Friday, September 04, 2009

Belajar Bersyukur

Pernahkah kita berpikir sejenak, bertafakur, merenungkan diri kita sendiri. Wajah kita, panca indera kita, langkah kaki kita, tubuh kita, semuanya sempurna... tanpa abnormalitas apapun. Tanpa kita sadari, semua fungsi organ tubuh kita bekerja tanpa henti, tanpa gangguan berarti. Hidung menghirup udara dengan bebasnya, jantung berdetak, proses metabolisme berjalan, saraf-saraf di otak bekerja sesuai fungsinya, dan lain sebagainya.


Semua indera kita pun berfungsi dengan baik. Mata kita bisa melihat dengan jelas... warna-warni benda sekitar kita, tulisan yang kita baca, indahnya pemandangan alam, manisnya senyum, semuanya. Telinga dapat mendengarkan semuanya dengan normal, suara deruman keras kendaraan, pembicaraan orang-orang, musik dan lagu yang indah, keriuhan, bahkan karena telinga kita bisa menikmati keheningan. Hidung ini, bisa mencium berbagai jenis aroma... wanginya mawar, harumnya melati, sedapnya sate, nikmatnya ayam bakar, dan masih banyak lagi. Mulut dan lidah kita, dengannya lah kita dapat merasakan berbagai macam rasa, berbicara dengan jelas, merasakan nikmatnya mengunyah makanan, berteriak, tertawa, bernyanyi, menangis.



Begitu juga dengan fungsi motorik kita, kita dapat berjalan santai, berlari, senam aerobik, yoga, menendang bola, serta semua aktivitas lainnya.


Namun, pernahkah kita berpikir, bagaimanakah jika semua itu diambil satu saja dari diri kita? Bagaimana jika kita tak dapat melihat? Sungguh gelap rasanya dunia ini. Lalu bagaimana pula jika kita tidak dapat mendengar? Bagaimana jika kita tak dapat mengucapkan satu patah kata pun? Bagaimana jika indera perasa kita tak berfungsi? Bagaimana jika kita sulit bernafas? Dan bagaimana pula jika tubuh kita lumpuh, tak dapat melakukan apapun kecuali hanya berbaring?


Seringkali kita merasa tidak beruntung, hidup serba susah; makan seadanya, pendidikan rendah, cari pekerjaan sulit, harga barang serba mahal, rumah ngontrak, dan aneka kondisi serba susah lainnya. Mungkin sering juga kita berandai-andai, "Enak ya... kalo jadi orang kaya. Enak ya... kalo udah punya rumah sendiri. Enak ya... kalo punya pekerjaan dengan gaji gede. Enak ya... kalo punya motor baru. Enak ya... bisa kuliah di tempat bergengsi" dan semacamnya.


Teman, ternyata... kita belum pandai bersyukur. Tubuh kita yang sehat, panca indera kita yang berfungsi dengan baik, dan sebagainya, semua itu sungguh merupakan nikmat yang tak tergantikan dan patut kita syukuri. Saya jadi teringat sebuah syair nasyid, "Apa yang ada jarang disyukuri, apa yang tiada sering dirisaukan, nikmat yang dikecap baru kan terasa, bila hilang..."


Teman, ternyata... kita masih harus banyak belajar mensyukuri hidup ini. Sungguh pun itu hanya nikmat berjalan kaki sejauh 2 km dari rumah ke kantor karena gak ada ongkos (syukur kaki masih berfungsi dengan baik), atau hanya dapat melihat pemandangan gundukan sampah di belakang rumah setiap harinya (syukur masih bisa melihat), atau pun dapat mencium bau air selokan yang busuk (setidaknya hidung masih berfungsi), atau pula mendengar dengkuran keras salah satu kerabat atau keluarga kita (syukur masih bisa mendengar dengan jelas).


Jika kita mau menghitung-hitung nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT, maka takkan pernah selesai kita menghitungnya. Maka, mari belajar bersyukur walaupun bukan karena nikmat. Karena kata seorang bijak, "Kenikmatan itu bukan terletak pada nikmatnya, tapi pada kesyukurannya." Semoga di bulan Ramadhan ini, kita semua dapat berlatih menjadi ahli syukur.


"Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzzibaan" (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)


NB : Terinspirasi dari pemikiran yang tiba-tiba saja menyeruak ke dalam hati.

Thursday, September 03, 2009

Apakah Anda Terhormat? (Bag 2)

Well, alhamdulillah mood menulis saya sudah kembali lagi ^_^ Setelah sekian lama postingan yang masih menggantung itu saya biarkan, akhirnya malam ini tiba-tiba sekelebat pikiran tentang tema itu datang tanpa diundang :D So, let's start...


***


Semua orang memang pada dasarnya memiliki kehormatan dan harga diri. Namun, begitu banyak yang tanpa disadari telah mempeloroti kehormatan dan harga dirinya sendiri. Sungguh begitu mudah harga diri dan kehormatannya menguap. Semudah sumpah serapah yang terucap pada bawahan di saat emosi memuncak, semudah air pancuran yang jatuh karena gravitasi bumi.

