :D Nah, Okkots-er Handal ini juga berbakat jadi wartawan. Jadi, hati-hati jika berbicara dengannya... bisa-bisa semua rahasia Anda terbongkar... hahaha. (rofl) Beruntung saya dianugerahi bakat detektif, jadi saya sudah bisa mendeteksi pertanyaan-pertanyaannya yang menjurus ke sana, lalu memasang blokade. (haha) Yang membuat saya suka kesal sendiri adalah, ternyata saya juga seringkali tak berhasil memancing iLLa bercerita. *ougggh*

Walau saya belum begitu lama mengenal seorang iLLa, tapi ia telah menjadi sahabat yang mewarnai bilik-bilik hati. Entah kenapa, seolah saya telah mengenalnya sejak lama. ^_^ iLLa, memiliki stok perhatian dan kepedulian terpendam di dalam hatinya.

iLLa : "Silent Attention"



 Pradna a.k.a. Pradna Paramita

Saya mengenal sahabat yang satu ini juga lewat Plurk dan Linux. Waktu itu saya begitu tak percaya, 'Masa sih Linux ini gratisan?' mengingat si Jendela sangat komersil. Atas usaha gigihnya dalam berpromosi, akhirnya saya kepincut juga. Dan ternyata memang Linux sangat istimewa dengan segala pernak-perniknya. 

Berkat seorang Pradna pula, saya jadi bisa mengubah pandangan saya terhadap komik. Bahwa ternyata ada banyak hal-hal yang positif di dalamnya bila diulas dari sudut yang berbeda. Bahwa betapa pentingnya memandang segala sesuatu dari berbagai sisi.

Tertawa, adalah satu hal yang pasti akan anda alami jika berinteraksi dengannya. Pradna, saya mengenalnya sebagai seorang yang memiliki sense of humor yang unik, namun di balik itu ada kekuatan yang tersimpan rapi di dalam dirinya. 

Pradna : "Silent Strength"





Quinie a.k.a. Ratu

Saya sudah cukup lama mengenal Mbak Quinie ini. Sejak zaman baheula awal-awal ngeblog kira-kira tahun 2006-2007 silam. Waktu itu para blogger masih musim timpuk-timpukan PR. :D 

Saat merantau dan menggelandang ke Jakarta, saya sama sekali tak menyangka akan bertemu beliau. What a small world. Ternyata keramahan dan keceriaan khas Mbak Ratu bukan hanya di dunia maya(t), tapi juga di dunia nyata. Entah kenapa, setiap saya berinteraksi dengannya, saya seolah-olah tercelup ke dalam sebuah warna-warni pelangi; rame, cerah, seru! 

Ratu, saya mengenalnya sebagai seorang yang periang. Berada di dekatnya membuat hati selalu ceria seolah tak pernah sedih sedikitpun. 

Ratu : "Silent Happiness"


Pfuih.... akhirnya postingan yang telah nyaris menjadi fosil ini tuntas sudah. Maafkan jika terendap lamaaaaaaa sekali. (worship)

Monday, May 31, 2010

Gitarku Kelu

Jika saja ku bisa berlari
Mungkin t'lah lama kutemui damai hati
Namun tidak
Aku hanya bisa bersembunyi
Menatap lekat dari kejauhan
Pada sejarah mimpi-mimpi

Kukira aku mampu berpaling
Semudah langit berganti wajah
Namun keliru
Aku hanya membuatnya makin menderu
Menyimpan kata sebait lagu
Pada nada-nada rindu


Dalam sulut raga jiwa
Mungkin semua itu perlu
Entah kini atau dulu
Sebab gitarku kelu

Gambar diambil dari sini

Thursday, May 27, 2010

Bertahan

Entah sampai kapan
Kata 'kan mengalir perlahan
Bergemericik di sungai jiwa yang letih
Muaranya tak bernama


Mungkin nanti
Saat kata itu tak ada lagi
Yang ia tahu hanya satu
Bertahan...
Agar tak henti
Bertahan...
Agar tak mati
Gambar diambil dari sini

