Tuesday, December 14, 2010

Belajarlah Lupa

 
 
Telah begitu lama
Kau belajar untuk mengingat semua
Menghapal nama-nama dan peristiwa
Merekam bait-bait di kedalaman rasa
Meresapi makna pada relung jiwa

Namun tak maukah kau coba sekali saja
Belajarlah lupa

Sumber gambar dari sini

Sunday, November 07, 2010

Maukah Kau Tahu

Wahai bahasa, masih miskinkah rasa
Jatuh merapuh
Berdebam dalam lumpur asa

Duhai kata, masih dangkalkah makna
Hanyut terlerai, cerai
Berpencar ke segala arahnya


Aku tahu itu rasa
Aku tahu dalamnya makna
Tapi maukah kau tahu?

Gambar diambil dari sini

Wednesday, November 03, 2010

Tentang Sahabat

Teman, aku punya tiga kisah. Kisah tentang sahabatku yang semoga dapat kita ambil hikmahnya.




Cerita Pertama

Ia sahabatku, sahabat setiaku. Aku memahaminya, dan ia pun sangat memahamiku. Ia seorang yang sederhana, dari keluarga sederhana, dan memiliki impian sederhana. Pertemuanku dengannya sebetulnya bisa dibilang by accident. Namun atas izinNya, kami pun berteman, saling mengenal, bertukar cerita, berdiskusi, dan sebagainya. 

Waktu berlalu, dengan kesibukan masing-masing kami pun sudah jarang bertemu. Jika ada momen-momen yang memungkinkan kami berbincang, maka kami sempatkan waktu itu untuk memanfaatkannya menjadi sebuah pertemuan yang berkualitas. Namun jika tidak –dalam sebuah rapat organisasi misalnya- kami hanya bisa saling memandang, saling menerobos ruang hati lalu bergumam, “Apa kabarmu wahai sahabatku?” dan aku pun hanya mendapatkan jawaban dari senyuman dan tatapan matanya.

Terkadang jika aku sempat, kudatangi ia di rumahnya, kuberikan kejutan. Ia nampak begitu senang. Aku pun turut senang untuknya. Lalu kami memutar sebuah album nasyid, bernyanyi bersama, tertawa bersama. Ah, indah sekali mengenangnya.

Tiga tahun lalu, ia menikah. Aku begitu antusias membantunya menyiapkan pernikahan. Kulakukan apa yang mampu kulakukan untuknya. Aku sungguh ikut berbahagia dengan pernikahannya. Menemaninya di momen-momen penting dalam hidupnya. Walau aku sadar, ia akan memiliki kehidupan yang baru. Tanggung jawab dan kewajiban sebagai istri, juga sebagai seorang ibu kelak. Namun, aku yakin ada ikatan yang kokoh di antara kami. 

Satu tahun lebih setelah pernikahannya, ia dikaruniai seorang anak. Cantik namanya, secantik maknanya. Namun disinilah Allah menguji sahabatku. Anaknya menderita penyakit bawaan yang dapat membuatnya cacat mental (down syndrome). Bayi mungil nan cantik itu seringkali diserang kejang-kejang pada beberapa bagian tubuhnya dan mengakibatkan otaknya menciut. Sedih hatiku melihatnya, namun selalu kutampakkan wajah penuh optimisme pada ibunya, bahwa ia harus yakin… masih banyak yang bisa diusahakan, bahwa teknologi terkini akan mampu mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Bahwa jika pun nanti anaknya menderita epilepsi, semua masih bisa dikendalikan. Bahkan seorang Galileo, Newton dan banyak orang hebat lainnya adalah penderita epilepsi.

Di tengah cobaan yang menggiriskan itu, cobaan lain pun datang menghampiri sahabatku. Suami dan keluarganya menentang pengobatan medis, dan menyuruhnya berobat ke orang pintar. Ia bercerita padaku sambil terisak. Geram aku mendengarnya. Bagaimana mungkin suaminya yang seorang sarjana bisa lebih percaya pada dukun?! Komunikasi sudah cacat fungsi. Suaminya hanya bisa menuruti kata-kata ibunya. Sahabatku bingung setengah mati, memilih antara logika yang sehat dan loyalitas pada suami. Beruntung, hari itu hujan deras. Sang dukun pun tak jadi datang.

Berbulan berikutnya, aku singgah ke rumahnya. Ia masih mengajar di sebuah sekolah swasta, sambil mengasuh seorang anak yang istimewa. Alhamdulillah, kini suaminya telah mengerti dan mengupayakan pengobatan terbaik bagi anak mereka. 