Banyak orang yang menganggap bahwa kehormatan dan harga diri itu ada pada gelar . Yang merasa begitu nyaman ketika namanya disebut beserta rentetan gelarnya, dan merasa sangat tersinggung plus emosi ketika tidak sengaja terdapat kesalahan pada penulisan gelarnya tersebut (berkata kepada bawahannya : "Kamu pikir mudah nyari gelar itu hah!!!") *gubraks*

Ada juga yang menganggapnya ada pada pangkat dan jabatan. Merasa hebat karena memiliki kekuasaan dan otoritas tinggi, lalu merasa berhak melakukan apapun sekehendak hatinya. Orang-orang yang merasa terhormat karena pangkat dan jabatan, biasanya mantap. Mantap duduk di kursi kebesarannya, di balik meja kerja yang super lux, makanan dan minuman diantar, bermacam-macam surat kabar terbaru sudah siap di atas meja, fasilitas telepon dan internet yang siap dipakai kapan saja, begitu mantap.... (mantap di ruangan ga kemana-mana maksudnya hehe) sampai-sampai tidak pernah tahu ternyata bawahannya sedang bergosip ria, tanpa ia tahu ada konflik-konflik internal yang terjadi. Dia hanya menganggap bahwa, kehormatannya ada pada anggukan dan rasa sungkan dari para bawahannya ketika ia mendelegasikan suatu pekerjaan.

Lainnya, menganggap kehormatan dan harga diri ada pada gaya hidup mewah. Ia merasa terhormat ketika berbelanja di sebuah butik paling terkenal dan paling mahal. Ia merasa terhormat ketika memakai pakaian dan aksesoris impor. Petantang petenteng, memperlihatkan gaya dan aksesoris tersebut, bahkan terkadang dibumbui dengan aksi bergaya seperti model. Untuk apa itu semua ? Supaya terhormat.... *pfuiiih, benarkah?*

Jika kehormatan dan harga diri manusia ada pada itu semua.... maka itu tak lebih dari seonggok topeng busuk berwajah malaikat. Maka bagaimanakah kehormatan dan harga diri seorang manusia biasa tanpa gelar ? tanpa jabatan dan pangkat ? tanpa gaya hidup mewah ?

Pada hakikatnya, kehormatan dan harga diri seseorang ditentukan oleh sikap dan perilakunya. Seseorang yang benar-benar terhormat, pastilah menghargai dan menghormati orang lain siapapun ia, berapa pun usianya. Kehormatan dan harga diri ada pada kerendahan hati, keteguhan prinsip, kemandirian, suri tauladan, serta kualitas hidup. Kehormatan dan harga diri seseorang pun bukan untuk dideklarasikan, kehormatan itu hanya akan tampak dan terasa oleh orang-orang di sekelilingnya.

Apakah Anda terhormat? Tentu bukan Anda yang patut menjawabnya. ^_^


NB : Terinspirasi dari suatu kejadian di kampus.

Saturday, August 22, 2009

Marhaban Ya Ramadhan

Alhamdulillah... segala puji hanya milik Allah SWT, kita telah dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat begitu banyak keistimewaan, bulan untuk menempa diri menjadi muslim yang lebih tangguh.


"Marhaban Ya Ramadhan.... bulan yang telah lama dinanti-nanti ummat Muslim sedunia. Ya Allah, semoga hamba dapat senantiasa menjaga niat, menata keikhlasan, dan memperbaiki kualitas ibadah di bulan suci ini. Semoga hamba dapat mengemban amanah usia yang telah Engkau berikan Ya Rabb... Jangan biarkan hamba menjadi orang yang merugi, yang hanya mendapatkan rasa haus dan dahaga. Jangan biarkan hamba menjadi pemilih yang bodoh, yang menyerahkan inderanya pada tontonan sampah, bacaan-bacaan sampah, lagu-lagu sampah, aktivitas-aktivitas sampah!"


Mari kita sambut Ramadhan dengan hati riang, mari kita nikmati puasa yang penuh hikmah, mari kita selami, kita tafakuri setiap ibadah kita... Semoga kita senantiasa ikhlas dalam beramal, semoga niat kita senantiasa lurus hanya mengharap ridhoNya. Semoga kita senantiasa bersemangat dalam menikmati jamuan Allah yang dahsyat di bulan suci Ramadhan ini, karena siapa tahu... Ramadhan kali ini adalah yang terakhir bagi kita.