Wednesday, May 12, 2010

Pinta Air Mata

Sebenarnya aku t'lah begitu lelah...
Mengalir di tepian matamu
Menderas sebab sesaknya dadamu
Membuat sedu sedan wajahmu


Sebenarnya aku t'lah begitu ingin...
Sekadar beristirahat sejenak
Mengumpulkan kembali sisa-sisa energiku
Agar kelak menjelma, hanya karena bahagia

Sebenarnya aku t'lah begitu rindu...
Melihat senyum manis itu
Yang terukir ikhlas di wajahmu
Bukan senyum kegetiran, tanpa lagu...
***
Gambar diambil dari sini.
*untuk seseorang yang tengah berduka*  "Menangislah, namun jika tiba saat tersenyum, tersenyumlah dengan indah."

Monday, May 10, 2010

Cobalah

Cobalah,
Tersenyum pada mentari
Mungkin hangat sinarnya 'kan menghapus gundahmu
Mungkin nyala terangnya 'kan melipur laramu

Cobalah,
Angkat wajahmu pada langit
Mungkin megahnya 'kan menyapu air matamu
Mungkin indahnya 'kan menghibur hatimu


Cobalah,
Beri jeda pada waktu
Agar sang fajar 'kan lebih lama menemanimu
Menyemai rasa rindu

Thursday, May 06, 2010

Sayap Kata

Wahai kata-kata... izinkan ku terbang bersama sayapmu
Mengarungi angkasa makna di langit nan biru
Merentang jiwa pada luasnya rindu
Menghirup nafas bait nan indah dalam sejuk anginmu



Tiba-tiba Kata berbisik, "Sayapku kecil... takkan sanggup membawamu kesana."
Aku tersenyum seraya menjawab, "Tak apa, tolong bawa aku... meski aku akan jatuh sebelum sampai di sana."

***

Kata yang lain berujar, "Sayapku luas... kau bisa naik kapan pun dan ke mana pun kau mau."
Aku tersenyum datar, lalu berkata, "Ingin... sekali kucoba tuk bersandar padamu, tapi maaf... sungguh aku tak mampu."
Kata itu bertanya heran, "Mengapa dikau tak mampu? Tidakkah kau mau mencoba? Lihatlah sayapku ini..."
Aku terdiam sebentar, lalu menjawab dengan tatapan mata yang nanar ke angkasa... "Ah... aku tak ingin sayap yang luas... karena mungkin akan sulit bagiku, menemukan makna dibalikmu."

Monday, April 19, 2010

First Trip to Bandung

Sejak dulu, jauh sebelum perantauan saya ke Jakarta, saya begitu penasaran dengan Kota Bandung. Kota yang menurut cerita teman-teman saya, cukup sejuk... asri, dikelilingi perbukitan, mirip dengan Kota Pagar Alam tempat kelahiran saya. Dan, komentar orang-orang yang ditanya tentang kesan pertama kali ke Pagar Alam pun biasanya, "Mirip Bandung! Tapi disini lebih dingin" :D

Setelah merantau ke Jakarta, ingin... sekali rasanya main ke Bandung. Begitu banyak nama-nama menakjubkan di kepala saya yang berhubungan dengan kata "Bandung". Pertama, Daarut Tauhid. Saya begitu mengagumi sosok-sosok ulama di sana, ingin sekali rasanya bertemu muka dengan mereka. Teh Ninih yang luar biasa..., Aa Gym yang cukup memberi pengaruh pada hidup saya dengan ilmu Manajemen Qolbu-nya, lalu Pak Amri Knowledge Enterpreneur, yang sering berkeliling Indonesia dengan sepedanya. Kedua, sang penulis Tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Jujur saja, terlepas dari kontroversi tentang beliau, karya-karyanya (khususnya Sang Pemimpi dan Edensor) cukup mempengaruhi hidup saya, terutama saat saya merantau ke pulau Jawa. Banyak sekali hal-hal yang tak terbayangkan yang saya temui saat berpetualang ke berbagai tempat dan berjumpa orang-orang dari berbagai suku dan daerah. It's awesome! Saya sering membayangkan, suatu saat tiba-tiba saya bertemu dengan Andrea Hirata di angkot atau saat berjalan di keramaian. Penasaran saja, bertemu dengan sosok yang memiliki pengalaman dan petualangan hidup yang begitu menakjubkan, merasakan pancaran aura semangat mereka.

