Saturday, October 23, 2010

Kertas Hati



Mungkin, kertas kosong itu t'lah lama menantiku
Dalam keletihan, panjangnya penantian
Terkadang aku heran, mengapakah ia tak membiarkan pena lain?
Bukankah warna mereka penuh pesona?

Lalu aku pun mendengar lirih jawabnya, "Aku tak mampu berganti hati. Aku hanya ingin setia".


Gambar diambil dari sini

*Mengakhiri masa hibernasi*

Saturday, October 02, 2010

Tuesday, September 21, 2010

Perbedaan

Ada yang bilang padaku
Musik indah tercipta
Sebab berbeda irama
Berbeda nada

Ada pula yang bilang padaku
Panorama alam mempesona
Sebab berbeda rupa
Tak padan warna
Jika memang keindahan
Ada dalam perbedaan
Bantu aku temukan siratnya
Harmoni rasa di jiwa

Gambar diambil dari sini

Thursday, September 09, 2010

Maaf...

Ketika pintu hati terbuka
Hanya maaf dari jiwa
Yang bersenandung dengan indahnya kata
Di hari yang fitrah, smoga tercapai derajat takwa
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
Taqabbalallahu minna wa minkum
Shiyamana wa shiyamakum
Mohon maaf lahir bathin...


NB : Semoga kita bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun-tahun berikutnya, amiiin Ya Rabb...

Tuesday, September 07, 2010

Pahamilah Makna

Tahukah apa arti berbagi?
Berbagi adalah kebebasan
Bebas mengungkap semua
Semua kepenatan, jua keriangan

Tahukah apa makna bersama?
Bersama adalah kekuatan
Kuat menahan semua
Semua beban dan cobaan, agar ia ringan


Jika berbagi kita bebas
Maka apalah lagi yang membuatmu berat?
Jika bersama kita kuat
Maka apalah lagi yang membuatmu masih ingin sendiri?

Bukan ku tak tahu arti rahasia
Bahwa ada yang harus tetap terjaga
Sampai hari akhir tiba

Namun, mesti kau tahu
Kadang makna itu hilang tiba-tiba
Ditiup angin dingin utara
Begitu saja

Jika masih bisa kau baca
Pahamilah makna

Sumber gambar diambil dari sini

Wednesday, September 01, 2010

Kereta

 Gambar diambil dari sini
Dalam bilik kereta
Kutangkap sepasang mata
Tangis itu kulihat tak bertuan
Tersimpan dalam cendawan angan

Lelah bertanya, letih tertatih
Redup bayangnya menggantung sedih
Menerjang batin yang t'lah perih
 
***
NB : Sebenarnya puisi ini belum selesai, tapi telah lama menggantung dan tak mampu saya selesaikan. Adakah yang berkenan melanjutkannya? :D

Tuesday, July 06, 2010

Review "3 Hati Dua Dunia Satu Cinta"


Berawal dari keisengan nonton berita pagi di TV one sambil wara-wiri di tengah pelataran kos, ternyata ada sekilas obrolan tentang sebuah film yang mengangkat kisah cinta terlarang. Film yang diangkat dari dua novel karya Ben Sohib, The Da Peci Code dan Balada Rosid dan Delia ini menceritakan tentang kisah cinta berbeda agama. Namun, uniknya film ini akan dikemas dalam sebuah drama yang dilematis sekaligus kocak serta tanpa tendensi ke agama dan ras tertentu. Hmm... saya jadi tertarik, apalagi film karya Mizan Production ini menyajikan beberapa puisi-puisi WS Rendra (alm). So, saat itu memory saya yang terbatas ini akhirnya berhasil  merekam dengan baik, Premier 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta - 1 Juli 2010 - Harus nonton!
***

Hari Pertama di Bulan Juli

Di tengah pekerjaan yang tak habis-habis dan di sisa-sisa energi terakhir selepas pulang kerja, akhirnya saya putuskan untuk pergi nonton, walau sempat terbersit di pikiran untuk beristirahat saja di kos. Beruntung, ada salah satu teman kantor yang terprovokasi untuk ikut. Saya yang biasanya nonton sendirian dan selalu nyengir tak terdefinisi ketika sang penjual tiket memberi tiket dua lembar (padahal saya cuma nonton sendiri), akhirnya nonton berdua :D *sama temen cewek tentunya*(okok).