NB : Mohon maaf lahir bathin atas segala khilaf dan kesalahan... *peace* ^_^

Monday, August 17, 2009

PROKLAMASI

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia,
dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia
Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain
diselenggarakan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno - Hatta



PROKLAMASI


Saya, Elsi Santi, dengan ini menyatakan Insya Allah harus sukses di usia 25 tahun. Hal-hal mengenai; menjadi pengusaha yang sukses, tamat kuliah tepat waktu, punya suami yang sholih, pergi haji di usia muda, dan lain-lain diselenggarakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pagar Alam, 17 Agustus 2009
Atas nama diri sendiri

Elsi Santi
Direktur Sukses Diri Sendiri

Ayo ayo ayo! Proklamirkan diri sendiri!!! ^_^

Saturday, August 15, 2009

Palembang - Lahat, Mari Bernostalgia!

Berawal dari niat bersilaturrahim dengan teman lama, bernostalgia dengan kenangan masa lalu yang indah, me-refresh kembali jiwa yang masih haus akan petualangan, lalu kesempatan itu datang... dan dari sinilah perjalanan itu bermula...

August 7th, 2009
Pagi-pagi berkemas, membawa pakaian secukupnya, pernak-pernik yang tak bisa ditinggalkan, buku bacaan yang lumayan tebal (huff, padahal ingin mengurangi beban bawaan, tapi karena buku ini sedang dibaca ya.... masuk tas!), charger (charger battery AA tak boleh sampai ketinggalan, bisa-bisa mati gaya! Kalau charger HP mah bisa pinjem, hehe). Lalu, sohib yang tak gendong kemana-mana, Si Canon Powershot SX100 IS, rasanya seperti tangan hilang sebelah jika dia tidak ikut.

Finally, aku membawa satu tas jinjit besar dan satu tas sandang yang lumayan full, dan yang pasti cukup beraaaattt. But, karena suasana hati sedang riang dan bersemangat, semua itu terasa ringan saja...



Pukul delapan lewat beberapa menit, bis melaju... meninggalkan Kota Pagar Alam tercinta. Enam jam kurang lebih, melewati setidaknya tiga kota; Lahat, Muara Enim, dan Prabumulih. Perjalanan menuju Lahat cukup mengasyikkan, walau sudah sering wara-wiri melewatinya, tetap saja pemandangan di kiri-kanan jalan begitu indah memukau; hamparan sawah hijau yang meneduhkan mata, bukit-bukit kecil berbaris dan berlapis-lapis, Sungai Lematang dan air terjunnya yang dingin menyejukkan, hutan dan kebun yang masih terjaga, lereng bukit yang curam dan dalam tapi memukau, udara yang bersih sejuk penuh oksigen. Oh, what a wonderful world...

Hanya butuh dua jam untuk sampai di Lahat, dan hanya dua jam pula aku bisa menikmati alam nan sejuk indah itu. Udara panas dan kotor mulai merasuk ke paru-paru, keringat mulai bercucuran, dahi mulai menghitam, gerah mendera... Tapi, seperti biasa, aku bisa menikmati ini semua. Hidup memang harus disyukuri bagaimana pun kondisinya, right? ;)

Memasuki Muara Enim, kondisi tidaklah berbeda, udara malah kian panas seiring teriknya matahari. Bau-bau tak sedap mulai merasuk. Sebagian penumpang tidak merasakan ini, karena mereka sedang tertidur pulas... Dan aku hanya bisa menikmati perjalanan ini dengan segala warna-warninya.

Hari beranjak siang, tubuh mulai nyaman dengan kondisi yang ada (cuaca panas, udara kotor dan berbau). Dan akhirnya tiba juga di terminal Karya Jaya Palembang. Naik metromini dua kali, plus
mbecak, akhirnya sampai juga di rumah teman sekitar pukul 14.30 WIB, alhamdulillah...

August 8th, 2009
Berbekal petunjuk jalan seadanya, pukul 06.30 WIB aku ikut meramaikan hiruk-pikuk Kota Palembang. Naik bis KM 12 menuju KM 9, tepatnya Asrama Haji, tempat Program Ilmu Cemerlang HPA (Herbal Penawar Al Wahida). Training ini sebenarnya sudah sering dilaksanakan, tapi baru kali ini aku ikut serta, karena yang jadi pembicara adalah CEO HPA yang datang dari Malaysia, Tn. H. Ismail bin H. Ahmad.

Sampai di sana langsung registrasi, and.... dapat tiga buku gratis! ;) Pesertanya lumayan banyak, sekitar 500-an.... Subhanallah. Bahkan ada nenek-nenek yang ikut! Duh, aku jangan sampai kalah semangat!!!

Dan inilah hasil jepretan Si Canon :

Lumayan... dapat kursi di tengah-tengah ruangan

With Didit, my neighbor


Waktu rehat dimanfaatkan juga untuk foto-foto ^_^


August 9th, 2009
Hari kedua pelatihan, banyak info-info terbaru yang disampaikan. Mengenai produk-produk makanan yang tidak halal dikonsumsi karena mengandung gelatin babi, seperti keju, cokelat, dan
ice cream. Duh, gak nyangka banget!!! Untuk saja aku tidak suka makan makanan jenis itu. Ada-ada saja di zaman sekarang ini, kita kudu hati-hati dan selektif dalam mengkonsumsi sesuatu, right? ;)

Saat menjelang siang, aku terserang kantuk hebat!!! Akhirnya saat waktu rehat tiba, aku mengajak temanku (Didit) untuk jalan-jalan sekaligus
shopping, hehe.