Akhirnya, kesempatan itu datang. Kemarin, tepatnya 18 April 2010. Alhamdulillah, saya diberi rizki oleh Allah dapat bersilaturrahim ke Bandung, mengunjungi saudari seiman, Teh Desi a.k.a Hauri. Walaupun sebenarnya hari itu saya ada agenda penting, tapi bersilaturrahmi tak kalah penting. ^_^

Pukul 07.25 am
Berbekal imaji yang disajikan Mbah Google, dengan menumpangi bis Patas 44 Ciledug - Senen, saya menuju Stasiun Gambir. Seperti biasa, karena masih pagi... bis melaju sangat lambat, mengantisipasi para penumpang yang ingin menggunakan jasanya.

Pukul 07.48 am
Bis belum menunjukkan tanda-tanda untuk memacu kecepatannya. Saya mulai khawatir, bisa-bisa saya nelat dan ketinggalan kereta. Karena menurut jadwal, pemberangkatan kereta menuju Bandung pagi ini pukul 08.30.

Bis terus melaju dengan kecepatan yang saya taksir hanya sekitar 20km/jam. Lalu mulai ada pengamen yang beraksi. Namun tak seperti biasanya, kali ini aksi sang pengamen tidak jadi pusat perhatian saya karena saya begitu khawatir datang terlambat ke stasiun, ketinggalan kereta, lalu harus mencari alternatif lain menuju Bandung. Tapi, lama-kelamaan Pak Sopir ngebut juga :D *alhamdulillah*

Pukul 08.01 am
Bis akhirnya tiba di seputaran Thamrin, di sini mulai banyak penumpang yang turun. Lalu, saya bertanya pada seorang ibu yang duduk di sebelah saya, "Stasiun Gambir belum lewat kan, Bu?" Sang Ibu menjawab dengan senyum manisnya, "Belum Neng, nanti saya kasih tahu." Alhamdulillah, nih Ibu baik banget. ^_^ Tak lama kemudian, turunlah saya di tempat yang direkomendasikan ibu itu. Karena orang-orang terlalu crowded dan masih khawatir ketinggalan kereta, saya masih ragu-ragu memasuki pintu gerbang. Saya sempat berpikir, 'Wah, kalo ini bukan stasiun Gambir dan ternyata saya malah nyasar, gawat!' Akhirnya saya bertanya pada seorang Bapak yang lewat,

Saya : "Pak, maaf numpang tanya, ini bener stasiun Gambir kan?" (asking like a stupid people :P)
Si Bapak : "Iya bener." (Oh, nice...)
Saya : "Kalo jalan masuknya lewat mana Pak?" (mengantisipasi kemungkinan nyasar)
Si Bapak : "Wah, saya ga tau Neng. Saya ga pernah masuk stasiun."
Saya : *bergumam dalam hati* 'Lho, kok?!!!' (Gubrakks!) "Oh gitu, gapapa, makasih ya Pak", sahut saya sekenanya sembari menjauh pergi meninggalkan Bapak itu. :D

Lalu saya menggunakan intuisi, di saat-saat seperti ini biasanya memang intuisi yang bisa diandalkan. Saya melangkah mengikuti kata hati, menuju jalan setapak di dekat parkiran mobil yang terlihat dari jauh. Dan ternyata, alhamdulillah... ternyata benar, ini Stasiun Gambir! :D (Dasar Ndeso! :P) Imaji-imaji yang saya rekam dari Mbah Google pun mulai tampak, tempat membeli tiket, koridor-koridor, dan kesan hijau yang menyejukkan dari keseluruhan bangunan stasiun ini.

