Friday, September 25, 2009

Cobaan

Ia datang begitu saja
Begitu tiba-tiba
Seperti badai angin yang menghapus apa saja
Seperti guntur yang menggelegak
Seperti Tsunami
Yang menyakitkan hati
Yang menimbulkan derita yang menyayat
Yang menimbulkan luka


Aku tak tahu ini apa
Hanya saja aku yakin
Ini adalah cara Allah untuk mendidikku
Ini adalah cara Allah untuk menunjukkan kasih sayangNya

Walau berat...
'Kan ku coba tegakkan kepala
'Kan ku coba menahan air mata
'Kan ku coba melewatinya walau kegelisahan mendera

Walau sungguh berat...
'Kan ku coba pahami
Cobaan ini... adalah salah satu hal
Yang patut ku syukuri
Di antara nikmat-nikmat
Yang ku dapat hari ini

Ya Allah... Ya Rahman... Ya Rahiim...
Kuatkan hamba
Hamba tau, takkan Engkau memberi cobaan
Jika hamba tak sanggup memikulnya

Ya Rabb...
Bantulah hamba melihat jalan keluar
Melihat titik terang dari cobaan ini
Jangan biarkan hamba dihantui perasaan negatif
Jangan biarkan hamba berprasangka

Ya Aziiz, Ya Ghaffar...
Tenangkanlah hati hamba Ya Rabb...
Dalam kegamangan ini, hanya Engkaulah
Penenang hati...

*Yaa muqollibal quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinika wa'alaa tho'aatika. Wa a'uudzubi kalimaatillahit taammaati minsyarri maa khalaq*

Sunday, September 20, 2009

Selamat Idul Fitri 1430 H


Taqabbalallahu minna wa minkum
Shiyamana wa shiyamakum
Minal a'idin wal faidzin



Faith makes all things possible
Hope makes all things work
Love makes all things beautiful
Happy Aidil Fitri...

Saturday, September 19, 2009

Hijrah ; Windows -> Ubuntu 9.04 -> Sabily 9.04


Setelah bertarung keras, akhirnya **jendela** kalah juga :D

Kisah ini berawal dari tawaran seorang teman untuk mencoba Ubuntu 9.04, saya pikir 'Ini apa sih? Ubuntu, nama yang aneh' Kalo "buntu" sih dalam bahasa daerah sini itu artinya bokek, hihihi. Hmm... ternyata Ubuntu ini salah satu distro Linux. Pertama sih heran, kok ada ya... yang gratisan kayak gini? Tapi asli! Masih sangat awam dengan yang namanya Linux dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Berhubung saya suka mencoba hal-hal baru, so I decided to try.


Kesan pertama liat tampilannya; tulisannya rada besar-besar, menu-menu dan aplikasinya asing banget! (wajar lah), tapi unik juga! ;) Setelah melihat, menimbang dan memperhatikan kebutuhan bisnis saya yang sudah sangat terbantu oleh Windows, beside saya tidak mau mengambil risiko berpusing-pusing ria, akhirnya waktu itu saya memutuskan untuk tidak menginstallnya.

Waktu berlalu, saya masih nyaman-nyaman saja dengan Windows XP Black. Tapi, gangguan dan masalah mulai muncul satu persatu. Dimulai dari virus-virus yang mulai merasuk (walaupun sudah pakai KIS 2010), sistem yang terganggu, sampai pada puncaknya... semua file foto dan video sejak bulan Maret 2008 semuanya lenyap! Hanya bersisa bulan Juli dan Agustus 2009 saja, hiks! :( Entah karena virus atau gangguan sistem atau penyebab lain, yang pasti... saya mulai gerah dengan Windows.

Berkat permasalahan di Windows dan sedikit provokasi dari sang promotor, akhirnya saya install Ubuntu 9.04 inside Windows. Berkat bantuan promotor dan beberapa referensi, alhamdulillah saya bisa mulai menjalankan aplikasi-aplikasinya, walau masih sangat standar. Mau tidak mau, saya harus mempelajari Ubuntu ini, walau masih rada kagok alhamdulillah lama-lama saya merasa nyaman juga. Banyak hal-hal tak terduga yang saya temui, contoh kecilnya, ternyata koneksi internet di Ubuntu lebih cepat dibanding di Windows. Waktu itu saya masih nyaman-nyaman saja, masih bolak-balik, kadang ke Ubuntu... kadang balik lagi ke *jendela*. Ada sih niat untuk hijrah beneran ke Ubuntu, tapi saya masih terikat dan merasa banyak terbantu dengan aplikasi-aplikasi di Windows.