Sempat-sempatnya bergaya di tepi kolam Masjid Agung Palembang ^_^


Habis dari Masjid Agung, we're shopping to Pasar 16 Ilir Palembang. Di sini semua diobral!!! Semua pedagang berteriak-teriak, berebut menjajakan dagangannya. Tujuanku sih cuma satu, mencari oleh-oleh buat bokap, nyokap, and adik tersayang. Tapi sayangnya, Si Canon tidak bisa beraksi di sini, terlalu berisiko mengingat Pasar 16 begitu terkenal dengan garongnya yang
keren-keren, hehe.

Dari pasar, balik lagi ke Aula Asrama Haji, menyelesaikan pelatihan. Pulang... dan kesorean. Aku masih di bis saat adzan Maghrib berkumandang, huff! Tapi hiruk-pikuk Kota Palembang seolah tak peduli akan waktu. Ada sebuah fenomena menarik yang ku tangkap di sini, tapi sayangnya tak bisa ku ceritakan sekarang, anytime OK! ;)

And then, mampir ke kost sepupu yang tak jauh dari rumah teman tempat ku menginap. Melihat-lihat kondisi mereka sekaligus bersilaturrahim. Subhanallah, mereka cukup nyaman hanya dengan ruang petak 4 x 3 meter dengan segala pernak-pernik dan barang yang ada di dalamnya. Yah, yang penting memang bukanlah seberapa luas ruang yang kita tempati, tapi seberapa luas ruang hati kita untuk menerima segala kondisi yang ada dengan ikhlas...
Ya Allah, aku masih harus lebih banyak belajar tentang makna ikhlas.

Satu jam kemudian, barulah aku kembali ke rumah teman, berjarak kira-kira 250 meter dari kost sepupuku. Melewati pedagang koran dan majalan, aku mampir sejenak melihat-lihat dan akhirnya membeli satu eksemplar tabloid. Rasanya santai saja langkahku malam itu, menikmati udara malam Palembang yang mulai terasa nyaman di hidungku, dan semilir angin sejuk yang mengobati gerah sekujur tubuhku.

Malamnya setelah dinner, bercerita dan sharing sejenak. Lalu temanku yang pandai bergitar itu, mulai memainkan melodinya ^_^ Cihuuuy!!! Akhirnya kami begadang rekaman ala amatiran, haha. But, tentu saja rekamannya tidak bisa di-share... hanya untuk kalangan terbatas ^_^

Alhamdulillah, segala puji bagiMu Ya Rabb... atas segala nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami...
Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzzibaan.

August 10th, 2009
Morning
Bersiap-siap untuk pulang, dan mampir ke Lahat, naik kereta pukul 09.00 WIB. Membawa tas dan kantong plastik besar di tangan kanan dan kiri, temanku menyandang ransel super berat di bahunya. Kami berkejaran dengan waktu, berlari-lari kecil sambil menahan beratnya beban. Akhirnya kami tiba di stasiun tepat seperempat jam sebelum keberangkatan.

You know... it's my first time getting on the train. Sebenarnya aku berencana untuk pulang naik bis, tapi karena ada seorang teman yang pulangnya ke Lahat dan karena tiket kereta juga lebih murah, akhirnya aku ikut naik kereta bersamanya.

Selama ini aku memang belum pernah naik kereta api. Jadi, seperti biasa... untuk hal yang baru, semua jadi pusat perhatianku. Memperhatikan hiruk pikuk penumpang yang hilir mudik, pedagang yang lalu lalang, pengamen yang ngotot dan yang santun, pembicaraan-pembicaraan yang menggelikan, sampai bau busuk WC kereta itu, ougghh! But, semuanya terasa nikmat saja. Aku pikir, inilah kehidupan rakyat yang jarang diekspos. Di sini, di kereta ini, aku melihat begitu banyak semangat dari orang-orang yang mencari nafkah di dalamnya. Demi mencari uang, rela menjajakan hanya beberapa bungkus nasi, beberapa botol air mineral, berpanas-panasan, berdesak-desakan. Aku mulai mengira-ngira, berapa ya.... penghasilan mereka per hari. Mereka harus membayarnya dengan kondisi yang seperti ini. Tapi, subhanallah... mereka begitu menikmatinya. Ya... aku menangkap satu pelajaran lagi dari perjalanan ini, bahwa apapun yang kita kerjakan, berapa pun yang kita hasilkan, jika kita dapat menikmatinya, maka kita bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidupa ini. Bahwa kebahagiaan itu bukan terletak pada nikmatnya, tapi pada rasa syukur atas nikmat apapun itu... *
Ah, aku masih harus lebih banyak belajar dari ini semua*

Potret seorang ibu tua yang sedang menyenandungkan lagu kehidupan, mengamen dari kereta ke kereta. It's awesome! Subhanallah...

