Mentari,
Maafkan daku lupa pada hangatmu
Sebab ia tlah begitu rupa
Menghangatkan hatiku
Pelangi,
Maafkan daku abaikan indahmu
Sebab ia tlah begitu rupa
Melukiskan keindahan di hatiku
Wahai mentari, duhai pelangi
Maklumilah...
Hatiku kini bermusim baru
Menyemai syahdu
Thursday, March 31, 2011
Saturday, February 12, 2011
Langit Pagi
Langit pagi ini
Siratkan warna hati
Membentang bagai lautan permadani
Membiru bagai indahnya mimpi-mimpi
Mungkin kini
Langit kata sedang memuai jiwa
Mengumpulkan bait-bait nan indah
Dalam kristal awannya
Mungkin nanti
Kala ia tlah berevaporasi
Kan kuhujani engkau dengan puisi
Kan kuindahkan engkau dengan pelangi diksi
Sumber gambar dari sini
Thursday, January 27, 2011
Aku Lupa
Ternyata aku lupa
Engkau membuat langit menjadi lega
Engkau membuat petani bergembira
Engkau menyejukkan sesak udara
Ternyata aku lupa
Derasmu ciptakan berkah di bumi
Derasmu lelapkan mimpi
Derasmu hadirkan pelangi
Ah, jika aku ingat
Betapa engkau akan kuizinkan
Menderas tiap hari
Membanjir di sini
Aku mencintamu, hujan
Sumber gambar dari sini
Thursday, January 20, 2011
Thursday, January 13, 2011
Jika Kau Rindu
Puisi punya rumahnya
Menjadi tempat berteduh
Menjadi tempat berteduh
Menjadi tempat mengadu
Puisi pun kadang tak pulang
Layaknya kita, yang selalu rindu akan pulang
Saat tak ada lagi tempat untuk pulang
Jika kau rindu puisi
Pulanglah...
Pulanglah...
Wednesday, January 12, 2011
"Dah sampe mana hafalannya?"
Beberapa hari yang lalu, saat bersilaturrahim dengan teman-teman seperjuangan di sebuah acara, saya iseng bertanya dengan anak dari salah satu Mbak yang ikut dalam acara itu.
"Adek sekarang hafalannya dah sampe mana?", saya bertanya dengan santai sambil menikmati acara tersebut.
Lalu, ia juga menjawab dengan santai sambil cuek menatap ke depan, "Al Qolam".
*glekkk* Saya benar-benar tertohok, tertampar keras sekaligus malu. Betapa saya sungguh malu, mengingat hafalan saya yang masih cekak. Saya teringat bagaimana susah payahnya menghafalkan sepertiga jumlah surat dari Al Qur'an. Sedangkan anak ini, sudah jauh ke depan, Juz 29! Padahal ia baru kelas 3 SD!
Malu. Asli. Malu sekali. Betapa saya sering melonggarkan diri untuk tidak menghafal ayat-ayat suci. Betapa saya sering berharap pada ucapan `nanti'. "Nanti saja lah, kan masih ada waktu".
Dan saya semakin tertampar keras, saat melihat rekaman video para Hafizh dari Tajkistan. Adalah Muhammad Ayub, usianya baru 7 tahun. Ia adalah salah satu penghafal Al-Qur'an terkecil di dunia dari Badan Tahfizh Al-Qur'an Internasional. Mendengarkan ia sedang tasmi' dengan kualitas bacaan yang luar biasa, saya merinding. Ada beberapa anak lagi yang sempat saya dengarkan hafalannya, Mihrabuddin (7 tahun), Shalaahuddin (7 tahun), dan Najmuddin (6 tahun). Kesemua anak-anak itu adalah Hafizh, hafal seluruh Al-Qur'an. Subhanallah...
Ingin sekali saya membagi videonya disini, hanya saja belum sempat saya edit. Pokoknya mendengarkan anak-anak itu bersenandung Al-Qur'an, saya merinding, sekaligus iri.
Maka pertanyaan yang harus segera diajukan pada diri kita adalah, "Dah sampe mana hafalannya?"