Hari berganti, waktu berlalu... saya semakin jarang menengok *jendela*. Banyak hal-hal menarik dan unik yang saya jumpai di Ubuntu, walau kadang pusing karena gagal mengutak-atik software-nya, tetap saja saya terlanjur suka padanya.

Sampai pada suatu saat, tepatnya dua hari yang lalu, saya memutuskan untuk hijrah... Yah, sebuah keputusan yang cukup sulit, tapi melegakan hati.

Alhamdulillah, setelah proses pembelajaran yang lumayan membuat otak segar, akhirnya semua berjalan sesuai dengan harapan; tidak ada data yang hilang, semua aplikasi berjalan baik. That's all what I want. Ini juga berkat referensi dari sini dan berkat bantuan sang promotor, thanks a lot!

Then, tiba pula lah saatnya saya mencoba Sabily 9.04, tepatnya kemarin. Sengaja saya titip majalah Infolinux (yang bonusnya Sabily 9.04) sama teman yang akan pulang mudik dari Palembang. Dan... jreng! Subhanallah... indahnya Sabily... Green! So nice... Islamic software-nya juga...!!! Whuaaaa!!! Saya histeria... Alhamdulillah, sangat nyaman *berada* di dalamnya, segala puji bagiMu Ya Rabb...


I've been a linuxer now :D Who's next? :p

Thursday, September 10, 2009

Kembalilah

Penggal kata itu menguap
Entah kemana...
Pergi semakin jauh
Seiring angin sejuk yang berhembus
Ke Selatan atau ke Utara















Pipit yang sedang riang menghinggapi padi pun...

Terbang riuh rendah
Seolah ingin menyampaikan petuahnya

Kembalilah...
Kau tak boleh menyerah pada waktu

Cahaya itu masih ada


Kembalilah...

Jangan kau menunggu terlalu lama

Atau kelak

Kau akan melaju terlalu jauh...
Hingga tak mungkin lagi
Untuk kembali


***

NB : Mendadak dapat ide kala menatap sebidang sawah dari kejauhan tadi sore, tapi entahlah puisi ini bercerita tentang apa... ^_^

Friday, September 04, 2009

Belajar Bersyukur

Pernahkah kita berpikir sejenak, bertafakur, merenungkan diri kita sendiri. Wajah kita, panca indera kita, langkah kaki kita, tubuh kita, semuanya sempurna... tanpa abnormalitas apapun. Tanpa kita sadari, semua fungsi organ tubuh kita bekerja tanpa henti, tanpa gangguan berarti. Hidung menghirup udara dengan bebasnya, jantung berdetak, proses metabolisme berjalan, saraf-saraf di otak bekerja sesuai fungsinya, dan lain sebagainya.


Semua indera kita pun berfungsi dengan baik. Mata kita bisa melihat dengan jelas... warna-warni benda sekitar kita, tulisan yang kita baca, indahnya pemandangan alam, manisnya senyum, semuanya. Telinga dapat mendengarkan semuanya dengan normal, suara deruman keras kendaraan, pembicaraan orang-orang, musik dan lagu yang indah, keriuhan, bahkan karena telinga kita bisa menikmati keheningan. Hidung ini, bisa mencium berbagai jenis aroma... wanginya mawar, harumnya melati, sedapnya sate, nikmatnya ayam bakar, dan masih banyak lagi. Mulut dan lidah kita, dengannya lah kita dapat merasakan berbagai macam rasa, berbicara dengan jelas, merasakan nikmatnya mengunyah makanan, berteriak, tertawa, bernyanyi, menangis.



Begitu juga dengan fungsi motorik kita, kita dapat berjalan santai, berlari, senam aerobik, yoga, menendang bola, serta semua aktivitas lainnya.