Kabar terakhir kudengar, sahabatku itu telah hamil lagi. Namun aku yakin padanya, pada semangatnya yang sederhana namun mempesona, pada senyuman yang penuh ketegaran, pada pengabdian yang penuh keikhlasan.


Cerita Kedua

Ia sahabatku. Teman satu sekolah saat SMP dulu. Ia pintar namun sungguh pemalu. Aku ingat ketika dulu waktu pelajaran seni suara, ia bernyanyi dengan merdu namun matanya tak berani menatap seisi kelas, ia malu. Prestasinya sungguh membanggakan. Bayangkan saja, di antara ribuan siswa ia nomor satu. Ya, kecerdasannya tak perlu diragukan lagi.

Di sekolah menengah, aku tak tahu lagi kabarnya karena kami memang melanjutkan sekolah di kota yang berbeda. Kudengar ia masih berprestasi, seperti dulu.

Beberapa tahun kemudian, saat aku kembali ke kota kecil itu, aku berjumpa kembali dengannya. Namun siapa sangka, dunia seolah tak berpihak padanya. Wajahnya sendu, lebih tepatnya muram. Ia tengah berperang dengan para petinggi civitas akademika. Berperang batin antara nurani, keculasan dan logika. Ia ingin idealismenya tegap tertegak. Namun, dunia pendidikan yang ia temui sungguh otoriter, dimana kecerdasan tak lagi dicari, kreativitas dan inovasi tak lagi laku. Semuanya uang dan keangkuhan. 

Sahabatku tetap berjalan di jalan yang ia pilih. Walau ia pada akhirnya lulus kuliah dengan nilai yang tidak memuaskan. Namun, ia tetap tegar dan melanjutkan hidup. Bagiamanapun, penilaian manusia pada dasarnya semua relatif. Apalah artinya nilai A jika pemahaman kita hanya sebatas kata-kata tanpa mampu menyelami maknanya? 

Beberapa saat setelah lulus kuliah, ia mengajar sebagai tenaga honor di salah satu sekolah negeri. Realita yang menggiriskan pun kembali ia temui. Ia menerima gaji namun angka yang tertera di kertas, jauh di atas nominal yang ia terima. Dan ia dipaksa nasib untuk membubuhkan paraf di kertas yang penuh rekayasa itu. 

Aku benci mendengarnya. Benci meilhat sahabatku yang dizholimi dan dikebiri haknya. Benci dengan sistem dan segala tipu daya pengagung dunia. Benci.

Aku hanya bisa menghibur sahabatku, bahwa rezeki Allah lah yang mengaturnya. Bahwa Allah Maha adil dan takkan meninggalkan hamba-hambaNya. Bahwa bersabar adalah obat segala-galanya.

Beberapa waktu lalu, aku mendengar kabar mengejutkan sekaligus menyenangkan. Sahabatku itu kini telah lulus PNS di salah satu kota Propinsi Sumatera Selatan. Murni. Tanpa sogokan yang dilakukan kebanyakan orang. Subhanallah… walhamdulillah… Semoga engkau senantiasa dalam lindunganNya, sahabatku…


Cerita Ketiga

Ia sahabatku, salah satu penggemar karya-karya anak Belitong yang nyentrik tapi menarik itu –Andrea Hirata- sama sepertiku. Pemikirannya biasa saja, namun kedewasaan dan kemauannya untuk terus belajar dari saiapapun tak mengenal usia, itulah yang menajdi daya tarik pribadinya.

Suatu saat, ia diuji oleh Allah. Di siang yang tenang, ia tengah membuat bakso, membantu bisnis mertuanya yang memang tengah berkembang. Entah kenapa, kali itu ia tak memakai sandal. Tak seperti biasanya. Beberapa saat kemudian setelah menggiling daging, tiba-tiba ia terpeleset. Mencegah jatuh, tangan kirinya reflek menggapai-gapai sekitar. Disinilah tragedi itu berawal, tangan kirinya yang tak terkendali itu masuk ke dalam mesin giling daging yang ternyata belum dimatikan.

Jari-jarinya mulai tertarik dan dilumat oleh besi-besi penggiling itu. Namun ia hanya bisa menjerit tanpa mampu mematikan mesinnya. Detik terus berjalan, mesin itu pun meremukkan jemarinya tanpa ampun. Orang yang melihat kejadian itu panik, hanya bisa ternganga, terdiam, tak kuasa menolongnya. Akhirnya, dengan menahankan rasa sakit, ia berusaha mematikan sendiri mesin itu. Dan bersaranglah keempat jari-jari tangan kirinya, terjepit di antara besi-besi. 