Baiklah, saya mulai saja reviewnya. 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta adalah sebuah film yang menceritakan tentang kisah cinta seorang pemuda nyentrik, rada slenge'an namun puitis bernama Rosid (Reza Rahardian) dengan seorang gadis manis berhati lembut, Delia (Laura Basuki).

Film ini diawali dengan adegan bermuatan konflik simbol dan budaya. Rosid yang berambut kribo (seperti sarang tawon, ada juga yang menyebutkan seperti beduk :D) selalu menolak abahnya (Pak Mansyur - Rasyid Karim) yang kekeuh menginginkan sang anak mengikuti budaya agama leluhur mereka untuk mencukur rambut kribonya dan memakai peci. Ada dialog yang cukup mengocok perut saya,

(Rosid menyembunyikan rambut kribo yang dibenci ayahnya, menutup kepalanya dengan semacam kain, menghadap sang Abah yang telah menunggu dengan wajah sangar)

Abah : "Buka!"
(Rosid membuka penutup kepalanya, lalu menyembullah rambut kribo itu :D Rosid pun menunduk perlahan...)
Abah langsung murka : "Astaghfirullah... Kapan Lu mau potong tuh sarang tawon?! Dasar anak Setan!!!" (sangar tapi terdengar kocak)
Rosid menjawab tenang : "Ya... kalo Ocid anak setan, berarti abahnya apaan donk...
(Si Abah langsung naik darah, dan melempar apa saja ke arah Rosid, yang tentu saja lemparannya selalu meleset) :D

Dan saya beserta seantero bioskop langsung terbahak... (lmao) *saya sesaat tersadar sembari mengedarkan pandangan, eh ternyata banyak juga yang nonton premier film ini* (okok).

Kembali ke cerita film, Rosid menentang pendapat ayahnya tentang simbol "peci" di dalam Islam. Di sini saya melihat sosok Rosid sebagai seorang anak yang cukup berani dalam mengutarakan pendapat, walaupun itu bertentangan dengan pendapat orangtuanya. Yeah, as we know... kebanyakan kita hanya bisa terdiam jika telah berhadapan dengan orangtua. Pesan yang ingin disampaikan dalam simbol "peci" ini cukup tervisualisasi dengan baik. Dan tentu saja tersirat dengan halus karena banyak dibumbui oleh humor-humor yang asyik.

Kisah asmara Rosid dan Delia pun akhirnya tercium oleh kedua orangtuanya. Perbedaan agama dan budaya membuat hubungan mereka menjadi dilematis. Rasa cinta terhadap kekasih bertarung dengan rasa cinta dan sayang terhadap orangtua dan keluarga. Berbagai cara dilakukan oleh kedua orangtua masing-masing untuk memisahkan pasangan kekasih ini, namun tetap saja tidak berhasil.

Lalu, timbullah ide untuk menjodohkan Rosid pada seorang gadis cantik berjilbab bernama Nabila (Arumi Bachsin), putri dari sahabat ayah Rosid. Namun, Nabila yang mengagumi puisi-puisi Rosid pada akhirnya tahu, bahwa hati Rosid telah tertambat pada Delia. Jalan ini pun tak kuasa memisahkan cinta Rosid dan Delia.