Namun, pernahkah kita berpikir, bagaimanakah jika semua itu diambil satu saja dari diri kita? Bagaimana jika kita tak dapat melihat? Sungguh gelap rasanya dunia ini. Lalu bagaimana pula jika kita tidak dapat mendengar? Bagaimana jika kita tak dapat mengucapkan satu patah kata pun? Bagaimana jika indera perasa kita tak berfungsi? Bagaimana jika kita sulit bernafas? Dan bagaimana pula jika tubuh kita lumpuh, tak dapat melakukan apapun kecuali hanya berbaring?


Seringkali kita merasa tidak beruntung, hidup serba susah; makan seadanya, pendidikan rendah, cari pekerjaan sulit, harga barang serba mahal, rumah ngontrak, dan aneka kondisi serba susah lainnya. Mungkin sering juga kita berandai-andai, "Enak ya... kalo jadi orang kaya. Enak ya... kalo udah punya rumah sendiri. Enak ya... kalo punya pekerjaan dengan gaji gede. Enak ya... kalo punya motor baru. Enak ya... bisa kuliah di tempat bergengsi" dan semacamnya.


Teman, ternyata... kita belum pandai bersyukur. Tubuh kita yang sehat, panca indera kita yang berfungsi dengan baik, dan sebagainya, semua itu sungguh merupakan nikmat yang tak tergantikan dan patut kita syukuri. Saya jadi teringat sebuah syair nasyid, "Apa yang ada jarang disyukuri, apa yang tiada sering dirisaukan, nikmat yang dikecap baru kan terasa, bila hilang..."


Teman, ternyata... kita masih harus banyak belajar mensyukuri hidup ini. Sungguh pun itu hanya nikmat berjalan kaki sejauh 2 km dari rumah ke kantor karena gak ada ongkos (syukur kaki masih berfungsi dengan baik), atau hanya dapat melihat pemandangan gundukan sampah di belakang rumah setiap harinya (syukur masih bisa melihat), atau pun dapat mencium bau air selokan yang busuk (setidaknya hidung masih berfungsi), atau pula mendengar dengkuran keras salah satu kerabat atau keluarga kita (syukur masih bisa mendengar dengan jelas).


Jika kita mau menghitung-hitung nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT, maka takkan pernah selesai kita menghitungnya. Maka, mari belajar bersyukur walaupun bukan karena nikmat. Karena kata seorang bijak, "Kenikmatan itu bukan terletak pada nikmatnya, tapi pada kesyukurannya." Semoga di bulan Ramadhan ini, kita semua dapat berlatih menjadi ahli syukur.


"Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzzibaan" (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)


NB : Terinspirasi dari pemikiran yang tiba-tiba saja menyeruak ke dalam hati.

Thursday, September 03, 2009

Apakah Anda Terhormat? (Bag 2)

Well, alhamdulillah mood menulis saya sudah kembali lagi ^_^ Setelah sekian lama postingan yang masih menggantung itu saya biarkan, akhirnya malam ini tiba-tiba sekelebat pikiran tentang tema itu datang tanpa diundang :D So, let's start...


***


Semua orang memang pada dasarnya memiliki kehormatan dan harga diri. Namun, begitu banyak yang tanpa disadari telah mempeloroti kehormatan dan harga dirinya sendiri. Sungguh begitu mudah harga diri dan kehormatannya menguap. Semudah sumpah serapah yang terucap pada bawahan di saat emosi memuncak, semudah air pancuran yang jatuh karena gravitasi bumi.