Saya bersegera antri membeli tiket, apapun terserah yang penting saya bisa berangkat ke Bandung pukul 08.30. Saat ditanya oleh petugas tiket, pola ingatan saya tertukar antara `Bisnis` dan `Eksekutif`. Sebenarnya maksud saya ingin membeli tiket kereta bisnis, tapi saya malah bilang yang eksekutif. Walau harganya lebih mahal, saya nggak 'ngeh', saya berpikiran, 'Ooo, mungkin harga tiketnya naik atau mungkin saya yang salah lihat harga tiket'. *parah* :P Dan sampai kereta akan berangkat pun saya masih belum sadar bahwa saya salah pilih tiket. (doh) *entah efek apa*

Pukul 08.45 am
Menuju peron sesuai dengan yang tertera di tiket, masuk ke dalamnya, lalu melihat semua yang serba lux, barulah saya tersadar... 'Walah... mestinya tadi saya beli tiket bisnis! Puantesss!' (doh) :D Tapi, gapapa lah sesekali nggak merakyat, siapa tahu ada hikmahnya buying executive ticket by accident. (haha)

Saat menemukan tempat duduk sesuai tiket, saya kaget! Di sana ada laki-laki muda yang sedang merapikan perlengkapan bayi. Sang bayi pun, tertidur pulas di atas jok empuk peron eksekutif. Lalu saya bertanya memecah kebingungan, "Maaf, 6B di sini kan?" Lalu ia menjawab sambil kerepotan menggendong sang bayi, "Oh, iya Mbak, maaf... silakan." Melihat bayi yang kecil mungil itu, ingin... sekali saya menggendongnya. *konyol* (doh) Tapi, saya langsung teringat pertanyaan yang semestinya sejak tadi saya tanyakan, "Lho! Ibunya kemana???" Melihat gelagat dan rona mukanya setelah mendengar pertanyaan saya, saya langsung bisa menduga, sepertinya ada permasalahan rumah tangga. (okok) Lantas ia menjawab sekenanya, "Ibunya lari ke Bandung...", sembari me-ninabobo-kan bayi itu. 'Masya Allah....', saya bergumam dalam hati.

Pukul 09.00 am
Kereta berangkat, menggumam sebaris do'a. Lamat-lamat terdengar suara di samping saya, lelaki tadi berbisik kepada anaknya, berkomunikasi dan mengajak anaknya berdo'a. Oh, it's so nice...

Dalam perjalanan, seperti biasa... yang paling asyik adalah melihat dan mengamati sekitar atau membaca buku. Tapi, baru beberapa halaman saya baca. Kerepotan Sang Ayah di sebelah saya begitu menarik perhatian. Terlihat sekali, betapa canggungnya dia melakukan semua itu, memberi susu dari sebuah dot kecil, menggendongnya sedemikian rupa, sesekali merapikan kain yang menyelimuti anaknya, mengobrol, bahkan bernyanyi. Semua pemandangan itu, tentu saja tidak berhasil membuat seorang Cici Silent untuk tetap silent. Saya menginterogasi Sang Ayah ini, apa yang terjadi hingga membuat Sang Ibu nekat meninggalkan anaknya. So, setelah bertanya-tanya barulah saya paham... Ternyata ibu sang anak 'ngambek' karena masalah yang sepele, dan penyebabnya adalah komunikasi yang tidak baik di antara mereka. *pfuiiiih* Saya jadi teringat dengan petuah salah satu sobat di dunia maya, bahwa memang kunci kebahagiaan rumah tangga adalah Kepercayaan dan Komunikasi. Ini salah satu hikmah yang saya dapatkan dari kejadian ini. Dalam hati saya berharap, 'Ah, semoga ibunya sadar, dan bayi itu bisa kembali ke pelukan hangat sang ibu. Amiin.'

Semakin dekat menuju Bandung, mulai terlihat banyak pemandangan indah di sisi kiri - kanan kereta. Subhanallah...sawah, bukit, sungai, kebun... Ah, membuat saya rindu kampung halaman.

Pukul 12.17 pm
Alhamdulillah... akhirnya tiba juga di Stasiun Bandung. Teh Desi sudah menanti di sana. Sejak tahu kabar beliau sakit tempo hari, saya jadi begitu penasaran bagaimanakah kondisi sahabat yang satu ini, apalagi beliau sudah berhenti plurking, jadi sering tak tahu kabarnya.

Akhirnya, kita bertemu! Alhamdulillah... Lalu, pembicaraan mengalir begitu saja, walau baru pertama kali bertemu di dunia nyata, tapi subhanallah... rasanya begitu dekat. It's amazing.