Pada akhirnya, di tengah konflik, kepiluan dan kepayahan hati yang didera kedua keluarga (baik keluarga Delia maupun Rosid), kedua orangtua mereka menyerah. Namun tak disangka, di saat itu pula... Rosid dan Delia tersadar, bahwa kisah cinta mereka hanya akan menyakiti keluarga masing-masing, dan memasuki gerbang pernikahan bukanlah hal yang bisa diputuskan begitu saja tanpa pertimbangan mendalam. Dari adegan film, saya mencerna sosok Delia yang akhirnya menyadari, bahwa apalah artinya sebuah kebahagiaan jika hal itu menyakiti orang-orang yang kita kasihi. Rosid pun sependapat, akhirnya mereka berdamai dengan hati masing-masing, dan tetap bersahabat baik.

Di akhir film, ada sebuah epilog, diceritakan bahwa Rosid, Delia, maupun Nabila pada akhirnya menemukan jodoh mereka masing-masing, tentu saja dengan jalan skenario yang berbeda-beda.

Ada sebuah quote yang saya kutip di akhir epilog, yang kurang lebih kalimatnya begini :

"Hidup, nasib, cinta... siapa yang tahu"

Sebuah ending yang manis. ^_^


Beberapa poin buat film ini :
  • Banyak pesan-pesan moral yang tersirat namun mungkin tidak bisa dicerna dengan  cukup baik. Balutan humor yang khas di antara dilematis cerita menjadikan penonton mengalami banyak perubahan emosi dalam waktu yang relatif singkat. Misalnya, saat ingin menangis karena terharu, sekonyong-konyong langsung ada adegan atau dialog lucu. Makanya di film ini saya hanya bisa berkaca-kaca tanpa sempat meneteskan air mata. :D
  • Terlihat bahwa puisi-puisi yang dihadirkan di dalam film ini didedikasikan untuk Almarhum WS Rendra. Salah satu puisi yang cukup menggetarkan adalah puisi yang berjudul "Kangen". I love this poem. Berikut petikannya : 
    Kau takkan mengerti bagaimana kesepianku
    Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
    Kau takkan mengerti segala lukaku
    Karena cinta telah sembunyikan pisaunya

      Membayangkan wajahmu adalah siksa
      Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan

        Engkau telah menjadi racun dalam darahku
        Apabila aku dalam rindu dan sepi
        Itulah berarti,
        Aku tungku tanpa api

        ~ WS Rendra ~

          • Kenekatan Pak Rosid yang terus-menerus terjebak memakai cara khurafat menurut saya tidak lazim, harusnya Pak Rosid bisa mengambil pelajaran dan tidak tertipu berkali-kali. :D 
          • Jokes yang dihadirkan di film ini cukup kreatif. Sama sekali tak terduga. (applause) Hanya saja, kadang-kadang terasa tidak masuk di akal. Misalnya, sewaktu si Abah mengungkapkan kesedihannya sekaligus menyerahkan sepenuhnya keputusan pada Rosid, di saat itu juga Abah langsung mengutarakan jokes yang berlawanan dengan atmosfer film yang sedang terjadi, "Cid, udah jadi puisi buat Abah?" Sontak saja, kata-kata Abah dengan intonasi yang khas itu membuat seisi bioskop tertawa. (Ceritanya, di film ini Rosid membuatkan sebuah puisi untuk ibunya. Namun si Abah cemburu dan ingin dibuatkan puisi juga oleh Rosid :D)

          Sebenarnya ada beberapa adegan yang menurut saya tidak perlu ditampilkan, karena cukup mengganggu atmosfer alur cerita. Hanya saja, saya menangkap hal itu sebagai pelengkap yang ditujukan agar penonton ikut berpikir. ^_^ Yeah, overall, film ini menurut saya sudah cukup berhasil dikemas dengan baik, mengingat tema yang diangkat sangatlah sensitif. ;)

          NB : Maaf penjabarannya kurang lengkap dan mendalam, maklum RAM saya sedang proses recovery. :D

          Saturday, July 03, 2010

          Sejenak Lagi

           
           
          Hujan...
          Aku tahu arti dirimu
          Ku mengerti akhir muaramu
          Namun kumohon kali ini
          Jangan menderas disini

          Aku masih butuh hangatnya mentari
          Sejenak lagi
           
          *kala mendung menyapa*

          Gambar diambil dari sini

          Wednesday, June 16, 2010

          Analogi Kreasi

          Saat kau menciptakan sesuatu, idemu bernyanyi, kreativitasmu menari, inovasimu memainkan melodi. Namun kemudian otakmu membelahnya, mencercanya, lalu bahkan mungkin menghancurkannya hanya demi sebuah tujuan bernama kesempurnaan. 