Banyak orang yang menganggap bahwa kehormatan dan harga diri itu ada pada gelar . Yang merasa begitu nyaman ketika namanya disebut beserta rentetan gelarnya, dan merasa sangat tersinggung plus emosi ketika tidak sengaja terdapat kesalahan pada penulisan gelarnya tersebut (berkata kepada bawahannya : "Kamu pikir mudah nyari gelar itu hah!!!") *gubraks*

Ada juga yang menganggapnya ada pada pangkat dan jabatan. Merasa hebat karena memiliki kekuasaan dan otoritas tinggi, lalu merasa berhak melakukan apapun sekehendak hatinya. Orang-orang yang merasa terhormat karena pangkat dan jabatan, biasanya mantap. Mantap duduk di kursi kebesarannya, di balik meja kerja yang super lux, makanan dan minuman diantar, bermacam-macam surat kabar terbaru sudah siap di atas meja, fasilitas telepon dan internet yang siap dipakai kapan saja, begitu mantap.... (mantap di ruangan ga kemana-mana maksudnya hehe) sampai-sampai tidak pernah tahu ternyata bawahannya sedang bergosip ria, tanpa ia tahu ada konflik-konflik internal yang terjadi. Dia hanya menganggap bahwa, kehormatannya ada pada anggukan dan rasa sungkan dari para bawahannya ketika ia mendelegasikan suatu pekerjaan.

Lainnya, menganggap kehormatan dan harga diri ada pada gaya hidup mewah. Ia merasa terhormat ketika berbelanja di sebuah butik paling terkenal dan paling mahal. Ia merasa terhormat ketika memakai pakaian dan aksesoris impor. Petantang petenteng, memperlihatkan gaya dan aksesoris tersebut, bahkan terkadang dibumbui dengan aksi bergaya seperti model. Untuk apa itu semua ? Supaya terhormat.... *pfuiiih, benarkah?*

Jika kehormatan dan harga diri manusia ada pada itu semua.... maka itu tak lebih dari seonggok topeng busuk berwajah malaikat. Maka bagaimanakah kehormatan dan harga diri seorang manusia biasa tanpa gelar ? tanpa jabatan dan pangkat ? tanpa gaya hidup mewah ?

Pada hakikatnya, kehormatan dan harga diri seseorang ditentukan oleh sikap dan perilakunya. Seseorang yang benar-benar terhormat, pastilah menghargai dan menghormati orang lain siapapun ia, berapa pun usianya. Kehormatan dan harga diri ada pada kerendahan hati, keteguhan prinsip, kemandirian, suri tauladan, serta kualitas hidup. Kehormatan dan harga diri seseorang pun bukan untuk dideklarasikan, kehormatan itu hanya akan tampak dan terasa oleh orang-orang di sekelilingnya.

Apakah Anda terhormat? Tentu bukan Anda yang patut menjawabnya. ^_^


NB : Terinspirasi dari suatu kejadian di kampus.

Saturday, August 22, 2009

Marhaban Ya Ramadhan

Alhamdulillah... segala puji hanya milik Allah SWT, kita telah dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat begitu banyak keistimewaan, bulan untuk menempa diri menjadi muslim yang lebih tangguh.


"Marhaban Ya Ramadhan.... bulan yang telah lama dinanti-nanti ummat Muslim sedunia. Ya Allah, semoga hamba dapat senantiasa menjaga niat, menata keikhlasan, dan memperbaiki kualitas ibadah di bulan suci ini. Semoga hamba dapat mengemban amanah usia yang telah Engkau berikan Ya Rabb... Jangan biarkan hamba menjadi orang yang merugi, yang hanya mendapatkan rasa haus dan dahaga. Jangan biarkan hamba menjadi pemilih yang bodoh, yang menyerahkan inderanya pada tontonan sampah, bacaan-bacaan sampah, lagu-lagu sampah, aktivitas-aktivitas sampah!"


Mari kita sambut Ramadhan dengan hati riang, mari kita nikmati puasa yang penuh hikmah, mari kita selami, kita tafakuri setiap ibadah kita... Semoga kita senantiasa ikhlas dalam beramal, semoga niat kita senantiasa lurus hanya mengharap ridhoNya. Semoga kita senantiasa bersemangat dalam menikmati jamuan Allah yang dahsyat di bulan suci Ramadhan ini, karena siapa tahu... Ramadhan kali ini adalah yang terakhir bagi kita.