15.50 WIB
Alhamdulillah, akhirnya tiba di Lahat. Bertemu dengan seorang sahabat lama sewaktu kami bersekolah di SPK Pemda Lahat, namanya Eti. Sesuai dengan yang telah direncanakan semula, kami pergi ke Asrama Puntang, yang pernah menjadi
istana kami selama tiga tahun. Masih teringat jelas, enam tahun yang lalu saat kami meninggalkan ini semua. Dan akhirnya kini, kami bernostalgia kembali, mengingat kenangan-kenangan manis semasa hidup di Asrama; main basket, nyelaber alias mengepel lantai yang lumayan luas, ngantri ompreng di ruang makan, nampung air (karena cukup sulit mendapatkan air di sini, maka untuk mandi cukup lah satu ember kecil saja), latihan nasyid di Musholla, berebut makanan di Kantin, begitu indah mengenangnya...

Tak banyak yang berubah, hanya cat dan bertambahnya dua buah bangunan asrama. Setelah mengambil beberapa foto dan berbincang sejenak dengan pemilik Kantin, kami pulang.

Papan nama masih yang dulu, yang dulunya "SPK & AKPER" kini hanya dihapus "SPK &"-nya saja. Menyedihkan.... aku tak habis pikir, kenapa tidak membuat yang baru saja ya ? *confuse mode on*

Di sinilah tempat tinggalku dulu...


Jadi inget banget zaman *nampung air*. Kalo yang paling banyak airnya dijuluki "Antu Banyu" alias "Hantu Air" hehehe


Hmmm... hanya cat dinding dan penghuninya yang berubah

Bangunan kantor dan kelas juga tidak banyak berubah


Bangunan ini memberi banyak kenangan manis, tempat di mana dulu aku merekam semua yang difatwakan oleh guru-guru


Musholla ini punya kenangan tersendiri di hatiku. Jadi inget tim nasyid Miftahul Jannah yang sering latihan di sini ^_^


17.30 WIB
Tiba di rumah sahabatku yang satunya, Maliana. Dia belum lama menikah. Sudah lama juga tidak bersilaturrahim ke sini. Keluarganya sudah ku anggap sebagai keluarga sendiri. Banyak yang berubah, terutama tampilan rumah dan aksesoris rumah yang telah dipoles manis.

Momen seperti ini jangan lupa diabadikan ^_^
(Maliana, nomor 1 dari kanan. Eti, nomor 2 dari kanan. Di sebelahku, Ibunya Maliana, biasa dipanggil "Umak")


20.00 WIB Kurang Lebih
Alhamdulillah, finally tiba di rumah Eti, tepatnya di Desa Banjar Sari. Karena letih, kami bercerita sejenak lalu beristirahat jauh lebih awal dari biasanya.

August 11th, 2009
Pagi yang segar dan cerah, tubuh jauh lebih fit setelah beristirahat. Setelah sarapan, beres-beres rumah, melihat-lihat foto kenangan, lalu kami mengambil air di sumur. Oh, it's so wonderful! Ada kenikmatan tersendiri ketika menimba air dari sumur itu, dan airnya jernih... subhanallah.

And then, kami masak... cihuyyy!!! Inilah yang ditunggu-tunggu, karena aku suka bereksperimen *
walau rasanya belum tentu enak* :D Akhirnya, terciptalah sayur bening bayam, sambal caluk, and... ikan mujahir pangggang yang muaknyussss tenannnn...

Jreng...!!!


Hmmm.....

Di tengah asyik-asyiknya memanggang ikan, aku dicakar oleh kucing ini, dia terlalu laper and gak dikasih-kasih akhirnya dia nyakar... *Aku sih kurang sensitif!* (doh)


Setelah makan-makan, ba'da Zuhur kami ke sungai Lematang Lahat di Desa Banjar Sari, berjarak kurang lebih 200 meter dari rumah Eti. Subhanallah... indahnya pemandangan di sana, ditambah jembatan gantung yang berayun-ayun ketika kita berjalan di atasnya, seruuu!!!

Ck ck ck...


Sungai Lematang yang sudah terpolusi *berwarna coklat* :(


Deuh! Gayanya dua sohibku ini... ^_^

Haha...


Anak-anak yang sedang bermain juga kami ajak berfoto ria ;)


Keasyikan jadi lupa waktu, ternyata hari sudah sore... Buru-buru kami pulang, and berkemas-kemas. Lalu kedua sohibku ini mengantar aku menunggu bis tujuan Pagar Alam. Kebetulan rumah Eti terletak di jalan Lintas sumatera, jadi aku menunggu bis dari Palembang yang lewat...