Siang itu, kita keliling-keliling kota Bandung. Dan benar adanya, udara di Bandung cukup sejuk... polusi udara juga tidak separah di Jakarta. Masih banyak pepohonan rindang yang terlihat di tepi-tepi jalan. Hanya saja, cukup banyak pula jalanan yang rusak. Hmm... semoga Pemerintah Kota Bandung cepat tanggap melihat kondisi ini.

Ba'da Ashar
Setelah makan dan ngobrol sebentar, kami kembali menyusuri jalanan Kota Bandung menuju Daarut Tauhid (DT). Wah... like a dream comes true. Tidak menyangka saya bisa ke DT! Subhanallah...

Sesampainya di DT, saya langsung takjub. Takjub dengan suasana lingkungan di sana, takjub... bahwa saat itu saya bisa saja bertemu dengan sosok-sosok itu! Aa Gym dan Teh Ninih...

Muslimah Center (Sebelah rumah Aa Gym)


Setelah melihat-lihat sejenak, kami berencana untuk bersilaturrahim ke rumah Aa Gym. Semoga saja beliau ada dan mau menerima kami sebagai tamu tak diundang. Tapi, sekonyong-konyong... tiba-tiba saja Teh Desi mengejutkanku, "Lha... itu Aa Gym, Teh!", sembari menunjuk ke mobil yang lewat di depan saya. (woot) Saya sempat melihat beliau sepintas, lalu beliau melaju perlahan dengan mobilnya. Kami sempat mau mengejar beliau, siapa tahu beliau hanya mau menuju tempat di dekat sini, tapi... kami sadar, itu konyol! (haha) :D Akhirnya, kami berbalik, dan menuju ke rumah Aa Gym, berharap Teh Ninih ada di rumah.

Entah apa yang menggerakkan kami untuk menuju ke sana, tapi... alhamdulillah, walau rasanya sulit dipercaya, ternyata Teh Ninih mau menerima kami sebagai tamunya (yang tak diundang). :D Subhanallah...

Kami dipersilakan menuju ruang tamu sederhana di belakang rumahnya, menunggu beliau istirahat sejenak selepas mengisi kajian di suatu tempat. Menatap rumahnya yang sederhana, nyaman, rapi... membuat hati saya terenyuh. Benar-benar tak menyangka saya bisa bertamu ke rumah ini.

Berfoto sembari menunggu Teh Ninih (editted by hauri)


Sederhana berhias cahaya ilmu
*Subhanallah... kapan ya bisa punya perpustakaan pribadi seperti ini?*


Beberapa saat kemudian, keluarlah sosok fenomenal itu, Teh Ninih Muthmainnah, yang selama ini hanya saya lihat di TV, yang selama ini kata-katanya hanya bisa saya dengar lewat tulisannya, subhanallah... bisa berjabat tangan dan akhirnya berbincang langsung dengan beliau.

Berhadapan dengan Teh Ninih, aura keimanannya sungguh terasa. Belum apa-apa, beliau sudah menguraikan kata-kata lembut penuh hikmah, dan begitu dalam... Berkomunikasi langsung dengan beliau membuat saya malu dan grogi, ah...apalah artinya saya ini. Tapi, sebuah anugerah dan nikmat yang tak ternilai dari Allah... saya bisa bersilaturrahim dengan seorang muslimah luar biasa seperti Teh Ninih.

Di sini, walau dengan waktu yang sangat terbatas, kami mendapatkan begitu banyak ilmu dari beliau. Terutama yang terngiang-ngiang di benak dan hati saya adalah tentang makna cantik. Beliau bilang, "Cantik lahir itu teh sudah ada jatahnya, ada yang dikasih 20%, ada yang 50%, bahkan ada yang 100%. Dan cantik lahir, kita tidak bisa memilih, kita terpilih." 'Hmm....', saya menyimaknya dengan seksama. Lalu, beliau melanjutkan dengan guyonan dan tawa khasnya, "Ah, tapi khan sekarang ini untuk cantik lahir mah gampang atuh, tinggal ke salon bisa cantik." :D Kemudian, dengan tutur katanya yang halus lembut itu beliau meneruskan, "Cantik itu memang relatif. Dan cantik lahir sudah ada jatahnya masing-masing. Tapi, kalau cantik bathin... semua wanita bisa mengejarnya!" Wow! Seperti ada yang menembus halus ke dalam hati, kata-katanya dahsyat!!! Kami berdua terdiam lama, takjub... speechless.