NB : Mohon maaf lahir bathin atas segala khilaf dan kesalahan... *peace* ^_^

Monday, August 17, 2009

PROKLAMASI

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia,
dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia
Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain
diselenggarakan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno - Hatta



PROKLAMASI


Saya, Elsi Santi, dengan ini menyatakan Insya Allah harus sukses di usia 25 tahun. Hal-hal mengenai; menjadi pengusaha yang sukses, tamat kuliah tepat waktu, punya suami yang sholih, pergi haji di usia muda, dan lain-lain diselenggarakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pagar Alam, 17 Agustus 2009
Atas nama diri sendiri

Elsi Santi
Direktur Sukses Diri Sendiri

Ayo ayo ayo! Proklamirkan diri sendiri!!! ^_^

Saturday, August 15, 2009

Palembang - Lahat, Mari Bernostalgia!

Berawal dari niat bersilaturrahim dengan teman lama, bernostalgia dengan kenangan masa lalu yang indah, me-refresh kembali jiwa yang masih haus akan petualangan, lalu kesempatan itu datang... dan dari sinilah perjalanan itu bermula...

August 7th, 2009
Pagi-pagi berkemas, membawa pakaian secukupnya, pernak-pernik yang tak bisa ditinggalkan, buku bacaan yang lumayan tebal (huff, padahal ingin mengurangi beban bawaan, tapi karena buku ini sedang dibaca ya.... masuk tas!), charger (charger battery AA tak boleh sampai ketinggalan, bisa-bisa mati gaya! Kalau charger HP mah bisa pinjem, hehe). Lalu, sohib yang tak gendong kemana-mana, Si Canon Powershot SX100 IS, rasanya seperti tangan hilang sebelah jika dia tidak ikut.

Finally, aku membawa satu tas jinjit besar dan satu tas sandang yang lumayan full, dan yang pasti cukup beraaaattt. But, karena suasana hati sedang riang dan bersemangat, semua itu terasa ringan saja...



Pukul delapan lewat beberapa menit, bis melaju... meninggalkan Kota Pagar Alam tercinta. Enam jam kurang lebih, melewati setidaknya tiga kota; Lahat, Muara Enim, dan Prabumulih. Perjalanan menuju Lahat cukup mengasyikkan, walau sudah sering wara-wiri melewatinya, tetap saja pemandangan di kiri-kanan jalan begitu indah memukau; hamparan sawah hijau yang meneduhkan mata, bukit-bukit kecil berbaris dan berlapis-lapis, Sungai Lematang dan air terjunnya yang dingin menyejukkan, hutan dan kebun yang masih terjaga, lereng bukit yang curam dan dalam tapi memukau, udara yang bersih sejuk penuh oksigen. Oh, what a wonderful world...

Hanya butuh dua jam untuk sampai di Lahat, dan hanya dua jam pula aku bisa menikmati alam nan sejuk indah itu. Udara panas dan kotor mulai merasuk ke paru-paru, keringat mulai bercucuran, dahi mulai menghitam, gerah mendera... Tapi, seperti biasa, aku bisa menikmati ini semua. Hidup memang harus disyukuri bagaimana pun kondisinya, right? ;)

Memasuki Muara Enim, kondisi tidaklah berbeda, udara malah kian panas seiring teriknya matahari. Bau-bau tak sedap mulai merasuk. Sebagian penumpang tidak merasakan ini, karena mereka sedang tertidur pulas... Dan aku hanya bisa menikmati perjalanan ini dengan segala warna-warninya.

Hari beranjak siang, tubuh mulai nyaman dengan kondisi yang ada (cuaca panas, udara kotor dan berbau). Dan akhirnya tiba juga di terminal Karya Jaya Palembang. Naik metromini dua kali, plus
mbecak, akhirnya sampai juga di rumah teman sekitar pukul 14.30 WIB, alhamdulillah...

August 8th, 2009
Berbekal petunjuk jalan seadanya, pukul 06.30 WIB aku ikut meramaikan hiruk-pikuk Kota Palembang. Naik bis KM 12 menuju KM 9, tepatnya Asrama Haji, tempat Program Ilmu Cemerlang HPA (Herbal Penawar Al Wahida). Training ini sebenarnya sudah sering dilaksanakan, tapi baru kali ini aku ikut serta, karena yang jadi pembicara adalah CEO HPA yang datang dari Malaysia, Tn. H. Ismail bin H. Ahmad.