          Seorang pelukis, mungkin saja akan menghapus seluruh lukisan yang telah begitu susah payah dibuatnya, lalu mengubah semuanya menjadi warna hitam, gelap. Sesaat kemudian, ia lalu mengukir kembali tanpa ragu, tanpa menyesali kekeliruan karya sebelumnya yang ia pikir tak sempurna. Namun, berminggu kemudian lukisan yang kelam dan gelap itu berubah menjadi sebuah karya indah penuh warna, megah.

          Seorang pembuat mainan, tentu akan senang bila karyanya membuat orang lain puas dalam senyum dan tawa. Karena itu, ia tak lepas dari cara-cara briliannya untuk memenuhi setiap ekspektasi. Ia membuat desain, menciptakan sesuatu, lalu menghidupkannya. Namun, seringkali terlihat ia meratapi hasil ciptaannya. Tak puas. Belum sempurna. Serta-merta ia mengubah mainan itu. Ia merusak konsepnya, memotongnya, melepaskan aksesorisnya satu-persatu, bahkan menghancurkannya sama sekali, hanya untuk membuat satu perubahan; menjadi lebih baik, lebih sempurna.

          Seorang ilmuwan, bisa saja sewaktu-waktu membanting keras mesin hasil percobaannya. Kesal, marah, semuanya tertumpah. Namun di hati kecilnya, tentu ia sadar sepenuhnya bahwa yang ia lakukan hanyalah disebabkan karena semua itu belum sempurna, belum menjadi seperti yang benar-benar ia inginkan. Di tengah kondisi psikis yang labil itu, ia tak kehilangan akal sehat. Seburuk dan sehancur apapun percobaannya yang gagal, ia akan ikhlas untuk memulai lagi, dengan konsep yang lebih baik, dengan teknik yang lebih sempurna. 

          Begitu juga Tuhan, yang telah menciptakan kita dengan wujud yang sebaik-baiknya. Namun, secara bertahap kita akan merasa bahwa Ia mulai melukai, menyiksa, bahkan menghancurkan kita. Kita tak tahu, kita tak paham maksud dari semua itu. Kita sedih, kita tak nyaman, kita protes, bahkan mungkin kita akan menjadi apatis pada Yang menciptakan kita. 'Untuk apa saya diciptakan bila hanya untuk mengalami kepedihan dan siksaan?' Mungkin pertanyaan semacam itulah yang akan muncul di kegelapan benak kita.

          Mungkin... pelukis punya jawabnya, pembuat mainan punya jawabnya, ilmuwan punya jawabnya, 'Itu semua agar dirimu menjadi lebih baik, lebih sempurna seperti yang kuharapkan. Biarlah kau kuhancurkan, biarlah dirimu terlihat seperti sampah, namun pada saatnya nanti... kau akan kubuat menjadi indah'.

          Akan tiba suatu masa ketika kita teriris, hancur, dan tersiksa. Namun, ingatlah saja satu hal. Bahwa mungkin Ia Yang di atas sana sedang merancang indah dirimu, lebih dari yang sekadar pelukis, pembuat mainan, dan ilmuwan lakukan.

          ***

          June 16th, 2010, 00.41 am.
          *inspired by a flash thought in the middle storm of my mind*
          Gambar diambil dari sini

          Tuesday, June 15, 2010

          Teropong

           
          Ia jauh
          Tapi mampu kau dekatkan

          Ia tersembunyi
          Tapi sanggup kau intip

          Ia terhalang batas indera
          Namun bisa kau terka

          Ah, andai aku punya teropong...
           
          Gambar diambil dari sini