Saturday, September 22, 2007

7 Kegembiraan Pada Bulan Ramadhan

Di bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan berkah ini, tentunya banyak kegembiraan-kegembiraan yang kita rasakan. Maka dari itu, berikut ini akan saya ungkapkan 7 (tujuh) kegembiraan saya. Mengapa tujuh ? Karena saya yakin Allah dan RasulNya menyukai angka itu. :D

1. Pahala dari Allah yang berlipat ganda
2. AmpunanNya yang terbuka luas
3. Do’a yang mustajab
4. Syaithan terbelenggu
5. Suasana keislaman yang begitu kental di lingkungan sekitar
6. Semangat berlomba-lomba dalam mengejar pahala sangat terasa
7. Terhindar dari polusi asap rokok yang kerap kali mengganggu ;-)

Subhanallah..... walhamdulillah... semoga kita bisa memaksimalkan ibadah kita padaNya sebagai bentuk kesyukuran kita. Amiiiin.

Berikutnya, saya ingin memberikan PR ini (7 Kegembiraan pada Bulan Ramadhan) kepada para blogger yang sudah membaca postingan ini. Semoga berkenan. Terima kasih. :-)

Wednesday, September 12, 2007

Nyanyian Menjelang Ramadhan ; Dzikrul Maut

Beberapa hari ini, saya diingatkan kembali oleh Allah tentang kematian. Seorang pasien lama –yang pernah saya ceritakan di postingan yang berjudul "Saat Hatiku Begitu Pilu"– tepatnya malam Jum’at lalu telah berpulang ke rahmatullah. Masya Allah… saya jadi teringat terus saat ia masih saya rawat di rumah sakit tempat saya bekerja. Ia bertahun-tahun mengidap penyakit tumor yang sudah menjalar ke separuh wajahnya. Senyumnya yang tegar, keluarganya yang ramah, jiwanya yang tabah, masih sangat segar dalam ingatan. Ya Allah ya Rabb… masukkanlah ia ke dalam jannahmu. Jadikanlah kesabaran dan keikhlasannya sebagai ladang tabungan pahala untuk menghadapmu. Ampunilah dosanya, terimalah amalan ibadahnya Ya Allah. Amiin.

Ketika diri ini dihadapkan pada fenomena seperti ini, hati terasa sangat terenyuh. Membuat diri ini menerawang… Ya Allah, hamba tidak tahu kapan saat itu datang menjumpai hamba. Hamba tidak tahu, akan berapa lama lagi hamba tinggal di dunia ini ? Akan berapa kali lagi Ramadhan yang akan hamba temui? Ya Rabb, hamba tidak tahu, akankah akhir kehidupan hamba khusnul khotimah ? Ataukah sebaliknya ? Ya Allah, bantu hamba… untuk selalu mengingat kematian, karena dengan mengingatnya, diri ini menjadi sangat terjaga, bahwa dalam mengarungi hidup ini harus ada bekal yang cukup untuk menghadapMu. Karena dengan mengingatnya, diri ini menjadi tersadar, bahwa setiap waktu Engkau bisa menjemputku, bila Engkau menghendaki.

Semoga… kita semua bisa menjadi orang paling cerdas seperti sabda Rasulullah SAW, yaitu orang yang senantiasa mengingat kematian.

***

Kematian

Berbekallah untuk hari yang sudah pasti
Sungguh… kematian adalah muara manusia
Relakah dirimu menyertai segolongan orang
Mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa

Rasulullah bersabda, perbanyaklah mengingat
Akan termusnah segala kenikmatan dunia
Itulah kematian yang 'kan pasti datang
Kita tak tahu kapan waktunya 'kan menjelang

Menangislah hey sahabat, karena takut 'kan Allah
Niscaya engkau 'kan berada dalam naunganNya
Di hari kiamat di saat tiada naungan untuk manusia
Selain naunganNya
Dalam ampunannya, dalam maghfirahNya
Dosa pun berguguran bak daun dari pepohonan
Itulah kematian yang 'kan pasti datang
Kita tak tahu kapan waktunya 'kan menjelang

By : Suara Persaudaraan

Ramadhan... Kurengkuh Dirimu

Tidak terasa, akhirnya Ramadhan sudah di depan mata. Dalam hitungan waktu beberapa jam mendatang, pintu rahmat, ampunan, berkah, pahala, akan dibuka seluas-luasnya oleh Allah SWT. Betapa riang gembiranya hati ini, tatkala membayangkan deposito pahala yang akan bertambah dan berlipat ganda jumlahnya. Diri ini juga tak bisa menggambarkan betapa senangnya, ketika membayangkan ampunanNya begitu luas, ketika do’a begitu mustajab, dan Allah menjamu kita dengan spesialnya. Diri ini juga tak kuasa menahan getar jiwa, saat merindukan pertemuan denganNya di sepertiga malam terakhir di hari-hari bulan Ramadhan.