Semua orang akhirnya berkumpul membantunya, namun tak ada yang bisa dilakukan karena saat jemari itu ditarik, maka akan terasa perih yang sangat dahsyat. Tak ada jalan lain, mesin itu harus dibongkar. Perlu waktu 1 jam untuk mengeluarkan jemari itu. Dan setelah ditangani oleh dokter di rumah sakit tempatku dulu bekerja, butuh waktu 2 jam untuk menanganinya. Seperti yang diduga oleh rekan-rekan perawat yang mengerti tentang ini, akan ada kemungkinan-kemungkinan terburuk. Mengingat banyak sekali otot-otot kecil di jemari itu yang sudah berpindah satu sama lain, tak bisa disatukan lagi. Rangkanya pun telah remuk, seremuk hati sahabatku saat itu.

Saat menemuinya, hatiku ngilu. Namun ia masih tersenyum seperti biasanya. “Mungkin saya ini banyak dosa, dan Allah menjadikan ini sebagai jalan untuk mendapat ampunan dan hidayahNya”, ujarnya.

Ah, aku salut akan ketabahannya.

Sahabatku itu menjalani beberapa operasi. Dan kini, jemari tangan kirinya tinggal tiga, namun semangat hidupnya bertambah. Ia kini berbahagia dalam hidayah. Dua jarinya telah tiada namun kehilangan itu membuatnya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.

Sewaktu pulang kemarin, mendapat kabar dariku bahwa aku membawa karya Andrea Hirata terbaru, Padang Bulan, ia mampir. Aku senang melihatnya ceria, semangatnya masih seperti dulu. Ia seolah telah lupa tentang kehilangan. Subhanallah… hidupnya tercerahkan dengan ujian.

Gambar diambil dari sini

Saturday, October 23, 2010

Kertas Hati



Mungkin, kertas kosong itu t'lah lama menantiku
Dalam keletihan, panjangnya penantian
Terkadang aku heran, mengapakah ia tak membiarkan pena lain?
Bukankah warna mereka penuh pesona?

Lalu aku pun mendengar lirih jawabnya, "Aku tak mampu berganti hati. Aku hanya ingin setia".


Gambar diambil dari sini

*Mengakhiri masa hibernasi*

Saturday, October 02, 2010

Tuesday, September 21, 2010

Perbedaan

Ada yang bilang padaku
Musik indah tercipta
Sebab berbeda irama
Berbeda nada

Ada pula yang bilang padaku
Panorama alam mempesona
Sebab berbeda rupa
Tak padan warna
Jika memang keindahan
Ada dalam perbedaan
Bantu aku temukan siratnya
Harmoni rasa di jiwa

Gambar diambil dari sini

Thursday, September 09, 2010

Maaf...

Ketika pintu hati terbuka
Hanya maaf dari jiwa
Yang bersenandung dengan indahnya kata
Di hari yang fitrah, smoga tercapai derajat takwa
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
Taqabbalallahu minna wa minkum
Shiyamana wa shiyamakum
Mohon maaf lahir bathin...


NB : Semoga kita bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun-tahun berikutnya, amiiin Ya Rabb...

Tuesday, September 07, 2010

Pahamilah Makna

Tahukah apa arti berbagi?
Berbagi adalah kebebasan
Bebas mengungkap semua
Semua kepenatan, jua keriangan

Tahukah apa makna bersama?
Bersama adalah kekuatan
Kuat menahan semua
Semua beban dan cobaan, agar ia ringan


Jika berbagi kita bebas
Maka apalah lagi yang membuatmu berat?
Jika bersama kita kuat
Maka apalah lagi yang membuatmu masih ingin sendiri?