(ninja) *dissapear*
Sumber gambar dari sini
Sunday, January 09, 2011
Dunia Pasti Berputar
Mengingat kord lagu ini cukup mudah bagi saya (kecuali F), maka patut dicoba. Here we go :
C G Am G
Dunia pasti berputar
F Em Dm G
Ada saatnya semua harus berubah
C G Am G
Ingat pasti bertukar
F Em Dm G
Kita harus siap hadapi semua
F G
Ikhlaskan segalanya
F G C
Jalani semua yang ada di dunia
Int: G Am G F Em Dm G
C G Am G
Dunia pasti berputar
F Em Dm G
Ada saatnya semua harus berubah
F G
Ikhlaskan segalanya
F G
Jalani semua yang ada…
C G Am G
Dunia pasti berputar
F Em Dm G
Ada saatnya semua harus berubah
C G Am G
Ingat pasti bertukar
F Em Dm G
Kita harus siap hadapi semua
F G
Ikhlaskan segalanya
F G
Jalani semua yang ada.. ho ho ho hoho
Interlude: Am G C Dm E
Am-G Am G C
D Dm G
C G
Ho ho ho Tuhan pasti berikan kita
Am Em
Segala yang indah
F C Dm G
Dengan segala anugerah tuk kita
C G Am Em
Yakinkan kita pasti bisa jalani semua
F G
Jagalah semua yang telah ada
Dm G
Tuk hidup kita
C G Am G
Dunia pasti berputar
F Em Dm G
Ada saatnya semua harus berubah
C G Am G
Ingat pasti bertukar
F Em Dm G
Kita harus siap hadapi semua
F G
Ikhlaskan segalanya
F G C G Am G
Jalani semua yang ada di dunia
Coda: F Em Dm G
Saya suka lagu ini, lirik yg meneduhkan jiwa ditambah dengan nada-nada yang pas di hati, menjadikan lagu ini enak didendangkan di waktu-waktu sela. Cuma jari saya belum terbiasa dengan kunci F, masih ancur! :D
C G Am G
Dunia pasti berputar
F Em Dm G
Ada saatnya semua harus berubah
C G Am G
Ingat pasti bertukar
F Em Dm G
Kita harus siap hadapi semua
F G
Ikhlaskan segalanya
F G C
Jalani semua yang ada di dunia
Int: G Am G F Em Dm G
C G Am G
Dunia pasti berputar
F Em Dm G
Ada saatnya semua harus berubah
F G
Ikhlaskan segalanya
F G
Jalani semua yang ada…
C G Am G
Dunia pasti berputar
F Em Dm G
Ada saatnya semua harus berubah
C G Am G
Ingat pasti bertukar
F Em Dm G
Kita harus siap hadapi semua
F G
Ikhlaskan segalanya
F G
Jalani semua yang ada.. ho ho ho hoho
Interlude: Am G C Dm E
Am-G Am G C
D Dm G
C G
Ho ho ho Tuhan pasti berikan kita
Am Em
Segala yang indah
F C Dm G
Dengan segala anugerah tuk kita
C G Am Em
Yakinkan kita pasti bisa jalani semua
F G
Jagalah semua yang telah ada
Dm G
Tuk hidup kita
C G Am G
Dunia pasti berputar
F Em Dm G
Ada saatnya semua harus berubah
C G Am G
Ingat pasti bertukar
F Em Dm G
Kita harus siap hadapi semua
F G
Ikhlaskan segalanya
F G C G Am G
Jalani semua yang ada di dunia
Coda: F Em Dm G
***
Saya suka lagu ini, lirik yg meneduhkan jiwa ditambah dengan nada-nada yang pas di hati, menjadikan lagu ini enak didendangkan di waktu-waktu sela. Cuma jari saya belum terbiasa dengan kunci F, masih ancur! :D
Chords source : from here
Saturday, January 08, 2011
About Music
Musik, aku mengenalnya sejak masih sangat mungil. Teringat dulu, ketika aku suka menghapal semua lagu yang kudengar, entah itu lagu anak-anak atau lagu orang dewasa. Teringat dulu, ketika aku sering meminta Papa untuk memainkan pianonya, lalu aku bernyanyi dengan riang. Tak ada pelajaran disana, entah itu tentang nada, tempo, apalagi genre musik. Tahukah apa yang dihasilkan dari musik? Sebuah perasaan yang tak tergambarkan, ada riang disana, ada ketenangan disana. Dengan musik, hati seolah bisa mengadu begitu saja. Mengadukan apapun.
Saat dewasa, aku mengerti bahwa menciptakan harmonisasi sebuah karya seni musik tidaklah mudah. Teknik yang berbeda di setiap alat musik memberi warna yang sangat menakjubkan. Ingin rasanya diri ini menjadi bagian dari harmoni itu. Tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin bisa menghibur diriku sendiri, dengan harmoni. Namun, mengetahui tingkat kesulitan dari setiap alat musik adalah seperti menatap langit. Jauh, seolah tak terjangkau. Lalu kucoba mengurai dari yang paling sulit kujangkau, dan akhirnya kutemukan jawabnya.