Subhanallah... betapa indah Ramadhan... bulan yang senantiasa dinanti-nanti dan dirindukan oleh setiap muslim di jagat raya ini. Betapa diri ini tak mau, melewatkan masa-masa itu dengan hal yang sia-sia dan hampa. Betapa diri ini ingin... memperbaiki diri, memompa kualitas diri, dan melejitkan potensi di bulan yang penuh kemuliaan ini.

Namun... ada sebagian orang yang menghadapi Ramadhan dengan persepsi yang berbeda. Bagi sebagian orang, Ramadhan hanyalah sebuah rutinitas tahunan. Bagi mereka, ramadhan hanya berwujud puasa, tarawih, ngabuburit, zakat fitrah, dan diakhiri dengan Sholat Id. Bahkan ketika menjelang lebaran, rumahnya dipenuhi dengan berbagai belanjaan yang tentunya sarat dengan nafsu dunia. Baju baru, aksesoris rumah, dan aneka makanan yang berlebihan. Ibadah yang dilakukan tidak dimaknai dengan sepenuh hati sehingga tidak menambah kecintaan dan ketakwaan padaNya. Sungguh ironis memang. Ketika sebagian orang bersungguh-sungguh meraih kemuliaan di bulan Ramadhan, sebagian yang lain justru menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Padahal, Allah sangat menanti hamba-hambaNya di bulan suci ini, dan Allah telah menyiapkan berbagai hal spesial bagi kita yang mendekat padaNya.

Sungguh rugi diri ini, jika tidak maksimal dalam memanfaatkan momentum Ramadhan ini, bulan yang penuh kemuliaan. Tidak setiap orang diberi anugerah oleh Allah untuk bertemu dengan Ramadhan. Maka, segala puji bagi Allah yang telah memilih kita untuk menemuinya. Mari kita manfaatkan momentum Ramadhan sebaik mungkin sebagai bentuk kesyukuran kita. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah dan cahayaNya. Amin.
NB : Menjelang Ramadhan ini, saya mohon maaf atas segala kesalahan dan khilaf. Mohon dimaafkan ya... :)

Monday, September 10, 2007

Sakit Berbuah Pahala

Sehari yang lalu, saya mendapatkan sarana pahala baru dari Allah. Sarana yang insya Allah bisa menggugurkan dosa-dosa dan menambah pahala jika hati ikhlas menerimanya.

Tepatnya kemarin pagi ± pukul 05.15, ketika saya mengerjakan tugas kesekretariatan untuk acara Deklarasi KGC (Komunitas Generasi Cendekia), jari saya teriris pisau cutter saat memotong kertas. Masya Allah, saya tidak menyangka ketika saya lihat luka di jari tengah tangan kiri saya itu cukup lebar dan dalam. Rasanya perih sekali, darahnya langsung mengucur deras. Saya langsung relfleks mencari kain untuk membalut luka saya itu. Setelah darahnya berhenti, saya kembali mengerjakan pekerjaan saya yang sempat terhenti karena memang harus selesai pagi itu juga. Walau jari gemetaran, saya masih mengetik semampu saya. Akhirnya, sekitar pukul 06.15 pekerjaan saya selesai juga.

Setelah itu, saya memutuskan untuk mencari pertolongan untuk menangani luka saya. Saya mulai menimbang-nimbang, ‘Lukanya kira-kira perlu ditangani medis nggak ya ? Atau cukup dikasih plester ?’. Akhirnya setelah dipikir-pikir, saya langsung pergi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, saya langsung menemui rekan kerja saya, dan minta tolong. Tapi, ternyata setelah lukanya dibuka, darahnya masih mengalir. So, tidak bisa hanya diperban begitu saja karena walau begitu darahnya masih akan terus mengalir. Akhirnya, saya ke emergency. Dan... seperti yang saya duga, lukanya mesti dijahit. Hiks! Ya Allah, ‘semoga rasa sakit ini menjadi ladang pahala’, batin saya. Teman saya pun langsung membius lukanya. Dia bilang, "sakit ya ?", mungkin dia khawatir. Lantas saya jawab, "Ga pa pa, silakan... lebih cepat lebih baik". Setelah kurang lebih setengah jam, alhamdulillah selesai, dan hasilnya tiga jahitan menempel di ujung jari saya.