Bukan ku tak tahu arti rahasia
Bahwa ada yang harus tetap terjaga
Sampai hari akhir tiba

Namun, mesti kau tahu
Kadang makna itu hilang tiba-tiba
Ditiup angin dingin utara
Begitu saja

Jika masih bisa kau baca
Pahamilah makna

Sumber gambar diambil dari sini

Wednesday, September 01, 2010

Kereta

 Gambar diambil dari sini
Dalam bilik kereta
Kutangkap sepasang mata
Tangis itu kulihat tak bertuan
Tersimpan dalam cendawan angan

Lelah bertanya, letih tertatih
Redup bayangnya menggantung sedih
Menerjang batin yang t'lah perih
 
***
NB : Sebenarnya puisi ini belum selesai, tapi telah lama menggantung dan tak mampu saya selesaikan. Adakah yang berkenan melanjutkannya? :D

Tuesday, July 06, 2010

Review "3 Hati Dua Dunia Satu Cinta"


Berawal dari keisengan nonton berita pagi di TV one sambil wara-wiri di tengah pelataran kos, ternyata ada sekilas obrolan tentang sebuah film yang mengangkat kisah cinta terlarang. Film yang diangkat dari dua novel karya Ben Sohib, The Da Peci Code dan Balada Rosid dan Delia ini menceritakan tentang kisah cinta berbeda agama. Namun, uniknya film ini akan dikemas dalam sebuah drama yang dilematis sekaligus kocak serta tanpa tendensi ke agama dan ras tertentu. Hmm... saya jadi tertarik, apalagi film karya Mizan Production ini menyajikan beberapa puisi-puisi WS Rendra (alm). So, saat itu memory saya yang terbatas ini akhirnya berhasil  merekam dengan baik, Premier 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta - 1 Juli 2010 - Harus nonton!
***

Hari Pertama di Bulan Juli

Di tengah pekerjaan yang tak habis-habis dan di sisa-sisa energi terakhir selepas pulang kerja, akhirnya saya putuskan untuk pergi nonton, walau sempat terbersit di pikiran untuk beristirahat saja di kos. Beruntung, ada salah satu teman kantor yang terprovokasi untuk ikut. Saya yang biasanya nonton sendirian dan selalu nyengir tak terdefinisi ketika sang penjual tiket memberi tiket dua lembar (padahal saya cuma nonton sendiri), akhirnya nonton berdua :D *sama temen cewek tentunya*(okok).



Baiklah, saya mulai saja reviewnya. 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta adalah sebuah film yang menceritakan tentang kisah cinta seorang pemuda nyentrik, rada slenge'an namun puitis bernama Rosid (Reza Rahardian) dengan seorang gadis manis berhati lembut, Delia (Laura Basuki).

Film ini diawali dengan adegan bermuatan konflik simbol dan budaya. Rosid yang berambut kribo (seperti sarang tawon, ada juga yang menyebutkan seperti beduk :D) selalu menolak abahnya (Pak Mansyur - Rasyid Karim) yang kekeuh menginginkan sang anak mengikuti budaya agama leluhur mereka untuk mencukur rambut kribonya dan memakai peci. Ada dialog yang cukup mengocok perut saya,

(Rosid menyembunyikan rambut kribo yang dibenci ayahnya, menutup kepalanya dengan semacam kain, menghadap sang Abah yang telah menunggu dengan wajah sangar)

Abah : "Buka!"
(Rosid membuka penutup kepalanya, lalu menyembullah rambut kribo itu :D Rosid pun menunduk perlahan...)
Abah langsung murka : "Astaghfirullah... Kapan Lu mau potong tuh sarang tawon?! Dasar anak Setan!!!" (sangar tapi terdengar kocak)
Rosid menjawab tenang : "Ya... kalo Ocid anak setan, berarti abahnya apaan donk...
(Si Abah langsung naik darah, dan melempar apa saja ke arah Rosid, yang tentu saja lemparannya selalu meleset) :D

Dan saya beserta seantero bioskop langsung terbahak... (lmao) *saya sesaat tersadar sembari mengedarkan pandangan, eh ternyata banyak juga yang nonton premier film ini* (okok).

Kembali ke cerita film, Rosid menentang pendapat ayahnya tentang simbol "peci" di dalam Islam. Di sini saya melihat sosok Rosid sebagai seorang anak yang cukup berani dalam mengutarakan pendapat, walaupun itu bertentangan dengan pendapat orangtuanya. Yeah, as we know... kebanyakan kita hanya bisa terdiam jika telah berhadapan dengan orangtua. Pesan yang ingin disampaikan dalam simbol "peci" ini cukup tervisualisasi dengan baik. Dan tentu saja tersirat dengan halus karena banyak dibumbui oleh humor-humor yang asyik.

Kisah asmara Rosid dan Delia pun akhirnya tercium oleh kedua orangtuanya. Perbedaan agama dan budaya membuat hubungan mereka menjadi dilematis. Rasa cinta terhadap kekasih bertarung dengan rasa cinta dan sayang terhadap orangtua dan keluarga. Berbagai cara dilakukan oleh kedua orangtua masing-masing untuk memisahkan pasangan kekasih ini, namun tetap saja tidak berhasil.