Sampai di sana langsung registrasi, and.... dapat tiga buku gratis! ;) Pesertanya lumayan banyak, sekitar 500-an.... Subhanallah. Bahkan ada nenek-nenek yang ikut! Duh, aku jangan sampai kalah semangat!!!

Dan inilah hasil jepretan Si Canon :

Lumayan... dapat kursi di tengah-tengah ruangan

With Didit, my neighbor


Waktu rehat dimanfaatkan juga untuk foto-foto ^_^


August 9th, 2009
Hari kedua pelatihan, banyak info-info terbaru yang disampaikan. Mengenai produk-produk makanan yang tidak halal dikonsumsi karena mengandung gelatin babi, seperti keju, cokelat, dan
ice cream. Duh, gak nyangka banget!!! Untuk saja aku tidak suka makan makanan jenis itu. Ada-ada saja di zaman sekarang ini, kita kudu hati-hati dan selektif dalam mengkonsumsi sesuatu, right? ;)

Saat menjelang siang, aku terserang kantuk hebat!!! Akhirnya saat waktu rehat tiba, aku mengajak temanku (Didit) untuk jalan-jalan sekaligus
shopping, hehe.

Sempat-sempatnya bergaya di tepi kolam Masjid Agung Palembang ^_^


Habis dari Masjid Agung, we're shopping to Pasar 16 Ilir Palembang. Di sini semua diobral!!! Semua pedagang berteriak-teriak, berebut menjajakan dagangannya. Tujuanku sih cuma satu, mencari oleh-oleh buat bokap, nyokap, and adik tersayang. Tapi sayangnya, Si Canon tidak bisa beraksi di sini, terlalu berisiko mengingat Pasar 16 begitu terkenal dengan garongnya yang
keren-keren, hehe.

Dari pasar, balik lagi ke Aula Asrama Haji, menyelesaikan pelatihan. Pulang... dan kesorean. Aku masih di bis saat adzan Maghrib berkumandang, huff! Tapi hiruk-pikuk Kota Palembang seolah tak peduli akan waktu. Ada sebuah fenomena menarik yang ku tangkap di sini, tapi sayangnya tak bisa ku ceritakan sekarang, anytime OK! ;)

And then, mampir ke kost sepupu yang tak jauh dari rumah teman tempat ku menginap. Melihat-lihat kondisi mereka sekaligus bersilaturrahim. Subhanallah, mereka cukup nyaman hanya dengan ruang petak 4 x 3 meter dengan segala pernak-pernik dan barang yang ada di dalamnya. Yah, yang penting memang bukanlah seberapa luas ruang yang kita tempati, tapi seberapa luas ruang hati kita untuk menerima segala kondisi yang ada dengan ikhlas...
Ya Allah, aku masih harus lebih banyak belajar tentang makna ikhlas.

Satu jam kemudian, barulah aku kembali ke rumah teman, berjarak kira-kira 250 meter dari kost sepupuku. Melewati pedagang koran dan majalan, aku mampir sejenak melihat-lihat dan akhirnya membeli satu eksemplar tabloid. Rasanya santai saja langkahku malam itu, menikmati udara malam Palembang yang mulai terasa nyaman di hidungku, dan semilir angin sejuk yang mengobati gerah sekujur tubuhku.

Malamnya setelah dinner, bercerita dan sharing sejenak. Lalu temanku yang pandai bergitar itu, mulai memainkan melodinya ^_^ Cihuuuy!!! Akhirnya kami begadang rekaman ala amatiran, haha. But, tentu saja rekamannya tidak bisa di-share... hanya untuk kalangan terbatas ^_^

Alhamdulillah, segala puji bagiMu Ya Rabb... atas segala nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami...
Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzzibaan.

August 10th, 2009
Morning
Bersiap-siap untuk pulang, dan mampir ke Lahat, naik kereta pukul 09.00 WIB. Membawa tas dan kantong plastik besar di tangan kanan dan kiri, temanku menyandang ransel super berat di bahunya. Kami berkejaran dengan waktu, berlari-lari kecil sambil menahan beratnya beban. Akhirnya kami tiba di stasiun tepat seperempat jam sebelum keberangkatan.