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya akan separah itu, saya pikir hanya perlu diplester saja. J Hmm... kalo sepintas saya pikir, 'Wah, gimana saya ngetik ya ... ? Salah satu jari saya harus pensiun untuk sementara waktu...’ Saya mulai merenung, Ya Allah… mungkin luka ini bisa menjadi sarana penggugur dosa-dosa hamba, mungkin juga bisa menjadi ladang pahala jika hamba menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Akhirnya pikiran saya terbuka, saya ikhlas dan senang menerima kejadian ini. Banyak hikmah yang bisa saya peroleh dari hal ini, belajar bersyukur, belajar untuk tetap bertahan walau kondisi sedang lemah, belajar memaksimalkan potensi lain ketika salah satu potensi tidak bisa difungsikan.

Semoga... kita semua bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari setiap kejadian yang ditunjukkan olehNya. Hingga tak ada satu pun yang terlewatkan tanpa kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Menjelang Ramadhan, semoga kita bisa lebih siap menghadapinya. Ilmu, kesehatan fisik, mental, dan spiritual kita, menjadi sangat penting dalam menentukan kesuksesan kita pada bulan Ramadhan nanti. Selamat menyambut bulan Ramadhan, bulan yang penuh kemuliaan.

Saturday, September 01, 2007

Ramadhan... Ku Rindu Padamu


Tak terasa, Ramadhan akan segera menjumpai kita. Bulan penuh keberkahan, keutamaan, ampunan, pahala, dan anugerah yang tak terkira dari Allah SWT. Sungguh terasa indah, jika diri ini bisa merengkuh Ramadhan… Betapa tidak ? Ramadhan adalah bulan di mana Allah membuka pintu taubat seluas-luasnya, dan amalan pahala yang berlipat ganda.

Sungguh, ku rindu padamu Ramadhan… Semoga diri ini dapat menjumpaimu, menggapai keutamaan-keutamaan yang ada padamu. Ya Allah… sampaikanlah umur hamba pada bulan Ramadhan, bantu hamba mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya.

Ramadhan segera tiba. Mari kita sambut kedatangannya dengan hati yang bersih, ikhlas, dan lurus padaNya. Dan semoga… kita semua dapat meraih segala kebaikan yang ada pada bulan Ramadhan. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Tuesday, August 28, 2007

Anda Maag ? Mungkin Ini Akan Membantu

Percaya atau tidak, penyakit orang kebanyakan saat ini adalah gastritis atau yang sering dikenal dengan penyakit maag. Para pelajar, mahasiswa, eksekutif muda, bahkan yang tua semuanya terjangkit penyakit ini. Pertanyaannya adalah mengapa semua orang bisa dengan mudahnya terjangkit penyakit ini ? Jawabannya simple saja, karena kebiasaan jajan (makan makanan fast food), sering telat makan, dan stress. Dari ketiga penyebab tersebut, stress adalah faktor yang paling cepat memicu penyakit maag.

Di dalam otak kita, terdapat berjuta-juta sel saraf yang saling bersinergi dengan organ-organ tubuh kita. Salah satunya adalah sel saraf otak yang langsung berhubungan dengan organ pencernaan (lambung). Mungkin para pembaca sering mengalami, ketika kita nervous atau takut ketika mau naik ke panggung atau podium, maka perut kita mendadak mules. Atau ketika kita mendengar kabar buruk atau sesuatu yang mengejutkan dan tidak mengenakkan hati, tiba-tiba saja muncul rasa nyeri di perut / lambung kita. Dalam kasus lain, stress juga bisa menyebabkan anoreksia atau tidak adanya nafsu makan. Biasanya stress atau depresi ini berlangsung lama sehingga timbullah penyakit maag.

Faktor lainnya adalah terlambat makan dan kebiasaan jajan. Mungkin kita punya pekerjaan yang super penting sehingga tidak punya waktu untuk makan. Dan penyebab sebenarnya dari terlambat makan adalah psikologis. Kebiasaan jajan atau makan makanan cepat saji juga memicu penyakit maag. Umumnya makanan cepat saji (fast food) merupakan makanan yang tinggi karbohidrat dan rendah serat. Bahkan ada makanan cepat saji yang mengandung bahan yang berbahaya bagi tubuh. Contohnya, makanan yang digoreng. Selain kandungan minyaknya tinggi, bila tidak diolah dengan benar -misalnya penggorengan dengan minyak yang sama lebih dari tiga kali penggorengan- maka akan menimbulkan zat pemicu kanker pada makanan itu. Apalagi jika pedagangnya menggunakan minyak jelantah yang sebenarnya sudah tidak boleh lagi dipakai. Selain itu, fast food juga sering mengandung pengawet, penyedap, pewarna, pengental, dan bahan-bahan kimia tambahan yang tidak baik bagi sistem pencenaan.