Gitar. Ya, gitar. Sebuah alat musik yang mudah ditemui dimana saja. Di kampung paling pelosok sekalipun. Bahkan pengamen yang tak mampu membeli gitar paling murah pun bisa membuatnya sendiri. Lihat saja penampakan ini :
Maka bisa dibilang, gitar adalah alat musik yang `merakyat`. Sejak dulu, aku sudah jatuh cinta pada gitar. Ingin sekali rasanya memetik senar-senarnya, memainkan jemari mencari nada-nada indah. Namun, aku baru bisa mewujudkannya saat merantau, akhir 2009 lalu. Itupun tak ada yang bisa mengajari bagaimana teknik bergitar dengan benar. Otodidak saja, cari lagu jenis chordnya sedikit, lalu mencoba memainkannya satu demi satu. Maka bisa ditebak hasilnya, berantakan. Namun, walau cara bermain gitar masih payah, ada kesenangan tersendiri saat bisa menaklukkan sebuah kunci nada.
Gitar, mudah dibawa kemana saja, bisa dimainkan dimana saja, namun harmonisasi yang dihasilkannya sungguh menakjubkan. Ada banyak gitaris yang bisa menginspirasi jiwa-jiwa musikal. Sebut saja salah seorang gitaris anak bangsa, Jubing Kristianto. Ia menciptakan sebuah karya musik yang fenomenal sekaligus menakjubkan.
Melihat dan mendengar aksi solo guitar tersebut, membuat saya terkagum-kagum. Betapa sebuah harmoni yang menakjubkan bisa diciptakan dengan teknik sedemikian rupa. It's awesome.
Saya yakin, masih ada begitu banyak karya seni musik yang hebat di dunia ini. Ada begitu banyak pelaku seni musik dengan genre musik yang berbeda, dengan alat musik yang berbeda pula.
Musik, ada satu hal yang pasti kita temui di dalamnya; sebuah kekayaan tiada tara.
Thursday, January 06, 2011
Saturday, January 01, 2011
2011; Tahun Baru, Semangat Baru!
Di tahun baru ini, tentunya kita semua bersemangat untuk menjalankan semua rencana yang telah kita desain saat akhir 2010 kemarin. Ada banyak harapan baru serta target-target baru yang akan mewarnai tahun baru kali ini. Semuanya tentu dalam rangka menjadikan segala sesuatunya lebih baik dari hari kemarin.
So, sebelum saya beranjak lebih jauh, saya ingin membuat sedikit review untuk tahun 2010. Here we go!
Bertemu dengan banyak blogger
Subhanallah, walhamdulillah... saya bisa hadir di beberapa agenda blogger di tahun 2010 ini. Bertemu langsung dengan para blogger yang hanya saya kenal dari layar monitor memang asyik. Amprokan Blogger yang diadakan di Bekasi, miladeBlogger, SOLO serta Pesta Blogger membuat saya cukup terperangah, bahwa ternyata ada begitu banyak blogger aktif di Indonesia yang begitu bersemangat dalam menulis.
Kopdar! Ya... kopdar memang selalu menghadirkan sesuatu yang berbeda. Apalagi para blogger yang datang di event-event itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain bisa kopdar, acara semacam ini juga bisa dimanfaatkan untuk hunting foto dan jalan-jalan. :D Satu yang pasti, hal positif yang bisa kita dapatkan adalah semangat menulis (walau tahun 2010 ini postingan saya kebanyakan puisinya). :p
Lompatan Tak Terduga
Menjelang akhir 2010, saya mendapatkan sebuah peluang yang sama sekali tak terpikirkan dan tak terlintaskan di benak saya. Jurnalis. Ya, September lalu saya ditawari oleh seorang teman untuk mengambil job yang sebenarnya ditawarkan padanya. Awalnya saya ragu pada diri sendiri, 'Apakah saya mampu?' Namun, karena dorongan keinginan untuk mencoba hal yang baru, 'Why not?'
Satu hal yang saya sukai dari pekerjaan baru ini adalah freedom. Saya bebas bekerja kapan saja dan dimana saja tanpa terikat ruang dan waktu. Saya bisa mengerjakannya sambil jalan-jalan ataupun saat bersantai di rumah. Tapi, kendala terbesar yang sampai saat ini saya masih terus mencoba beradaptasi adalah gaya penulisan. Terjebak dalam diksi-diksi puisi selama nyaris setahun ini membuat saya agak sulit menemukan `feel` saat saya menulis artikel-artikel jurnalistik. But, I'm sure I can learn to be better.