Nyaris tidak dapat kursi, alhamdulillah finally pukul 16.15 WIB aku berangkat pulang menuju kota tercinta, Pagar Alam.

Tak terasa, perjalanan ini berakhir sudah, begitu banyak pengalaman dan pelajaran yang tak dapat ku ceritakan semuanya di sini. In the end of this post, I just wanna say, subhanallah walhamdulillah wallahuakbar!!!

Tuesday, July 21, 2009

Akan Tiba Saatnya

Akan tiba saatnya,
Saat bagi diriku untuk memutuskan, untuk memilih
Akan tiba saatnya,
Saat bagi ku untuk memasuki dunia baru,
Dunia yang benar-benar berbeda
Dunia yang memberi warna-warni indah
Hingga membuat seakan diri ini orang paling bahagia sedunia
Dunia ini pula yang akan memberi teka-teki tersulit
Untuk masuk ke kedalaman hati seseorang
Melihat apa yang ada di dalamnya
Menguraikan teka-teki itu
Memahaminya, menerimanya, lalu mencintainya

Akan tiba pula saatnya
Saat bagi diriku …
Dimana saat itu aku hanya akan bisa mengenang…
Tanpa bisa kembali,
Tanpa bisa kembali menertawakan kelucuannya
Menikmati kesenangannya atau mengubah kesedihannya

Akan tiba saatnya,
Saat bagi diriku, dimana saat itu aku hanya akan dapat menangisi…
Kabut hitam dalam hati
Dosa kelam diri ini
Waktu yang takkan terulang lagi

Akan tiba saatnya,
Saat bagi diriku, dimana saat itu
Aku hanya akan bisa terdiam,
Diam, diam,
Dan hanya diam

NB : Mendadak mosting di tengah pekerjaan yang menumpuk :D

Saturday, June 13, 2009

Apakah Anda Terhormat ?

Tahukah…. Tidak semua orang memiliki prinsip hidup yang sama, pola pikir yang sama, idealisme yang sama, karakter yang sama, pendapat yang sama. We are all different each other. Ada orang yang merasa dirinya begitu berharga, begitu terhormat, sehingga ia berjuang mati-matian agar setiap orang menghormatinya sebagaimana yang ia inginkan, tanpa ia tahu…. tanpa ia belajar….. bagaimana caranya agar menjadi terhormat dengan cara-cara yang benar-benar terhormat. Ada pula, orang yang tidak merasa dirinya terhormat, biasa saja. Tapi, tanpa ia tahu, orang-orang di sekelilingnya begitu menghormatinya, dengan kesederhanaannya, keramahannya, kerendahan hatinya. Ia menghargai orang lain bukan karena usia, pangkat – jabatan, status, strata ekonomi, gelar pendidikan, dan sebagainya. Ia menghargai orang lain sebagaimana ia ingin dihargai. Ia memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Ia menghormati orang lain sebagaimana ia ingin dihormati.



Hari ini, kita lihat…. betapa banyak di sekeliling kita, orang yang begitu ingin dihormati, begitu ingin dihargai, tanpa mau menghormati dan menghargai orang lain. Ia hanya berpikir bagaimana orang memperlakukan ia dengan baik, bukan bagaimana ia memperlakukan orang lain dengan baik supaya ia diperlakukan dengan baik pula.


to be continued...

Tuesday, February 17, 2009

Dark Side


Setiap insan dititipi nyawa oleh Allah di dunia ini, pasti mempunyai 2 kecenderungan ; baik dan buruk. Setiap saat “dua ekor singa” di dalam diri kita bertarung untuk memenangkan sebuah pilihan, baik atau buruk, jalan kebenaran atau jalan kebatilan. Dalam menentukan pilihan-pilihan itu, terkadang kita tidak menyadari adanya sisi gelap telah mengalir bersama aliran darah kita. Sisi gelap inilah yang mesti kita kenali, karena ada banyak manusia yang tidak merasakan keberadaannya, yang menganggap tidak ada sedikit pun sisi gelap di dalam dirinya.


Sering… kita temukan sisi gelap dalam diri. Begitu nyata, begitu hendak berkuasa. Ia senantiasa membujuk, merayu untuk ikut dalam rencana piciknya. Pertarungan terjadi, ”sisi gelap” melawan ”sisi terang”. Hati bergolak, berkecamuk. Entah siapa yang akan jadi pemenangnya. Saat ”sisi gelap” mulai melihat peluang untuk menang, nurani memberontak hebat... Namun, tatkala sang empunya hati mengabaikan seruan keras hati nurani, ”sisi gelap” memenangan pertarungan, reduplah cahaya nurani. Sesaat kemudian, pertarungan hebat terjadi lagi, ”sisi gelap” yang pernah menjadi pemenang menjadi lebih kuat untuk mempengaruhi hati. Sedangkan ”sisi terang” kini mulai redup, sang empunya hati seperti enggan untuk menguatkan sinarnya kembali.