Satu-satunya solusi bagi orang yang terjangkit penyakit maag adalah menjaga psikis dan memperbaiki pola makan. Cari ilmu tentang bagaimana mengatasi stress dan depresi. Dan back to nature, usahakan agar makanan yang dikonsumsi memang benar-benar baik bagi tubuh, makanlah pada waktunya, dan jika memungkinkan usahakan berpuasa secara berkala. Untuk resep jus buah bagi penderita maag, buah pisang cukup baik untuk mengurangi asam lambung. Berikut resepnya :

Shake Pisang
Bahan :
· Pisang ambon 100 gr
· Susu segar ¼ gelas
· Madu 1 sdm
· Es serut halus ½ gelas

Cara Membuat :
1. Campur semua bahan, lalu blender
2. Hidangkan segera
(untuk 1 gelas)

Semoga bermanfaat !

NB : Insya Allah pada waktu lain, saya akan menuliskan tentang bagaimana menangani depresi dan stress.

Friday, August 24, 2007

Sakit ??? Back to Nature !

Ketika kita menderita sakit, maka hal apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita ? Jawabannya adalah OBAT. Sakit gigi, sakit kepala, sakit perut, sepertinya sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Tahukah Anda, bahwa obat-obatan yang Anda konsumsi hanya menghilangkan gejala-gejala itu dan jika Anda sering mengkonsumsi obat-obatan tersebut, maka sisa bahan kimia yang terkandung dalam obat akan mengendap di ginjal Anda. Obat-obatan ringan yang sering kita beli di warung ternyata punya efek yang cukup signifikan terhadap tubuh kita. Padahal, jika kita mau menilik penyakit-penyakit ringan yang kita alami, seringkali penyebabnya adalah diri kita sendiri.

Misalnya sakit gigi, sebenarnya itu terjadi karena kita memelihara kebiasaan buruk yang merusak gigi kita sendiri, apa kebiasaan buruk itu ? Jawabannya, malas sikat gigi. Padahal mulut kita sudah terasa gerah, dan rasanya ketika mengucapkan sesuatu ada bau yang tidak enak keluar dari mulut kita. Contoh lainnya, sakit kepala dan sakit perut. Menurut hasil penelitian, sakit kepala seringkali disebabkan oleh psikis dan emosi (kecuali sakit kepala yang disebabkan oleh cidera kepala). Ketika kita depresi dan emosi memuncak dalam menghadapi suatu masalah, maka hal itu akan sangat berpengaruh pada fisik kita. Tidak hanya akan menyebabkan sakit kepala, jika sudah sampai pada titik tertentu maka stress bisa menyebabkan gangguan metabolisme tubuh, gangguan sistem peredaran darah, gangguan tidur, diare, sakit perut, bahkan tekanan darah tinggi.

Dalam hal lain, gangguan pencernaan misalnya, seringkali disebabkan oleh pola makan kita yang salah. Seiring kemajuan teknologi, makanan semakin beragam baik dalam hal rasa, penampilan, maupun penyajiannya. Proses pengolahan makanan pun makin beragam, dari proses pewarnaan, pengawetan, penambahan bahan-bahan lain. Hasilnya, makanan pun lebih menggugah selera, nyaman untuk dikonsumsi dan cepat saji, praktis pula. Fast food umumnya mengandung gula dan lemak tinggi, tapi seratnya rendah. Dan jika kebiasaan mengkonsumsi fast food tidak diimbangi dengan sayuran dan buah segar sebagai sumber serat dan antioksidan alami, maka akan muncul berbagai macam penyakit pencernaan. Mulai dari penyakit maag, diare, obesitas, konstipasi, bahkan sampai kanker usus. Apalagi kalau pola makan tersebut ditambah dengan kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, dan kurang olahraga. Lengkap sudah sarana penyakit untuk bercokol dan membuat sarang di tubuh ini.