Ada sesuatu yang menggelikan jika seseorang menanyakan tentang pekerjaan dan latar belakang pendidikan saya. Basic perawat, suka IT, tapi bekerja sebagai kontributor majalah. Saat saya bekerja sebagai IT Support, orang-orang akan bertanya, "Dulu lulusan mana? Ngambil spesialisasi IT apa?" Widih.... *saya bergidik sambil geli sendiri* Lantas saya jawab saja seadanya, "Saya basic-nya perawat kok, tapi suka IT." :p Begitu juga saat ini, ada yang bahkan bertanya, "Kamu anak Komunikasi ya?" :D Teman-teman lama yang baru tahu pekerjaan terakhir saya ini pun terheran-heran, "Lho! Bukannya kamu perawat? Kok bisa sampe ke majalah sih?" Dan saya hanya bisa nyengir-nyengir dan menjelaskan seadanya. :D Yang pasti, this is a great jump!
Sakit
Ugh! Sakit memang bukan teman akrab bagi seorang Cici Silent. Namun di pertengahan September lalu, saya benar-benar KO! Dirawat di rumah sakit pulak! (doh) Saya kira, proses recovery kesehatan hanya akan berjalan satu minggu saja. Nyatanya lebih dari satu bulan temans! Parah. Namun, saya sadar bahwa kesemuanya itu disebabkan oleh ketidakpedulian terhadap diri. Mungkin saya telah begitu sering memaksakan diri sampai di titik terakhir stamina. Dan memang Allah menegur saya dengan sakit hingga saya benar-benar sadar bahwa ada hak tubuh untuk diistirahatkan, bahwa ada hak anggota tubuh untuk dipenuhi secara maksimal kebutuhannya. Benarlah kata-kata bijak yang sering kita dengar, "Ingatlah sehatmu, sebelum sakitmu".
Yogyakarta
Sejak saya menginjakkan kaki di kota ini 3 Oktober 2009 lalu, saya telah jatuh cinta padanya. Keramahan penduduknya, ketenangan kotanya, keindahan alamnya, kekayaan budayanya membuat saya benar-benar jatuh cinta. Di akhir 2010 lalu, saat menjadi relawan Dompet Dhuafa untuk korban Merapi, saya cukup lama berada di Jogja. Setiap hari berinteraksi dengan orang-orang Jawa dengan bahasa khasnya, mengunjungi tempat-tempat yang menakjubkan, menyaksikan budaya mereka yang begitu mengesankan membuat saya benar-benar selalu rindu akan Jogja.
Maka sejatinya, Yogyakarta telah membuat khasanah petualangan saya semakin kaya.
Senja yang indah, diapit dua buah atap yang saling bersisian.
(Kos Puri Ayu, Jakarta Selatan, 27 Januari 2010)
(Kos Puri Ayu, Jakarta Selatan, 27 Januari 2010)
Sebuah scene hijau menarik di Jababeka.
(Bekasi, 06 Maret 2010)
(Bekasi, 06 Maret 2010)
Pernak-pernik lampu cantik di sebuah masjid yang begitu menarik perhatian saya.
(Bogor, 20 Maret 2010)
(Bogor, 20 Maret 2010)
Senja di Daarut Tauhid.
(Bandung, 18 April 2010)
(Bandung, 18 April 2010)
Menyeberangi Selat Sunda.
(23 April 2010)
(23 April 2010)
Liku jalan menuju perbatasan puncak Gunung Dempo.
(Pagar Alam, 28 April 2010)
(Pagar Alam, 28 April 2010)
Simetris di Masjid Kubah Emas.
(Depok, 29 Mei 2010)
(Depok, 29 Mei 2010)
Saat melakukan Aksi Layanan Sehat ke Muntilan.
(Yogyakarta, 13 November 2010)
(Yogyakarta, 13 November 2010)
Salah satu pantai di Gunung Kidul yang cukup indah, Baron.
(Yogyakarta, 20 November 2010)
(Yogyakarta, 20 November 2010)
Gunung Dempo saat senja. Diambil dari Alun-alun kota.
(Pagar Alam, 28 Desember 2010)
(Pagar Alam, 28 Desember 2010)
Pemandangan yang jarang saya lewatkan kala berkunjung ke rumah nenek.
(Pagar Alam, 31 Desember 2010)
(Pagar Alam, 31 Desember 2010)
Demikian. Semoga kita mengawali tahun baru juga dengan semangat baru. Chayooo!
Subscribe to:
Posts (Atom)
