Thursday, February 05, 2009

My Sixteen Things


Alhamdulillah, dapat PR lagi, kali ini dari neng Mutiah, sebuah sarana posting yg harus disyukuri, he he. Sebenarnya berat juga nih PR, karena menantang diri ini untuk menunjukkan siapa dirinya. Alright, I’ll start… the homework is :

Rules:
1. Once you’ve been tagged, you are supposed to write a note with 16 random things,
facts, habits, or goals about you.
2. At the end, choose 16 people to be tagged.
3. You have to tag the person who tagged you.
4. If I tagged you, it’s because I want to know more about you.

Seorang cici silent adalah…

1. Pendiam & Pendengar
Dari dulu saya memang pendiam. Saya lebih suka mendengarkan orang-orang yang berbicara, lalu menyerap dan menyaring makna di balik kata-kata. Mungkin bagi orang yang suka berbicara, diam dan mendengarkan adalah pekerjaan yang sulit. Tapi bagi saya, itu adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Ironi dari karakter saya ini sangat terasa ketika saya ingin mengungkapkan sesuatu, sungguh sulit rasanya lisan ini menguraikan kata-kata. Tapi, ketika kata itu terurai dalam tulisan, maka ia akan mengalir deras. So, teman yang menyenangkan buat saya adalah yang suka bercerita dan berbagi. Karena saya akan selalu siap menyimak dan mendengarkan.

2. Pengamat & Penyelidik
Mengamati dan menyelidiki sesuatu adalah pekerjaan mengasyikkan. Panca indera mengumpulkan data-data, lalu otak mengolahnya. Ketika saya mengamati sesuatu, maka saya akan keluar dari diri saya menuju objek yang sedang saya amati. Dan biasanya saya akan memperoleh sebuah pemikiran dari sudut pandang yang baru. Menyelidiki sesuatu juga tak kalah asyiknya. Mencari informasi secara diam-diam, lalu menemukan fakta-fakta yang tak terduga, it’s amazing.

3. Suka Menyimpan Rahasia
Entah kenapa, saya memang selalu suka merahasiakan sesuatu. Jika ada suatu rahasia, maka akan saya simpan sedalam-dalamnya di peti emas hati saya. So, kalo curhat sama saya jangan khawatir…. he he.

4. Hidup dalam Diri Sendiri
Saya memang suka menyendiri, berbicara dengan diri sendiri, berpikir, merenung, menggumam, bernyanyi, menangis. Saya merasa lebih hidup, lebih terjaga, saat sendiri.

5. Mencintai Seni
Arts, I love it! Khususnya seni musik dan sastra. Sejak kecil, saya suka bernyanyi. Di usia 3 tahun, saya sudah bisa menyanyikan lebih dari 20 lagu, saya sendiri tidak percaya, tapi itulah fakta yang saya sadari ketika saya mendengarkan sendiri rekaman yang masih disimpan rapi oleh Ayah saya. Saya benar-benar menemukan kecintaan terhadap seni musik saat sekolah menengah. Saya bersama teman-teman membentuk tim nasyid, lalu lama-kelamaan lantunan musik beserta liriknya mulai meresonansi ke dalam jiwa, begitu halus dan indah. Sampai saat ini, saya masih sangat mengapresiasi seni musik, terutama musik yang menyentuh jiwa. Bagi saya, satu hari tanpa mendengarkan lagu favorit adalah sebuah siksaan tersendiri.
Dan sastra, ini yang membuat hati saya tergetar begitu hebat. Tanpa sastra, kata-kata hanya sebuah kalimat tanpa rasa. Tapi dengan sastra, kata-kata dapat melahirkan beribu makna, yang menggetarkan sampai ke relung jiwa. Salah satu jenis sastra yang paling saya sukai adalah puisi.


6. Rumit tapi Sederhana
Cara berpikir saya memang agak kompleks, tapi bukan bermaksud untuk mempersulit atau semacamnya. Tujuan saya sebenarnya adalah bagaimana sebuah tujuan agar dapat dicapai dengan cara, usaha, dan hasil yang maksimal. Tapi, orang-orang di sekitar saya memandangnya sebagai sebuah cara yang rumit. Sebenarnya, bagi orang yang dapat memahami saya, ia akan memandang hal itu sebagai sesuatu yang sederhana.


7. Memuaskan & Menyenangkan Orang Lain adalah Kebahagiaan Tersendiri
Sungguh bahagia rasanya, jika melihat orang lain merasa senang dan puas. Saya juga senang memberikan hal-hal yang tidak disangka, yang di luar dugaan. Jika saya sudah berniat ingin memuaskan dan menyenangkan seseorang, maka saya akan berusaha mewujudkan hal itu walaupun mengorbankan kepentingan diri sendiri.