Lalu, timbullah ide untuk menjodohkan Rosid pada seorang gadis cantik berjilbab bernama Nabila (Arumi Bachsin), putri dari sahabat ayah Rosid. Namun, Nabila yang mengagumi puisi-puisi Rosid pada akhirnya tahu, bahwa hati Rosid telah tertambat pada Delia. Jalan ini pun tak kuasa memisahkan cinta Rosid dan Delia.

Pada akhirnya, di tengah konflik, kepiluan dan kepayahan hati yang didera kedua keluarga (baik keluarga Delia maupun Rosid), kedua orangtua mereka menyerah. Namun tak disangka, di saat itu pula... Rosid dan Delia tersadar, bahwa kisah cinta mereka hanya akan menyakiti keluarga masing-masing, dan memasuki gerbang pernikahan bukanlah hal yang bisa diputuskan begitu saja tanpa pertimbangan mendalam. Dari adegan film, saya mencerna sosok Delia yang akhirnya menyadari, bahwa apalah artinya sebuah kebahagiaan jika hal itu menyakiti orang-orang yang kita kasihi. Rosid pun sependapat, akhirnya mereka berdamai dengan hati masing-masing, dan tetap bersahabat baik.

Di akhir film, ada sebuah epilog, diceritakan bahwa Rosid, Delia, maupun Nabila pada akhirnya menemukan jodoh mereka masing-masing, tentu saja dengan jalan skenario yang berbeda-beda.

Ada sebuah quote yang saya kutip di akhir epilog, yang kurang lebih kalimatnya begini :

"Hidup, nasib, cinta... siapa yang tahu"

Sebuah ending yang manis. ^_^


Beberapa poin buat film ini :
  • Banyak pesan-pesan moral yang tersirat namun mungkin tidak bisa dicerna dengan  cukup baik. Balutan humor yang khas di antara dilematis cerita menjadikan penonton mengalami banyak perubahan emosi dalam waktu yang relatif singkat. Misalnya, saat ingin menangis karena terharu, sekonyong-konyong langsung ada adegan atau dialog lucu. Makanya di film ini saya hanya bisa berkaca-kaca tanpa sempat meneteskan air mata. :D
  • Terlihat bahwa puisi-puisi yang dihadirkan di dalam film ini didedikasikan untuk Almarhum WS Rendra. Salah satu puisi yang cukup menggetarkan adalah puisi yang berjudul "Kangen". I love this poem. Berikut petikannya : 
    Kau takkan mengerti bagaimana kesepianku
    Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
    Kau takkan mengerti segala lukaku
    Karena cinta telah sembunyikan pisaunya

      Membayangkan wajahmu adalah siksa
      Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan

        Engkau telah menjadi racun dalam darahku
        Apabila aku dalam rindu dan sepi
        Itulah berarti,
        Aku tungku tanpa api

        ~ WS Rendra ~

          • Kenekatan Pak Rosid yang terus-menerus terjebak memakai cara khurafat menurut saya tidak lazim, harusnya Pak Rosid bisa mengambil pelajaran dan tidak tertipu berkali-kali. :D 
          • Jokes yang dihadirkan di film ini cukup kreatif. Sama sekali tak terduga. (applause) Hanya saja, kadang-kadang terasa tidak masuk di akal. Misalnya, sewaktu si Abah mengungkapkan kesedihannya sekaligus menyerahkan sepenuhnya keputusan pada Rosid, di saat itu juga Abah langsung mengutarakan jokes yang berlawanan dengan atmosfer film yang sedang terjadi, "Cid, udah jadi puisi buat Abah?" Sontak saja, kata-kata Abah dengan intonasi yang khas itu membuat seisi bioskop tertawa. (Ceritanya, di film ini Rosid membuatkan sebuah puisi untuk ibunya. Namun si Abah cemburu dan ingin dibuatkan puisi juga oleh Rosid :D)

          Sebenarnya ada beberapa adegan yang menurut saya tidak perlu ditampilkan, karena cukup mengganggu atmosfer alur cerita. Hanya saja, saya menangkap hal itu sebagai pelengkap yang ditujukan agar penonton ikut berpikir. ^_^ Yeah, overall, film ini menurut saya sudah cukup berhasil dikemas dengan baik, mengingat tema yang diangkat sangatlah sensitif. ;)

          NB : Maaf penjabarannya kurang lengkap dan mendalam, maklum RAM saya sedang proses recovery. :D