You know... it's my first time getting on the train. Sebenarnya aku berencana untuk pulang naik bis, tapi karena ada seorang teman yang pulangnya ke Lahat dan karena tiket kereta juga lebih murah, akhirnya aku ikut naik kereta bersamanya.

Selama ini aku memang belum pernah naik kereta api. Jadi, seperti biasa... untuk hal yang baru, semua jadi pusat perhatianku. Memperhatikan hiruk pikuk penumpang yang hilir mudik, pedagang yang lalu lalang, pengamen yang ngotot dan yang santun, pembicaraan-pembicaraan yang menggelikan, sampai bau busuk WC kereta itu, ougghh! But, semuanya terasa nikmat saja. Aku pikir, inilah kehidupan rakyat yang jarang diekspos. Di sini, di kereta ini, aku melihat begitu banyak semangat dari orang-orang yang mencari nafkah di dalamnya. Demi mencari uang, rela menjajakan hanya beberapa bungkus nasi, beberapa botol air mineral, berpanas-panasan, berdesak-desakan. Aku mulai mengira-ngira, berapa ya.... penghasilan mereka per hari. Mereka harus membayarnya dengan kondisi yang seperti ini. Tapi, subhanallah... mereka begitu menikmatinya. Ya... aku menangkap satu pelajaran lagi dari perjalanan ini, bahwa apapun yang kita kerjakan, berapa pun yang kita hasilkan, jika kita dapat menikmatinya, maka kita bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidupa ini. Bahwa kebahagiaan itu bukan terletak pada nikmatnya, tapi pada rasa syukur atas nikmat apapun itu... *
Ah, aku masih harus lebih banyak belajar dari ini semua*

Potret seorang ibu tua yang sedang menyenandungkan lagu kehidupan, mengamen dari kereta ke kereta. It's awesome! Subhanallah...

15.50 WIB
Alhamdulillah, akhirnya tiba di Lahat. Bertemu dengan seorang sahabat lama sewaktu kami bersekolah di SPK Pemda Lahat, namanya Eti. Sesuai dengan yang telah direncanakan semula, kami pergi ke Asrama Puntang, yang pernah menjadi
istana kami selama tiga tahun. Masih teringat jelas, enam tahun yang lalu saat kami meninggalkan ini semua. Dan akhirnya kini, kami bernostalgia kembali, mengingat kenangan-kenangan manis semasa hidup di Asrama; main basket, nyelaber alias mengepel lantai yang lumayan luas, ngantri ompreng di ruang makan, nampung air (karena cukup sulit mendapatkan air di sini, maka untuk mandi cukup lah satu ember kecil saja), latihan nasyid di Musholla, berebut makanan di Kantin, begitu indah mengenangnya...

Tak banyak yang berubah, hanya cat dan bertambahnya dua buah bangunan asrama. Setelah mengambil beberapa foto dan berbincang sejenak dengan pemilik Kantin, kami pulang.

Papan nama masih yang dulu, yang dulunya "SPK & AKPER" kini hanya dihapus "SPK &"-nya saja. Menyedihkan.... aku tak habis pikir, kenapa tidak membuat yang baru saja ya ? *confuse mode on*

Di sinilah tempat tinggalku dulu...


Jadi inget banget zaman *nampung air*. Kalo yang paling banyak airnya dijuluki "Antu Banyu" alias "Hantu Air" hehehe


Hmmm... hanya cat dinding dan penghuninya yang berubah

Bangunan kantor dan kelas juga tidak banyak berubah


Bangunan ini memberi banyak kenangan manis, tempat di mana dulu aku merekam semua yang difatwakan oleh guru-guru


Musholla ini punya kenangan tersendiri di hatiku. Jadi inget tim nasyid Miftahul Jannah yang sering latihan di sini ^_^


17.30 WIB
Tiba di rumah sahabatku yang satunya, Maliana. Dia belum lama menikah. Sudah lama juga tidak bersilaturrahim ke sini. Keluarganya sudah ku anggap sebagai keluarga sendiri. Banyak yang berubah, terutama tampilan rumah dan aksesoris rumah yang telah dipoles manis.