8. Perfeksionis
Nah, sifat ini yang dulu sering saya pertanyakan pada diri saya, jauh sebelum saya mengenal tipe-tipe kepribadian. Saya bingung dengan karakter saya yang selalu menuntut kesempurnaan. Saya sering stress, apalagi berhubungan atau berkoordinasi dengan teman yang cara kerjanya tidak sesuai dengan standar saya. Tapi, Alhamdulillah, setelah saya berusaha memahami karakter saya, maka saya memulai pemakluman dan sedikit mengendurkan standar-standar saya.

9. Green
Oh, I like green so much! Hijau itu meneduhkan mata, hati, dan jiwa. Hijau adalah kehidupan. Hijau itu damai dan menentramkan. Saya suka hijau, bukan hanya warnanya, tapi makna-makna yang terkandung di baliknya.

10. Impresif
Teman-teman saya sering berkata, “Sulit untuk melihat, apakah Cici hari ini sedang senang atau sedang bersedih.” Ya, itulah saya. Saya tidak bisa mengekspresikan sesuatu secara jelas dan nyata. Bahkan ketika terkejut pun, wajah dan sikap saya akan biasa-biasa saja. Tak terlihat dari luar. Padahal, hati sedang berkecamuk begitu dahsyatnya.

11. Melankolis
Ya, inilah saya.

12. Diam-diam
Saya senang diam-diam. Melakukan sesuatu secara diam-diam, merencanakan diam-diam, memberi secara diam-diam, menyimpan rasa diam-diam, mengamati diam-diam, semuanya secara diam-diam.

13. Sensitif
Perasaan saya sangat mudah disentuh, mudah tersinggung, mudah terharu.

14. Seringkali Sulit Dipahami
Saya termasuk orang yang tidak mudah dalam menjalin sebuah hubungan, misalnya persahabatan, karena saya seringkali sulit untuk dipahami. Jadi, sahabat yang ingin dekat pada saya harus masuk ke dalam diri saya, melihat ke kedalaman hati saya, dan ia harus mampu melihat apa yang tengah bergejolak di sana. Saya memang hanya punya sedikit sahabat, tapi semua sahabat saya setia, hingga kini.

15. Kurang PD Tapi Tak Terlihat di Permukaan
Hiks hiks hiks! Krisis kepercayaan diri. Entah kenapa, saya orangnya rada pesimis, suka melihat sisi buruk dahulu ketimbang sisi baiknya, tapi itu semata-mata karena mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi. Saya sering tidak percaya diri saat tampil di publik, tapi teman-teman saya bilang, “Nggak kok, kamu pede-pede aja tuh.” Mungkin… ini berkah dari watak impresif saya, jadi ketidakpercayaan diri saya tak terlihat, he he he.

16. Merasa Sulit Menghargai Diri Sendiri
Ini nih temannya si “perfeksionis”. Saya selalu merasa belum puas dengan apa yang telah saya lakukan. Saya selalu tahu dan selalu menyadari kekurangan-kekurangan dan kecerobohan-kecerobohan yang telah saya lakukan. Walaupun hal itu sangat dihargai orang lain – misalnya mendapat penghargaan tertentu, atau menjadi prestasi tertentu di mata orang banyak – tapi saya tetap sulit untuk menerima hal itu sebagai sebuah prestasi. Paling-paling saya bergumam dalam hati, “Wajar saja, kalian tidak tahu kekurangannya di mana.” Tapi, saya sering teringat kata-kata bijak, “Siapa lagi yang dapat menghargai diri kita, selain diri kita sendiri ?” Hmm, kata-kata itu membuat saya sadar, dan membuat saya mulai berusaha untuk menghargai diri sendiri, dalam hal apapun itu.

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Selanjutnya “My Sixteen Things” ini saya teruskan pada sahabat-sahabatku yang beruntung :
1. Au'
2. Meitria Cahyani
3. Lilis
4. Bang Irwan
5. Aa_Dys
6. Evyta
7. Zahratul Hilwa
8. Babeh
9. Quinie
10.Sukak
11.Aisha
12.Dee
13.Dina
14.Fakhrurrozi
15.Misbah
16.Oase Qalbu



Monday, February 02, 2009

Pilih-pilih PKS




Pilih pilih pilih PKS
Bersih peduli profesional
Lahirkan pemimpin sejati
Berhati nurani

Ayo ayo ayo pilih PKS
Bersih peduli profesional
Tuk capai adil sejahtera
Bangsa Indonesia

Pada awalnya aku jadi bingung
Smakin banyak partai yang jadi linglung
Kerjaannya obral janji sana-sini
Hanya mencari sensasi

Tapi kini bingung ku telah hilang
Ku temukan sebuah titik terang
Masa depan Indonesia
Dalam Partai Keadilan Sejahtera

Menjadi… harapan yang baru
Tuk memimpin Indonesia……

***

Deuh, Subhanallah... nih lagu apik tenaaan, hasil kreativitas pejuang-pejuang di Jabar. Kalo ada yang mau donlot albumnya, buka disini