Beliau melanjutkan, memberi petuah-petuah hidup yang sungguh bermakna bagi kami berdua. Rasanya seperti mimpi, dan saya masih belum bisa percaya... subhanallah, saya ketemu Teh Ninih dan berbincang seperti ini. Betapa sebuah keajaiban dan anugerah dari Allah, it's very awesome! Walau tak lebih dari satu jam, saya telah bisa merasakan betapa Teh Ninih memiliki hati seluas dan sedalam samudera, kata-katanya penuh cahaya, akhlaknya berkilau bak permata... Subhanallah, walhamdulillah...

Menjelang Maghrib, kami pamit... tidak tega juga melihat beliau yang tampaknya sedang begitu letih, masih harus menerima tamu tak penting seperti kami. Lalu, kami meminta berfoto bersama untuk kenang-kenangan.

Bersama Teh Ninih yang luar biasa! (editted by hauri)


Adzan Maghrib berkumandang, shalat berjama'ah di masjid Daarut Tauhid memberi kesan tersendiri buat saya. Bacaan sang imam yang mengalun syahdu, begitu menyentuh ke relung hati terdalam. Subhanallah walhamdulillah...

Daarut Tauhid Menyongsong Senja


Ba'da Maghrib, kami meninggalkan DT, lalu kembali menyusuri jalanan Bandung. Dan kali ini, saya yang bawa motor karena terlihat sekali Teh Desi sudah sedemikian letihnya. Alhamdulillah beliau berkenan saya bonceng. ^_^

Setelah berkeliling mencari jasa travel, alhamdulillah... memang Allah telah mengatur semuanya, di detik-detik terakhir kebingungan mencari travel yang kosong, ada pertolongan Allah. Padahal saya sudah nyaris mengambil opsi terakhir, yakni kembali ke Jakarta besok paginya dengan konsekuensi telat ke kantor. Subhanallah, ada seorang supir yang rumahnya satu arah dengan tujuan saya, jadi bisa mengantar. Alhamdulillah akhirnya... *pfuiiih*

Di tengah perjalanan, mobil mendadak berhenti. Ternyata sang sopir mendapat kabar bahwa terjadi kecelakaan travel yang satunya, menabrak bis dan sebuah mobil karena tak mampu mengendalikan kecepatan. Masya Allah... Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Ada gejolak kesyukuran yang menyelusup ke relung hati, alhamdulillah... Allah masih menjaga dan melindungi saya. Karena semua bisa saja terjadi, jika Allah telah berkehendak.

Pukul 22.30 pm (kurang lebih)
Alhamdulillah akhirnya tiba di kos, disambut dengan senyum seorang saudara yang tengah menonton TV, lalu ia menegur dengan halus, "Dari mana Mbak? Wah... kayaknya Work Hard - Play Hard nich!" :D Saya hanya bisa menjawab pertanyaannya dengan tawa, seraya berlalu menuju tempat rehat.

***

Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan dahsyatnya perjalanan saya hari itu. Banyak sekali hikmah, pelajaran, ilmu-ilmu berserakan yang bisa saya ambil dan saya tangkap dengan leluasa. Begitu banyak pula... kesan yang tak terucapkan, bisa bersilaturrahim, bertemu dengan saudara seiman, dan sosok-sosok luar biasa. It's too awesome! Special for Teh Desi, thanks so much for everything. It's all impossible without your help. Jazakumullah khairal jazza'... semoga ukhuwah kita menembus syurga, amiiin.

Syukurku padaMu Ya Rabb... atas semua nikmat yang telah Engkau anugerahkan, atas semua pertolongan yang Engkau curahkan. Segala puji bagi Mu, Tuhan semesta alam...

*Fabiayyi alaa irobbi kumaa tukadzzibaan*