Momen seperti ini jangan lupa diabadikan ^_^
(Maliana, nomor 1 dari kanan. Eti, nomor 2 dari kanan. Di sebelahku, Ibunya Maliana, biasa dipanggil "Umak")


20.00 WIB Kurang Lebih
Alhamdulillah, finally tiba di rumah Eti, tepatnya di Desa Banjar Sari. Karena letih, kami bercerita sejenak lalu beristirahat jauh lebih awal dari biasanya.

August 11th, 2009
Pagi yang segar dan cerah, tubuh jauh lebih fit setelah beristirahat. Setelah sarapan, beres-beres rumah, melihat-lihat foto kenangan, lalu kami mengambil air di sumur. Oh, it's so wonderful! Ada kenikmatan tersendiri ketika menimba air dari sumur itu, dan airnya jernih... subhanallah.

And then, kami masak... cihuyyy!!! Inilah yang ditunggu-tunggu, karena aku suka bereksperimen *
walau rasanya belum tentu enak* :D Akhirnya, terciptalah sayur bening bayam, sambal caluk, and... ikan mujahir pangggang yang muaknyussss tenannnn...

Jreng...!!!


Hmmm.....

Di tengah asyik-asyiknya memanggang ikan, aku dicakar oleh kucing ini, dia terlalu laper and gak dikasih-kasih akhirnya dia nyakar... *Aku sih kurang sensitif!* (doh)


Setelah makan-makan, ba'da Zuhur kami ke sungai Lematang Lahat di Desa Banjar Sari, berjarak kurang lebih 200 meter dari rumah Eti. Subhanallah... indahnya pemandangan di sana, ditambah jembatan gantung yang berayun-ayun ketika kita berjalan di atasnya, seruuu!!!

Ck ck ck...


Sungai Lematang yang sudah terpolusi *berwarna coklat* :(


Deuh! Gayanya dua sohibku ini... ^_^

Haha...


Anak-anak yang sedang bermain juga kami ajak berfoto ria ;)


Keasyikan jadi lupa waktu, ternyata hari sudah sore... Buru-buru kami pulang, and berkemas-kemas. Lalu kedua sohibku ini mengantar aku menunggu bis tujuan Pagar Alam. Kebetulan rumah Eti terletak di jalan Lintas sumatera, jadi aku menunggu bis dari Palembang yang lewat...

Nyaris tidak dapat kursi, alhamdulillah finally pukul 16.15 WIB aku berangkat pulang menuju kota tercinta, Pagar Alam.

Tak terasa, perjalanan ini berakhir sudah, begitu banyak pengalaman dan pelajaran yang tak dapat ku ceritakan semuanya di sini. In the end of this post, I just wanna say, subhanallah walhamdulillah wallahuakbar!!!

Tuesday, July 21, 2009

Akan Tiba Saatnya

Akan tiba saatnya,
Saat bagi diriku untuk memutuskan, untuk memilih
Akan tiba saatnya,
Saat bagi ku untuk memasuki dunia baru,
Dunia yang benar-benar berbeda
Dunia yang memberi warna-warni indah
Hingga membuat seakan diri ini orang paling bahagia sedunia
Dunia ini pula yang akan memberi teka-teki tersulit
Untuk masuk ke kedalaman hati seseorang
Melihat apa yang ada di dalamnya
Menguraikan teka-teki itu
Memahaminya, menerimanya, lalu mencintainya

Akan tiba pula saatnya
Saat bagi diriku …
Dimana saat itu aku hanya akan bisa mengenang…
Tanpa bisa kembali,
Tanpa bisa kembali menertawakan kelucuannya
Menikmati kesenangannya atau mengubah kesedihannya

Akan tiba saatnya,
Saat bagi diriku, dimana saat itu aku hanya akan dapat menangisi…
Kabut hitam dalam hati
Dosa kelam diri ini
Waktu yang takkan terulang lagi

Akan tiba saatnya,
Saat bagi diriku, dimana saat itu
Aku hanya akan bisa terdiam,
Diam, diam,
Dan hanya diam

NB : Mendadak mosting di tengah pekerjaan yang menumpuk :D