Alangkah baiknya jika kita mengkaji kembali, apa sih yang sudah saya konsumsi ? Apa saya memang sering stress belakangan ini sehingga saya sulit tidur dan sering sakit kepala ? Apa saya memang jarang sikat gigi sehingga gigi saya penuh dengan karang gigi ? Kita sendiri lah yang bisa menjawabnya. Jargon yang sedang tenar disebarkan saat ini adalah ”Back to Nature”. So, kita bisa mengkonsumsi buah dan sayuran segar untuk menetralisir racun dalam tubuh kita yang berasal dari makanan-makanan fast food. Selain itu buah dan sayuran juga bisa mencegah berbagai penyakit dan bisa menyegarkan tubuh sehingga aktivitas penting kita tidak terganggu oleh berbagai keluhan penyakit. So, let’s back to nature...! ;)

NB : Insya Allah dalam waktu dekat akan saya tuliskan resep jus buah dan sayuran untuk berbagai penyakit. Semoga bermanfaat.

Saturday, August 18, 2007

Memaknai Kemerdekaan

Allaahuakbar, laailaahaillallah, muhammadurrasuulullah, merdeka !!!

Berbicara tentang kemerdekaan negeri, telah enam puluh dua tahun lamanya kita menikmati kebebasan dari para penjajah bangsa ini. Terlepas dari permasalahan negeri ini yang telah lama merdeka, saya lebih tertarik untuk mengutarakan kemerdekaan diri. Ketika kita berbicara tentang kemerdekaan diri, mungkin sebagian besar dari kita masih mengernyitkan dahi. Sudah merdekakah diri ini ? Sudah bebaskah diri ini dari segala bentuk penjajahan ? Hanya pribadi kita masing-masing yang bisa menjawabnya.

Dalam memaknai kemerdekaan, menurut saya sederhana saja. Kita perlu mengkaji kembali kemerdekaan diri kita sendiri. Masihkah kita terkungkung dan sulit keluar dari keterpurukan diri ? Jika kita melihat lebih dalam, meresapi, dan mau jujur, jangan-jangan diri kita belum merdeka... ?
Wallahua'lam bishawab.

Friday, August 10, 2007

Masa Lalu T'lah Berlalu

Semua yang lalu telah berlalu. Aku telah meninggalkan masa lalu, tentu saja. Tapi, entah mengapa, ada kenangan masa lalu yang tak terlupakan. Kenangan pahit, pun kenangan manisnya.

Mengingat masa lalu, seperti kembali pada semangat yang dulu pernah begitu membara, semangat yang memuncak, hingga diriku sepertinya berada di kesadaran yang sangat…. Mengingat masa lalu, adalah juga mengingat kesedihan, kepiluan, kekecewaan, harapan-harapan lama, kesepian, perjuangan. Namun, ternyata, hal yang sulit itu….. berlalu juga. Ternyata, hal yang menyesakkan dada itu, berlalu juga.
Masa lalu, tidak boleh kita tinggalkan begitu saja, meski kita memang perlu beranjak darinya, tak perlu berlama-lama. Masa lalu, adalah tempat kita bercermin, tempat kita belajar, tempat kita menguak misteri diri kita sendiri, tempat kita mengenang… suka dan dukanya, meresapi kembali… berbagai perasaan yang muncul kala itu, dan lain sebagainya.

Ya… bagaimana pun masa lalu tak kan pernah kembali. Masa lalu adalah hal yang paling jauh dari diri kita. Walau masa lalu itu bernama "satu detik yang lalu", tetap saja kita tak bisa mengembalikan masa itu, tetap saja masa itu sudah berlalu. Semoga, ketika diri ini mengenang masa lalu, hanya pelajaran dan hikmahlah yang bisa diambil darinya. Bukan kesedihan, kekecewaan, dan keputusasaan yang mematikan masa depan. Amin.

Friday, August 03, 2007

Senja... Aku Malu

Duhai matahari senja...
Aku malu padamu
Engkau senantiasa menerangi bumi
Tanpa keluh kesah
Tanpa rasa bosan mendera

Engkau pulang dengan indah
Menyisakan kesan lembut nan manis
Hingga ku harap bersua kembali
Esok sore

Duhai matahari senja
Sungguh diri ini malu padamu
Menerangi diri sendiri pun tak mampu
Sejenak tercahayai, jenak kemudian redup kembali


NB : Duh, saya malu sekali sama energi matahari yang tak pernah pudar. Senantiasa menyinari sekitarnya tanpa henti. Ya, walau memang semangat manusia ada kalanya redup. Semoga cepat tumbuh kembali. :)